Bidik Pasar Ala Garuda

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 28 september 2009, pada halaman bisnis dan teknologi





KUETIAW daging sapi ini terasa amat lezat. Disajikan hangat dengan cara olahan yang khas. Tekstur daging sapinya lembut dan mirasa. Dressing-nya campuran saus Barbeque dengan sentuhan oriental.

Makan siang dengan menu kuetiaw daging sapi kali ini serasa seperti sedang menikmati fine dining di restoran Italia pemenang Michelin Star di sudut kota Brusell. Tak lupa hidangan penutup berupa es krim dalam skoop kecil, segar dan lembut menggoda. Petualangan kuliner ini menjadi lengkap dengan secangkir Kopi panas dan krimer yang tepat takarannya.

Mungkin sedikit berlebih, tetapi saya sungguh mendapatkan kenikmatan makan siang itu di pesawat GA 186 dari Jakarta ke Medan akhir pekan lalu. Kualitas makanan dalam kemasan mini itu sungguh tidak mengecewakan. Betapa penerbangan ini tidak salah memilih penasehat kuliner seorang William W.Wongso, seorang ahli kuliner yang sering berkelana keliling dunia menikmati dan mengekplorasi sajian-sajian berkelas.

Bukan sedang menyanjung penerbangan pembawa bendera negara ini, tetapi selain makanan, banyak fasilitas lain yang memudahkan pelanggannya, Mulai dari sebelum check-in, selama penerbangan hingga sesudah penerbangan. Walaupun itu terjadi pada saat super sibuknya arus mudik.

Semua orang percaya, bepergian pada saat musim mudik tidaklah nyaman, akan persis seperti di berita-berita televisi. Sebegitu hebohnya, hingga konon dalam waktu 2 minggu sudah tercatat lebih dari 450 orang meninggal dunia karena kecelakaan dalam perjalanan mudik. Belum lagi kesan berdesakan, berebut kursi, suasanan pelayanan sarana publik yang berengsek, tingkat kejahatan yang meninggi, macet, emosi dan berbagai hiruk pikuk perjalanan mudik lainnya.

Kembali kepada penerbangan tadi, jelas semua orang tahu, harga tiket yang di patok biasanya masih lebih mahal dari rata-rata yang diberlakukan oleh penerbangan lain, tetapi mengapa orang masih memilih Garuda ini? Ternyata ada pasar yang tidak sensitif dengan harga. Siapa tahu, anda sebenarnya berpotensi mengelola pasar yang ini, persis seperti pasarnya Garuda Indonesia.



Nilai

Kepergian saya meninggalkan kota Medan seminggu sebelumnya menggunakan Garuda Indonesia dengan pesawat jenis Boing 747-400. untuk memudahkan ingatan anda, pesawat ini memiliki ruang kabin bertingkat dengan daya angkut penumpang yang sangat banyak. Saya sendiri heran, untuk penerbangan domestik, Garuda menggunakan pesawat sebesar ini, artinya penumpangnya banyak dan bisnis sedang cukup baik tentunya.

Perjalanan ke Jogja dari Jakarta masih menggunakan maskapai yang sama dengan jenis Boing 747-800, pesawat yang relatif baru yang juga penuh penumpangnya. Lalu saya secara iseng bertanya kepada sekitar 8 orang yang saya temui dalam penerbangan tadi. Berikut alasan mereka mengapa mereka memilih penerbangan yang ‘mahal’ ini.

Saya coba rangkumkan secara sederhana dari pendapat mereka, yang pertama, mereka percaya bahwa maskapai ini kredibel dan profesional. Keyakinan itu begitu mendalam sehingga mereka mempercayakan perjalanan dan mungkin keselamatan nyawa-nya kepada maskapai ini.

Yang kedua, nyaman dan terjamin dalam layanan. Tingkat keterlambatan yang terus rendah. Kualitas layanan yang semakin baik. Mereka merasa yakin, jika mengeluh akan didengar oleh manajemen penerbangan.

Yang ketiga, dibanding yang lain cenderung lebih tepat waktu. Yang keempat, --ini menarik-- pelanggannya nggak rese, jadi terbiasa tertib hingga cenderung memudahkan pelayanan. Yang kelima, secara umum nilai yang didapat setimpal dengan uang yang dikeluarkan.

Saya ada mencatat beberapa komentar yang tidak saya klasifikasikan seperti; prestisius, menunjang gengsi, jatah perusahaan, rute dan waktu, serta pengaruh kawan-kawan seperjalanan.

Penasaran dengan komentar ke 8 orang yang saya temui, malam harinya saya menyebar pertanyaan kepada jejaring sosial saya melalui internet. Lagi-lagi, 70% responden memilih Garuda Indonesia untuk penerbangannya jika anggaran tidak menjadi masalah. Bukan tanpa keluhan, tetapi maskapai ini tetep menjadi top minded –menjadi urutan pertama dalam benak orang banyak--.



Peluang Bisnis Nilai

Lihatlah masih tetap ada banyak orang yang memilih nilai daripada harga. Lihatlah masih banyak orang yang tidak sekadar mau murah tanpa jaminan kualitas. Sadarilah bahwa diantara perang harga yang sering ditantangkan pesaing, masih ada pasar yang tidak menjadikan harga sebagai alasan utama.

Masih ada orang yang ingin merasa labih nyaman. Masih ada pasar yang ingin mendapatkan kemudahan, jaminan dan bantuan-bantuan. Jelas masih banyak orang yang ingin tampil prestisius, sehingga latar belakang transaksi yang dilakukanya sering menimbang faktor gensi.

Artinya, diantara sempitnya persaingan, mungkin kita harus tersadar, bahwa tidaklah kita harus ikuti semua pertempuran pasar. Tidak semua medan laga harus kita datangi, tidak semua persaingan harus kita ladeni. Karena ternyata jelas pasarnya masih ada hingga saat ini.

Penerbangan nasional Garuda Indonesia adalah salah satu bukti bahwa dimasa krisis seperti sekarang, masih ada orang yang memiliki uang serta mempunyai kekuatan beli dan yang lebih penting lagi adalah bahwa jumlah orang-orang ini tidak sedikit. Artinya, pasar dengan kemampuan beli itu jumlahnya banyak.

Indikator lain yang menunjukkan bahwa masih ada pasar ber-uang tersebut adalah tipe mobil yang mahal yang banyak berkeliaran di Kota Medan atau kota-kota lain di Sumatera akhir-akhir ini. Mobil-mobil impor itu berharga milyaran rupiah.

Indikator lain yang membuktikan bahwa pasar Sumatera masih potensial adalah bahwa hingga kini antrian untuk naik haji sudah penuh sampai tahun 2012, sementara kita tahu berapa biaya pendaftaran haji dan biaya untuk perjalanan ke tanah suci Mekah tersebut.

Konon, secara nasional pesawat telepon Blackberry beredar paling banyak di Kota Medan, artinya makin banyak orang memiliki kemampuan bayar dan peningkatan intelektual melalui dunia internet.

Sekarang, sambil memfokuskan pasar, kira-kira kemana lagi tujuan liburan berikutnya ya?



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com



Previous
Next Post »