Belajar dari Geliat bisnis diantara Penerbit Koran hingga Pembaca


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 31 agustus 2009, pada halaman bisnis dan teknologi


SURAT kabar yang anda baca ini sudah melawati setidaknya tiga hingga empat tangan. Mereka bekerja saat gelap malam begitu pekat sehingga saat anda terbangun pada pagi harinya bisa langsung membaca berita.

Mereka adalah pihak penerbit, pihak agen utama, sub agen lalu pengecer atau pengantar koran. Mereka adalah pasukan elit yang jarang terlihat tetapi begitu penting untuk kelangsungan hidup penerbitan. Bisnis ini begitu khas dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi mengingat di Indonesia, konon pembeli pengecer lebih banyak daripada yang berlangganan.

Ada hal yang aneh tetapi nyata dalam mata rantai bisnis ini. Dilihat dari tingkat kemudahan operasional, bisnis ini lumayan menyenangkan. Hanya memelukan rutinitas dan sentuhan hubungan personal yang baik. Untuk setiap produk yang lewat tangan agen utama, ada komisi sebesar 12 hingga 40 persen dari harga jual (tergantung kesepakatan masing-masing). Secara mudah agen tinggal mengalikan berapa ribu eksemplar, kali berapa jenis produk.

Yang menarik lagi adalah bahwa beban biaya produksi bukan tanggunganya. Agen sama sekali tidak memikirkan materi isi media tersebut yang pontang-panting dipersiapkan oleh tim redaksi. Pengeluaran untuk promosi pun ditanggung penerbit. Tinggal duduk menunggu dan membiarkan sistem bekerja sendiri. Orang-orang menyebutnya ini bisnis beresiko rugi sangat kecil sekali. Untuk kondisi tertentu, toh kalau barang dagangan tidak terjual, tinggal menumpuk dan akan diambil –return-- oleh prinsipal penerbitan. Tidak berlebihan, jika dikatakan bahwa dalam bisnis pers yang pertama-tama memperoleh keuntungan secara jelas adalah agen: perantara dalam bisnis pers.



Agen besar

Agen utama yang memonopoli distribusi koran atau produk cetak lain biasanya memiliki ’kekuasaan’ yang lumayan besar. Mereka menjadi penyalur resmi yang diakui dan ditunjuk oleh penerbit. Tak ada persyaratan umum atau khusus tentang siapa yang perlu diangkat sebagai agen atau bukan yang diberlakukan oleh grup penerbitan yang satu dengan yang lainya. Mereka yang menjadi agen, lebih karena dari kepercayaan dan karena hubungan masa lalu.

Kepercayaan karena bisa saja selama ini hubungan pembayaran tidak pernah bermasalah. Hubungan masa lalu, mungkin karena sudah berhubungan sejak lama. Konon penerbitan yang berjaya saat ini mempunyai sejarah yang panjang dan dengan cara begitulah pada awalnya.

Kalau dilihat dalam hubungan kerja. Agen utama membawahi beberapa sub agen. dalam hubngan kerja dan komando, sub agen tidak punya tanggungjawab kepada penerbit. segala macam perhitungan bisnis, laporan keuangan subagen dilakukan secara mandiri. Yang menarik adalah bahwa agen utama tidak bisa memonopoli sub agen. karena sub agen ini bisa saja berinduk kesatu atau lebih agen utama yang ada. Demikian juga pada tataran pengecer dibawahnya.

Posisi agen-agen ini sulit digeser atau digantikan karena mereka terlihat terlibat hubungan dalam waktu yang lama. Seperti hubungan agen utama dengan penerbit, hubungan sub agen dengan agen pun menyangkut yang namanya piutang. Jumlahnya bisa sangat banyak. Penerbit tak bisa semena-mena putus hubungan dengan agen, karena hal yang sama. Piutang hampir tak ada berhentinya, karena produk koran atau majalah terus menerus mengalir. Pola yang sama sampai ke pengecer yang selama ini banyak menggunakan sistem pembayaran dua-satu. mengambil dua kali, membayar satu kali.



Tumbuh bersama

Konsep membiarkan penerbit berjalan sendiri dan agen penyalur juga berjalan sendiri itu adalah system kerja yang tidak lagi tepat untuk situasi sekarang ini. Tingkat persaingan yang semakin tajam, bukan saja sesama penerbitan tetapi juga sudah ada koran online dalam bentuk e-papper atau web-online.

Kini semestinya harus ada sinergi diantara keduanya. Sebuah kerjasama yang positif dan membawa efek tumbuh bersama-sama. Penerbit sungguh tergantung ke pola distribusi yang dilakukan agen dan agen membutuhkan materi berita yang berkualitas. Penerbit bisa memanfaatkan agen yang memiliki jaringan langsung ke pelanggan. Dan semua kerjasama itu berpotensi saling membesarkan satu dan lainnya.

Masing-masing pihak selayaknya secara proaktif menawarkan dukungan untuk saling membantu. Misalnya agen memberikan imput dan saran tentang keluhan pelanggan atau pihak penerbitan yang membantu berpromosi bersama agen.

Langkah-langkah strategis dalam hal pelayanan pelanggan semestinya dikuasai secara prinsip oleh penerbit. Lalu taktik-taktik promosinya dilakukan bersama-sama. Tentu saja dalam hal bekerja bersama, pasti harus ada kontribusi dari masing-masing pihak. Jika ada salah satu pihak yang tidak mau berkontribusi, jelas itu akan mematikan semangat kerjasamanya.

Studi bersama bisa dilakukan demi peningkatan kinerja bisnis. Studi itu bisa berupa pemetaan potensi pelanggan. Studi efektifitas jalur distribusi. Studi efisiensi waktu pengiriman atau bahkan studi mengenai perilaku pelanggan dalam hubungannya dengan produk yang dipasarkan.

Sangat disayangkan jika koran yang terjual sangat bergantung ke isi materi beritanya. Semestinya harus ada cara agar penjualan tetap terjadi walaupun sesekali isi beritanya tidak sangat menarik atau bisa jadi sesekali ada salah cetak.

Mendasarkan pasar dalam format eceran sangat beresiko tidak terjual jika isi berita tidak menarik atau salah percetakan. Tetapi kalau pasar bertumpu kepada mayoritas pelanggan tetap, maka keluhan tersebut bisa diabaikan. Memiliki pelanggan tetap dalam jumlah mayoritas akan memudahkan bisnis, memudahkan sistem keuangan bahkan memudahkan pihak redaksi untuk memahami kehendak pembacanya.

Yang terakhir, bisnis serupa ini dalam bentuk yang lain jelas banyak sekali. Mungkin dengan mengenal pola binsis yang saya tuliskan, anda menjadi tersadar bahwa pola bisnis yang sama mungkin saja anda alami saat ini. Kini sudah saatnya saling berangkulan antara produsen dengan distributor, agar tujuan bersama segera terwujud. Memang produsen dan distributor memiliki filosofi dan cara yang berbeda dalam memandang sebuah bisnis, tetapi selama keduabelah pihak tidak saling memahami, pasti kerjasama tidak akan terwujud.



Konsultasi & Pekatihan, tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »