Memanfaatkan Usia Isue


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 10 agustus 2009 pada halaman bisnis dan teknologi.

KEMARIN dulu dunia Indonesia disibukkan dengan berita tentang mbah Surip. Lagu Tak Gendong bolak-balik dikumandangkan di radio dan televisi. Semakin heboh lagi ketika secara mendadak Mbah Surip meninggal dunia. Semua media massa seolah tanpa henti memberitakan kematian tokoh fenomenal ini.

Berita-berita tentang Mbah Surip menutup celah popularitas pemberitaan tentang kematian raja pop dunia Michel Jacson yang berhari-hari mewarnai pemberitaan sebagai besar media massa di Tanah Air.

Mulai Sabtu dini hari kemaren, semua pemberitaan itu terputus habis dan tergantikan dengan upaya Densus 88 Anti Teror yang menggrebeg sarang teroris di Bekasi serta drama pengepungan persembunyian gembong teroris di Magelang.

Media televisi nasional, media cetak dan radio serta media online secara umum memberitakan drama beberapa jam tersebut. Secara detail walaupun sebagian dari mereka menyebutnya sebagai breaking news.

Terlupakan

Semua isu dan berita itu silih berganti meminta perhatian publik. Kecepatan pergantiannya luar biasa cepat dan tanpa disadari.

Kini orang-orang di Sumatera Utara sudah tidak lagi ingat bencana banjir bandang di Bukit Lawang. Kita tidak lagi mendengar pakah semua pengungsinya sudah mendapatkan perumahan yang layak. Apakah masih ada yang tinggal dibarak-barak?

Kita sudah melupakan korban-korban angin ribut di Deli Serdang. Kita sudah lupa betapa dasyatnya tsunami di Aceh. Kita sudah mulai lupa hebohnya kenaikan harga BBM. Kita sudah lupa kisah kampanye Pemilihan Calon Legislatif yang menghajar semua pepohonan di jalanan. Kita sudah banyak lupa.

Kecepatan kita ‘melupakan’ apa yang terjadi memang karena kita adalah pihak-pihak yang diarahkan oleh media massa. Mereka membawa kita kepada informasi-informasi baru yang begitu cepat dengan kemampuan pengaruh yang luar biasa.

Kita cenderung menampung apapun yang diberitakan kepada kita hingga akhirnya kita menjadi overcommunicate. Dalam bahasa sederhana kita menjadi tidak sensitif dan kelebihan data sehingga kita cenderung menolak data-data baru.
Overcommunicate

Coba perhatikan. Apakah akhir-akhir ini anda pernah membaca sampai habis kata-kata dalam kemasan makanan yang anda santap? Apakah anda masih sempat membaca spanduk disimpang-simpang jalan? Apakah anda masih sempat membaca hingga habis brosur promosi yang anda terima?

Saya yakin sebagian besar dari kita menjawab ‘tidak’. Itu terjadi karena memang kita sudah terlalu lebih menerima informasi. Konon, dalam 1 detik gambar bergerak di tivi adalah merupakan sambungan dari 7 buah gambar yang diputar beruntun. Lalu, jika kita membaca koran dengan jumlah lebih 34 halaman, kita membutuhkan waktu lebih dari 28 jam untuk bisa menyelesaikannya. Itupun harus dengan kecepatan membaca yang tinggi diatas rata-rata.

Impactnya adalah, bahwa iklan yang benar adalah berusaha mencuri perhatian publik yang sudah sedemikian komplek arus informasinya. Iklan dan reklame yang biasa pasti langsung dilupakan. Iklan yang biasa dalam bentuk, format, gaya, isi dan modelnya tentu akan tersingkirkan begitu saja –kalah sebelum bertanding--.

Usia Isu

Pada saat orde-baru, seingat saya rata-rata usia isu akan melemah pada hari ke 90. mulai meledak pada minggu-minggu pertama dan mulai mereda pada rata-rata minggi ke tiga dan ke empat. Sehingga jika seseorang atau satu bisnis digosipkan, biasanya itu akan terlupakan secara otomatis pada bulan ke empat.

Kini lama isu tersebut sangat bisa sepanjang itu, kecuali kasus-kasus yang berhubungan dengan hukum yang memang memakan waktu lebih panjang dari kasus umum lainnya. Untuk berita yang lain, biasanya usia pemberitaan jarang lebih dari empat minggu. Bahkan banyak yang sudah terlupakan pada minggu ke tiga.

Tentu saja ini menjadi pertimbangan yang sangat penting bagi para praktisi bisnis yang ingin memanfaatkan usia isu. Isu promosi yang kita iklan-kan tanpa kekuatan yang sangat besar pasti akan hilang terlupakan pada minggu ke 3.

Tentu saja, kekuatan isu promosi akan bertahan dalam perhatian/pikiran publik itu sangat tergantung kepada isi isu-nya sendiri. Semakin aneh dan menggelitik, biasanya akan segera mendapat respon positif dari publik.

Selain isi, isu yang bisa bertahan lama biasanya dikomunikasikan melalui berbagai media. Semakin banyak jenis media, semakin serng disebutkan, dan semakin banyak jumlah persebarannya, maka perjalanan isu promosi semakin baik.

Memperpanjang usia isu

Layaknya sebuah cerita bersambung, isu promosi bagusnya juga disetting untuk bisa bertahan lama. Semakin lama isu bertahan, tentu harapan sukses penyampaian promosi semakin besar.

Kini iklan yang bersambung juga semakin banyak beredar. Baik berupa sambungan langsung dari setting kisah yang terputus atau merupakan iklan dengan pola yang hampir sama dengan pendahulunya.

Semoga anda ingat, salah satu produk kecantikan menghadirkan sebuah kisah tentang perjuangan seorang perempuan muda melawan tirani yang dilakukan oleh ibu kandung cowoknya. Dimana perusahaan ibu itu akan menggusur semua areal publik untuk sebuah bisnis dan resort area, hingga akhirnya pohon terkahir yang dipertahankan sepenuh hatinya.

Kisah bersambung dengan satu tema adalah ketika sebuah perusahaan telekomunikasi menggunakan kesebalasan papan atas dari eropa untuk promosinya. Mereka memanfaatkan kunjungan klub ini yang akan melawan kesebelasan pilihan dari Indonesia. Salah satu ‘jembatan’ yang digunakan untuk menghadirkan ke-Indonesiaan pada para pemain klub asing tersebut adalah manakala mereka membuat iklan berisi pelajaran berbahasa Indonesia kepada para pemain asing tersebut.

Kata-kata ‘Ini Budi...” sangat indonesia. Dimana sebagian besar dari kita mulai melek huruf dengan kata-kata itu. Saya sangat senang dengan ide kreatif tersebut. “Budi bermain bola”.

Hingga akhirnya terorisme membatalkan kunjungan dan pertandingan persahabatan itu. Lagi-lagi saya salut dengan pemilihan pesan/isu dari pihak pengiklan agar usia promosinya terus berlanjut. Meraka membuat billboard dengan latar belakang warna hitam –warna duka/berkabung—dan menuliskan pesan, “Budi, tetaplah bermain bola”.



Pelatihan & Konsultasi; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »