Kualitas dan Selera

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 26 oktober 2009, pada halaman bisnis dan teknologi.





TERNYATA Kualitas pada cara pandang tertentu bukan berarti harus yang terbaik. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan selera. Jelas berkualitas ini menjadi sangat subjektif dan kadang menggelikan.

Makanan bakso adalah salah satu makanan yang merakyat dan cukup terkenal seantero negeri ini. Bakso tidak saja menjadi sekadar makanan, tetapi juga gaya hidup. Saya rasa hampir semua pasangan pernah melalui masa pacaran di warung bakso. Kembali ke topik kualitas. Rasa-nya butir bola bakso yang berkualitas menurut sebagian besar orang adalah butir bola bakso yang tidak seratus persen berisi melulu daging. Butir bakso yang berisi seratur persen daging malah terasa aneh dan tidak selezat butiran bakso di kaki lima yang berisi lebih banyak tepungnya dibanding dagingnya.

Orang Sumatera sudah terlanjur turun temurun menikmati kopi yang tidak seratus persen kopi, tetapi yang sudah dicampur dengan jagung, beras, pinang dan entah campuran apa lagi. Bahkan konon campurannya itu mendominasi bubuk kopi itu, hingga kopi aslinya hanya 20 persen saja. Tentu saja pemunim kopi yang sudah biasa meminum kopi campuran, akan merasakan ketidak nikmatan kopi asli. Dalam hal ini, kopi campuranlah yang dianggap sebagai kopi berkualitas dan lezat rasanya. Kenyataan ini mengingatkan saya dengan istilah “Kopi krismon” yang beredar sekitar tahun 1998 hingga awal 2000. kopi ini terlihat hitam seperti kopi biasa, terasa seperti kopi biasa tetapi sungguh, tak sejumputpun ada kopi asli dalam racikannya. Hingga harga kopi krismon sangat murah dan terbeli oleh masyarakat pada saat krisis moneter melanda negeri ini.

Sesekali singgahlah ke Babutong di Simalungun sana. Disana ada pabrik teh yang ada sejak jaman kolonial. Disana ada produk teh berkualitas export yang konon disebut dengan BOP-1. Teh tersebut sangat nikmat, harum dan berwarna merah-coklat pada hitungan detik pertama sejak diseduh dengan air panas. Sayangnya produk ini tidak beredar dipasaran lokal.

Yang beredar dipasaran lokal adalah teh kelas urutan ke 4, 5 dan 6 bahkan 7 setelah BOP-1 tersebut. Bagi orang-orang yang belum pernah mencicipi BOP-1, jelas menyebut teh kelas bawah itu sebagai teh terlezat.

Pembaca yang budiman, terutama pencinta jengkol, pete dan durian. Bagi mereka-mereka yang menyenanginya, jelas buah diatas adalah buah terlezat yang mereka sebut sebagai berkualitas. Mereka sungguh mengabaikan unsur bau yang menyengat dan mengganggu.

Konon, bagi orang tertentu di eropa, keju yang terlezat bagi mereka adalah keju yang membikin kita muntah mendadak. Keju itu sudah busuk, berulat dan menciptakan aroma ‘mematikan’. Tentu bagi peminatnya, keju itu adalah keju berkualitas yang istimewa.

Bagi para pencinta tuak, muniman berwarna putih yang bermau (maaf) seperti kencing kuda itu jelas merupakan minuman berkualitas bagi penikmatnya.



Selera

Kalau sudah menyangkut selera, sepertinya tidak ada lagi cerita kualitas berdasarkan logika. Selera bukan matematika dan ilmu pasti. Artinya, produk yang berkualitas dalam konteks selera bukanlah harus sempurna secara logika.

Selera bisa memutar-balikkan pemikiran secara umum. Kewajaran logika dalam hal selera tidak lagi menjadi pautan wajib. Tidak hanya sebatas makanan dan minuman, tetapi apapun itu yang berhubungan dengan cita-rasa.

Sentuhan cita rasa dalam hal selera juga terjadi pada jenis koran yang dibaca, jenis mobil yang dipilih, bentuk rumah yang diidamkan, jenis sepatu yang dikenakan, hingga model pasangan yang cocok dihati.

Model tatanan rambut, jenis musik dang-dut atau jazz, hingga club sosial yang dipilih secara umum merupakan pilihan berdasar selera.

Meyakini bahwa kualitas dan selera bukanlah sesuatu yang harus sesuai logika, maka tidaklah kita harus tergopoh-gopoh untuk menciptakan atau merubah produk kita sesuai nalar logika kita. Apalagi jika produk kita sudah dikenal masyarakat dan cukup menjawab selera mereka.

Perubahan-perubahan yang mendadak atas produk berbasis selera, baik dari kemasan, isi dan cara penyajian akan menjauhkan kita dari pasar loyal yang sudah lama menjadi pelanggan kita.

Yang perlu diingat adalah bahwa anda itu bukan produk anda. Jangan paksa produk anda menjadi apapun sesuai dengan selera anda. Misalkan sekarang anda pencinta Jazz, bukan berarti anda tidak bisa mencari makan dengan musik dangdut. Ketika anda mendadak lebih senang memakan hidangan eropa, bukan berarti warung nasi minang anda harus diganti dengan makanan eropa.

Ingat berkualitas dalam hal selera bukanlah hal-hal logis yang dipaksakan.



Merubah selera

Selera umumnya terbentuk karena kebiasaan. Dan kebiasaan jugalah yang akan merubah selera. Misalkan anda perokok merek A selama ini, lalu anda diberi rokok merek B, tentu anda tidak akan mengkonsumsi rokok B tersebut. Kecuali dalam keadaan terpaksa. Dan keterpaksaan yang berulang dalam jangka waktu tertentu akan menciptakan kebiasaan baru. Lalu kebiasaan baru akan mengalihkan ‘logika’ selera itu kepada pilihan lain yang dibiasakannya itu.

Jadi, untuk merubah selera pangsa pasar baru menjadi ‘berselera’ kepada produk anda, yang harus dilakukan adalah mengajaknya mencoba merasakan secara langsung dalam waktu tertentu. Waktu yang ideal untuk terjadinya perubahan selera adalah kelipatan 40 kali.

Untuk itulah, penting sekali program sampling yang menunjukkan kepada pasar yang ditargetkan. Berikan contoh/sample dan beri kesempatan mereka merasakan secara langsung. Biarkan mereka lama-lama akan terhipnotis dengan pesona produk baru tersebut.

Dan jika anda berniat untuk merangkul pasar baru yang seleranya berbeda dengan produk anda yang sudah ada, lagkah yang ditempuh seyogyanya bukan mengganti produk yang sudah ada, tetapi menciptakan produk baru yang diperkirakan cocok dengan mereka – mereka yang akan kita tuju.

Kebosanan yang menjadi keluhan banyak orang sangat mudah diantisipasi dengan perubahan-perubahan kesan tanpa harus merubah produknya. Perubahan kesan tidak juga harus berupa perubahan kemasan, tetapi bisa saja berupa perubahan cara menyampaikan, cara promosi dan masih banyak lagi strategi lain yang menciptakan penyegaran tanpa merubah produk yang ada.

Jadi, tidak perlu anda bersering-sering melihat orang lain selain pasangan anda, karena anda lama-lama akan tergoda untuk merubah selera. Berhat-hatilah...!



Konsultasi dan pelatihan; tj@cahyopramono.com

Previous
Next Post »