Bahasa dan Transaksi

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 05 oktober 2009, di halaman bisnis dan teknologi.






”BU, berapa harga batik yang ini?” tanya seorang pembeli dengan logat Medan kepada seorang penjual kain di Pasar Bringharjo, Jogjakarta belum lama ini. Ibu penjual tadi menjawab, ”Silahkan mbak, hanya seratus enam puluh saja kok, murah...!”. Selanjutnya terjadi tawar menawar yang cukup alot dan harga finalnya adalah seratus dua puluh lima ribu rupiah.

Sedikit iseng, saya mendekati ibu penjual lagi dan bertanya sambil menunjuk batik yang persis ditawar oleh orang berlogat Medan tadi, ”Mbak yu, batik niki pinten reginipun njih?” (kak, batik yang ini berapa harganya ya?) lalu ibu penjual itu menjawab, ”Nek niku njih namung sangang ndoso gangsal mas!” (kalau itu ya hanya sembilan puluh lima ribu rupian, bang). Kaget sekali saya dengan jawaban itu. Saya lanjutkan menawar dan berakhir di angka tujuh puluh lima ribu rupiah.

Pengalaman serupa terjadi di Pasar Baru, Bandung. Saya bertanya ”Bang, baju ini berapa harganya ya? Saya mendapat harga yang bernilai enam puluh ribu lebih mahal dari kawan saya yang memulai bertanya dengan bahasa sunda, ” Kang, sabaraha hargi acuk ieu?”

Kisah serupa ketika berbelanja di Pasar Atas Bukittinggi, ”Bara harago sajadah iko uda? (Berapa harga sajadah ini bang?) Tanya seorang kawan yang fasih berbahasa minang, dan dijawab ”Murah sey nyo, cuma tigo puluah limo ribu rupiah” (murah saja kok, hanya tiga puluh lima ribu rupiah saja) Sementara wisatawan yang tidak berbahasa minang, mendapat sedikit perbedaan harga yang lebih mahal.

Inang, sadia sakilo mangga muna on? (Bu, berapa harga sekilo mangga ini?) Tanya seorang kawan bermarga Simanjorang saat mau membeli mangga di sudut kota kecil Parapat, dan dijawab ianng penjual mangga itu, "Mura do... Holan sapulu dua ribu ito!" (murah saja... hanya dua belas ribu rupiah saja), lalu kini sementara wisatawan lain yang tidak berbahasa Batak mendapatkan harga rata-rata delapan hingga sepuluh ribu diatas harga tadi.

Transaksi yang sama di pasar Buah Berastagi, untuk rekan yang berbahasa karo “Sekai erga manggandue nande?” Dia menadapat jawaban, ”Morah ngenca, pitu ribu lima ratus”. Harganya hanya tujuh ribu limaratus rupiah. Untuk yang tidak berbahasa daerah ini, biasanya akan mendapatkan harga yang lebih mahal tentunya.

Kisah-kisah tersebut diatas mengingatkan saya kepada perihal yang serupa di Pajak Krueng Geukueh, aceh utara, sekitar 15 km dari lhokseumawe. Pertanyaan yang sederhana, “Padub kupie nyo Nyak? “, jawabannya, “Murah mathong, nyan duablah ribe” (dua belas ribu rupiah saja). Sementara kawan yang baru datang dari jawa mendapatkan harga yang lebih mahal.



Bahasa dan persamaan

Ternyata ada perasaan sama begitu seseorag menggunakan bahasa yang kita gunakan. Ada perasaan senasib dan merasakan solidaritas teritorial yang semakin mendalam.

Persamaan dalam bernegosiasi menjadi hal sangat penting. Karena persamaan menuju pintu kepercayaan dan pintu kepercayaan membuka gerbang keyakinan. Kalau seseorang sudah yakin, saya pikir semua hal akan menjadi mudah dan lancar.

Penjual-penjual tadi, begitu mendengar bahasa pembeli yang tidak seperti bahasa kampungnya pasti langsung merasa bahwa tamu yang dlayaninya adalah orang lain, orag jauh yang tidak sering kali datang. Artinya, ada perasaan berani untuk sedikit tega memberikan harga yang lebih tinggi guna mendapatkan keuntungan yang lebih. Banyak orang berfikir bahwa para pembeli itu, mereka adalah wisatawan yang sesekali saja datang dan tidak setiap waktu akan datang lagi.

Inilah fenomena umum di daerah kunjungan wisata. Karena keyakinan bahwa seseorang tidak akan datang setiap hari, maka harga pun dipatok tidak wajar. Bukan hanya objek tujuan wisata, tetapi pos-pos seperti terminal, stasiun, bandara dan pelabuhan saja sudah mengindikasikan mahalnya harga-harga.

Sebuah pola pikir mencari keuntungan sesaat yang berpotensi merusak citra daerah/lokasi tersebut. Hingga orang-orang akan menganggap bahwa daerah tersebut adalah daerah mahal.



kepastian harga

Dewasa ini, semakin jelas bahwa kemampuan menawar tidak dimiliki oleh banyak orang. Generasi muda penghuni perkotaan hari ini, cenderung tidak lagi pernah menawar jika ingin memberli sesuatu, karena mereka terbiasa berbelanja di supermarket yang harganya sudah pasti tanpa ada proses tawar menawar. Jangankan menawar, orang-orang kini bahkan berbelanja tanpa bercakap sama sekali, kecuali ucapan terimakasih dari petugas kasir pada saat membayar yang hanya dibalas dengan senyum sederhana dari pembelinya.

Jumlah orang-orang yang tidak pandai menawar semakin hari semakin besar dan sudah pasti mereka akan berusaha menghidari pasar tradisional yang tidak memberikan harga pasti.

Ini tantangan menarik bagi pengelola pasar tradisional dan pedagang yang masih tidak juga menggunakan pola harga pas dan tidak menyebutkan atau menunjukkan daftar harganya kepada publik.

Kepastian harga adalah jaminan bagi pembeli dan dengan jaminan itu, rasa percaya kepada penjual akan bertambah naik. Bagi sebagian penjual, kepastian harga kadang dianggap sebagai upaya membocorkan rahasia dari lirikan pesaing serta menutup peluang untuk mendapatkan keuntungan berlipat jika bertemu dengan pembeli yang ’bisa dikerjain’.

Kepastian harga saat ini itu menjadi sangat penting, karena jelas akan menghemat waktu, menghemat energi dan mempercepat pelayanan.

Yang terkahir, selain faktor kepastian, faktor persamaan diatas memang nyata adanya. Jadi memiliki karyawan bagian pelayanan dan penjualan dari berbagai latar belakang budaya, biasanya akan memberikan keuntungan kepada kita. Tentu saja, semua pasar dari berbagai eknik bisa dihandel oleh pegawai –pegawai tersebut.

Perihal bahasa ini, mengingatkan saya ketika berbelanja sendal jepit di Gorontalo, kami harus membayar sepasang sendal dengan harga sebelas ribu rupiah, tidak seperti kawan yang bisa berhasa daerah itu, “Barapa ini na'ale ini uwti? Yang dijawab penjualnya “Cuma murah uwti, bo wopato lihu limolo hetuto” (hanya empat ribu lima ratus rupiah saja)





konsultasi & pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »