Pemain Lama


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada halaman bisnis dan teknologi pada tanggal 08 juni 2009

KETIKA pengusaha baru harus membayarkan uang sewa lokasi disebuah pusat perbelanjaan yang baru dibangun dengan jumlah yang mahal, ada perusahaan retail terkenal yang diberikan tempat dengan gratis oleh pemilik gedung pusat perbelanjaan tersebut.
Tawaran gratis itu karena diyakini bahwa perusahaan terkenal itu akan mendatangkan pengunjung lebih banyak lagi ke gedung tersebut. Dengan banyaknya pengunjung, tentu gedung pusat perbelanjaan itu menjadi ramai dan banyak transaksi sehingga menghidupkan pedagang-pedagang lain yang lebih baru karena sudah diharuskan membayar sedikit lebih mahal.
Ketika para pebisnis pemula sulit mencari pinjaman, para Pemain Lama malah dikejar-kejar oleh pihak Bank agar mereka meminjam dari Bank tersebut.
Ketika para pebisnis pemula membayar transaksi didepan sebagai jaminan, para Pemain Lama mendapatkan kemudahan pembayaran dengan waktu yang cukup tanpa jaminan apapun.
Ketika para pebisnis pemula mencari-cari pasar, para Pemain Lama malah diperebutkan. Pasar mengantri untuk mendapatkan para pemain lama.
Rasanya seperti ada kekuatan tersendiri yang dimiliki oleh Pemain Lama ini sehingga mereka mendapatkan kemudahan. Itu juga berlaku untuk tokoh-tokoh masyarakat. Lihatlah bagaimana mereka di’kedepankan’ ketika waktu memerlukannya.
Jadi, akhirnya sang waktu-lah yang mencatat siapa-siapa saja yang bertarung dalam arena laga serta siapa-siapa saja yang menang dan mampu bertahan.
Bagi para praktisi bisnis, tentu saja sering bertemu dengan para pebisnis yang lama bertahan serta merajai dunianya. Mereka-merekalah yang memupuskan harapan para pemula dibidangnya. Mereka-merekalah yang seolah-olah menjadi penguasa yang seolah-olah selalu mendapatkan kemudahan-kemudahan dibanding yang lainnya.
Sekadar menyamakan persepsi, biasanya pemain lama akan mendapatkan keutamaan atau kemudahan pada saat pemesanan. Pemain lama biasanya lebih dimudahkan dalam hal pembayaran. Mereka boleh kredit dengan waktu yang lebih lama. Pemain lama juga sepertinya mendapat kemudahan dari penguasa, seolah-olah lancar saja urusan perijinan dan segala hal yang berhubungan dengan penguasa itu.
Jika pemain lama adalah pesaing kita, merekalah yang membuat kita gemas dan penasaran, bagaimana bisa mereka selalu lebih mudah dalam persaingan? Bagaimana mereka bisa lebih?
Bagi Pemain Lama, saya harap tulisan ini bisa menjadi cermin untuk menjadikannya lebih baik lagi dan bagi pemula, saya pikir tulisan ini bisa menjadi inspirasi bagaimana bisa menjadi seperti mereka atau menemukan celah saat berkompetisi dengan mereka.

Keunggulan Pemain Lama
Terlahir lebih awal seperti layaknya berlari jauh sebelum tanda start dikibarkan. Terlahir lebih awal memberikan kesempatan yang lebih banyak. Tentu saja semua kelahiran, tumbuh dan membesar adalah sebuah proses yang tidak mungkin terhindar dari segala kesulitan dan pembelajaran.
Mereka-mereka yang saat ini besar karena sudah menjadi pemain lama, juga menghadapi tantangan yang sama seperti para pemula yang hadir diwaktu berikutnya. Pasti mereka juga melewati masa krisis, masa sulit dan semua hambatan dalam perjalanannya.
Kini setelah para pemain lama berhasil melawan dan mengalahkan rintangan-rintangan itu, mereka muncul menjadi lebih kuat dan lebih tangguh.
Para Pemain lama, jelas memiliki pengalaman yang mumpuni terhadap segala kemungkinan-kemungkinan yang biasanya terjadi. Ibarat supir bus, sopir bus yang lama pasti lebih mengenal jalan yang dilewatinya. Lebih tahu dimana ada lubang dan segala belokan berbahaya.
Para Pemain lama berpotensi memiliki sumberdaya yang lebih banyak serta lebih lengkap yang menjadi daya saing yang unggul.
Para Pemain Lama sudah menabung hubungan baik dengan banyak pihak. Jaringan terbentuk kesemua sektor dilingkup bisnisnya, dari pemasok, pendukung serta pembeli sekalipun. Jaringan itu menjadi lebih sulit ditembus karena kerekatannya terjalin diantara sesama pemain lama.
Para Pemain Lama sudah menanamkan kesan baik dalam pencitraan sehingga tingkat kepercayaan publik jauh lebih besar.
Layaknya berdiri di puncak bukit, semuanya terlihat indah, berpandangan jauh serta tidak lagi sesulit mereka-mereka yang sedang mendaki. Tetapi mendaki adalah kewajiban sebelum sampai puncaknya itu.

Potensi Kelemahan Pemain Lama
Tiada yang sempurna di dunia ini. Demikian juga dengan mereka-mereka para Pemain Lama. Ada saja kekurangan-kekurangan yang menempel di diri mereka.
Pemain Lama yang tiada memiliki pembaharuan, jelas seperti ‘barang lama’. Mereka bisa menjadi usang dan tidak lagi menarik. Untuk berkompetisi dengan Pemain Lama yang demikian, bermainlah dengan inovasi dan perbedaan serta ‘nilai-nilai baru’.
Pemain Lama belajar dari hal-hal lama. Termasuk strategi yang dianut juga strategi lama yang tidak lagi pas untuk menyelesaikan permasalahan masa depan. Bersaing dengan tipe pemain lama ini, harus dengan memahami apa yang terjadi pada hari ini. Karena hari ini adalah hasil masa lalu dan hari ini adalah penyebab masa depan.
Pemain Lama yang tidak mempersiapkan pemimpin masa depan, ibarat mempertinggi tempat untuk jatuh. Biasanya mereka akan terjerembab pada generasi kedua atau generasi ketiga. Ini banyak ditemukan di bisnis-bisnis keluarga. Bersaing dengan tipe Pemain Lama ini cukup mudah karena hanya waktu yang akan menyelesaikannya. Biarkan saja kebodohan para pendahulunya yang tidak mempersiapkan pemimpin berikutnya.
Pemain lama bisa menjadi sombong serta mengacuhkan anak-anak muda. Ingat bagaimana kalangan bankir terbahak-bahak mendengar ide mesin ATM yang disampaikan anak muda? Kini lihatlah, mesin ATM justru sangat mendukung bisnis perbankan. Ingat bagaimana para ahli jam senior di Swis yang melecehkan ide pembuatan jam digital yang disampaikan oleh anak muda? Kini lihatlah akhirnya jam digital beredar luas di seluruh penjuru dunia. Atau mungkin pemain lama sudah semakin dewasa, sehingga terlalu banyak berfikir dan menimbang, sehingga kecepatannya melemah?
Yang pasti, bagaimana orang lama dengan pikiran lama bisa menyelesaikan masalah kedepan?

Konsultasi & Pelatihan; Tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »