E-Mail untuk Promosi

tulisan ini sudah di terbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 07 september 2009 pada halaman bisnis dan teknologi



ELECTRONIC mail atau yang sering disingkat dengan e-mail adalah surat elektronik yang menggunakan jaringan internet. Prosesnya hampir sama dengan surat biasa, yang membedakan adalah bahwa e-mail tidak perlu perangko, tidak perlu di cetak, tidak perlu anvelope dan bisa diterima oleh alamat tujuan dalam hitungan detik. Kemudahan dan kecepatannya membuat e-mail menjadi keharusan bagi para pemakai internet.

Sebelum lebih lanjut, saya memohon maaf kepada para pembaca yang belum ramah dengan internet, karena topik ini akan mudah dipahami bagi mereka yang sudah melakukan aktifitas menggunakan e-mail.

Baiklah, e-mail itu langsung tertuju kepada orang tertentu, artinya tingkat efektifitasnya lebih tinggi. Ibarat menelepon ke Handphone yang langsung dijawab oleh pemiliknya dari pada menelepon ke nomor rumah yang dijawab oleh siapa saja sebelum orang yang benar-benar kita tuju. Karena sasarannya personal, maka email menjadi cukup efektif untuk menyampaikan pesan-pesan pemasaran.



E-mail marketing

Media komunikasi apapun yang digunakan untuk berpromosi, tidak boleh mengabaikan profil karakter penerima pesannya. Berbicara mengenai perilaku penerima e-mail, secara umum juga persis seperti penerima surat biasa, mereka akan medahulukan surat-surat personal yang penting, surat-surat tagihan dan baru kalau ada waktu membaca surat promosi.

Orang pasti akan memilih mendahulukan membaca surat yang mana jika yang datang setumpukkan jumlahnya. Orang pada akhirnya mau menerima pesan-pessan sejauh cocok dengan pikiran dan perasaannya. Orang juga tidak suka dengan Spamming (tindakan mengirimkan email kepada ribuan orang yang tidak meminta). Masalahnya adalah, semakin banyak orang menerima e-mail, semakin sedikit mereka menaruh perhatian pada masing-masing isi e-mail tersebut.

Maka untuk tampil beda, para pemasar online harus berupaya untuk menarik perhatian dari para tagetnya. Argumen salah yang sering dikatakan adalah: "Jika saya berteriak lebih keras dan lebih sering, pasti para calon pelanggan akan mendengarkan saya." Kalau sekadar terdengar memang betul, tetapi terdengar bukan berarti didengar. Apa reaksi mereka dan tanggapan mereka terhadap banjir e-mail tersebut? Apakah mereka akan senang? Atau sebaliknya mereka akan mengatakan dengan mengirim e-mail balik “Keluarkan aku dari daftar e-mail Anda dan jangan kirimi lagi!"



5 kaidah

Lima hal berikut ini adalah poin-poin penting yang harus dihindari pemasar via e-mail. Pertama e-mail promosi yang bertele-tela. Beberapa e-mail promosi cenderung bertele-tele, dengan penyampaian yang tidak langusng ke tujuannya. Hal ini menyebabkan penerima harus melakukan “scroll down”. Karena itu ingatlah bahwa e-mail Anda bukanlah satu-satunya e-mail yang sampai di inbox mereka, dan kata-kata Anda hendaknya singkat dan “to the point”.

Kedua e-mail promosi yang tidak fokus. Pemasar kadang berfikir serakah, mereka ingin semua-semua hal bisa disampaikan dalam satu lembar surat itu. Mereka tanpa diminta menawarkan sejumlah item atau produk atau pun jasa dan tidak fokus pada satu inti penawaran dan para penerima e-mail disuguhkan banyak pilihan item yang tidak mereka perlukan. Pesan yang tidak fokus akan membuyarkan perhatian penerima dan tidak memiliki daya tarik yang baik.

Ketiga e-mail yang terlalu Sering. Beberapa orang berdalih bahwa kunci untuk pemasaran e-mail yang berhasil adalah frekuensinya. Karena itu mereka mengirimkan email promosi sesering mungkin. Sebagian dari mereka berfikir bahwa dalam pemasaran tradisional agar pesan iklan Anda tetap diingat, Anda harus sering menampilkannya sesering mungkin. Dan dalam pemasaran offline, memang begitu seharusnya, namun pemasaran online sama sekali berbeda. Anda bisa bayangkan bahwa masyarakat sudah terlalu sering dibombardir dengan pesan-pesan komersial di TV, Radio, Reklame dan Koran, kemudian Anda membombardir mereka lewat e-mail. Akibatnya Anda akan mendapat reputasi buruk dan mereka akan melewatkan e-mail Anda begitu saja tanpa membacanya dan akan mengabaikannya di kemudian hari sewaktu menerima e-mail Anda pula.

Keempat e-mail yang salah alamat. Karena biaya mengirim promosi via e-mail dirasa murah, mereka lupa akan perlunya menerapkan strategi segmentasi dan membidik target market yang relevan. Akibatnya adalah para calon pelanggan Anda itu sama sekali tidak berminat dengan tawaran Anda. Coba bayangkan anda membuka salon keriting rambut di Papua. Apakah anda pikir akan banyak pelanggannya? Jelas tidak, karena mayoritas orang Papua berambut keriting.

Kelima e-mail promosi yang tidak menarik. Membaca teks surat yang ditulis dengan baik biasanya menyenangkan dan mudah dibaca. Untuk itu tulislah dengan jelas, sederhana dan penuh rasa hormat. Penulisan e-mail promosi yang buruk adalah rintangan yang besar bagi para penerima surat untuk menuangkan perhatian mereka pada e-mail yang Anda kirim.

Pastikan Anda memiliki teknik menulis yang baik, lakukan perenungan dan tidak tergesa-gesa. Jika perlu lihat contoh-contoh lainnya atau ajak pihak lain untuk membantu anda.

Inbox adalah tempat yang bersifat pribadi, dan di situlah Anda dapat menjumpai calon kastemer Anda dan berbicara dengannya secara individu. Maka apabila tulisan e-mail promosi Anda tidak menghormati kaidah di atas maka e-mail Anda tidak akan dibaca. Persis seperti sebuah proses menawarkan barang dagangan, prinsip bagusnya adalah jangan terlalu banyak meminta namun seolah-olah lebih banyak memberi. Pastikan penulisannya memiliki nilai yang bermutu bagi si penerima e-mail. Gunakan rasio isi e-mail 80% : 20% artinya 80% berisi hal yang berguna bagi penerima pesan dan 20% berisi penawaran Anda. Itu yang disebut dengan menghormati calon pelanggan yang telah dengan senang hati membuang waktunya untuk membaca pesan anda.



Media jejaring sosial lain

Sama dengan e-mail, saat ini banyak sekali media jejaring sosial seperti face book, friendster dan lain sebagainya. Tentu saja jejaring itu juga bisa dimanfaatkan untuk menjadi media promosi. Saya pikir prinsip kerjanya sama dan kaidah tersebut diatas juga cukup tepat diterapkan untuk media-media tersebut.





Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »