Menghadapi ‘Orang-Orang Gila’

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tanggal 14 september 2009 pada halaman bisnis dan teknologi





Berbisnis sebagi ibadah untuk memenuhi kebutuhan keluarga terkadang tidak berjalan dengan mulus karena ulah orang-orang gila yang mengganggu kita.

Sebutlah sekian kasus konflik merek dimana biasanya pemilik merek asli tidak mendaftarkan ke instansi resmi, lalu ada orang lain yang mengaku miliknya dan mendaftarkan merek tersebut serta mematenkannya, lalu si perampok merek ini menuntut pemilik merek asli dan mengajukan gugatan dengan tujuan agar mendapatkan uang dari kasus itu.

Sebutlah sekian banyak kasus di pengadilan yang berhubungan dengan tipu-menipu. Mulai dari pengingkaran kontrak, pengingkaran pembayaran dan banyak pengingkaran lainnya. Perkawanan bahkan persaudaraan pada awal kerjasama menjadi buyar dan hancul karena pengingkaran tersebut.

Sebutlah aksi-aksi persaingan busuk dimana salah satunya adalah upaya pesaing untuk mematikan pesaing lainnya dengan cara-cara penyebaran fitnah dan pembusukan karakter. Seperti kisah lama, pesaing jahat yang memasukkan kecoa kedalam makanan di rumah makan pesaing lainnya dengan tujuan menjatuhkannya.

Sebutlah oknum-oknum penguasa yang mengatasnamakan hari raya sebagai alasan untuk meminta yang bukan menjadi hak-nya. Sebutlah preman-preman jalanan yang memaksa meminta bagian sementara mereka tidak membantu apapun.

Sebutlah tingkah tetangga yang seenaknya memancangkan tiang bangunan dengan keras-keras di dekat kantor kita sehingga semua dinding menjadi retak dan terasa seperti gempa dan mereka tidak merasa bersalah sama sekali.

Sebutlah tetangga yang dengan sengaja membuang dan menumpukkan sampahnya di areal tanahnya yang tepat di depan toko kita sehingga pelanggan kita merasa tidak nyaman dan menjauhi kita.

Semua contoh tersebut diatas bisa terjadi kepada siapa saja, termasuk mereka-mereka yang selama ini dikenal sebagai orang yang baik, bermasyarakat dan lain sebagainya. Situasinya seperti di jalan raya, jika kita tidak berhati-hati kita bisa celaka, dan saat kita sudah berhati-hatipun, tidak dijamin bahwa pengguna jalan yang lain juga berhati-hati. Kita bisa celaka karena ulah diri sendiri atau ulah orang lain yang tidak berhati-hati.

Tulisan ini saya dedikasikan bagi mereka yang terntindas oleh ulah orang-orang gila yang mengganggu ketenangan bisnis dan kehidupannya sebagai bentuk ibadahnya kepada sang Khaliq. Dengan harapan agar mereka itu tetap tabah dan sabar dalam menjalani prosesnya.



Hukum Negara

Semua contoh diatas selayaknya diselesaikan secara hukum, sehigga jelas siapa yang bersalah dan siapa yang benar. Lalu kemudian bisa dengan jelas ditentukan bagaimana hukuman bagi yang bersalah.

Sayangnya, kita –orang indonesia kebanyakan—tidak banyak mengenal dunia hukum dan tidak terbiasa bersabar dengan proses hukum yang bertele-tele, panjang, lama dan melelahkan. Dan dalam proses itu jelas akan keluar biaya-biaya.

Kebanyakan dari kita, cenderung ingin serba cepat dan efisien dan hukum berpihak kepada kita. Disinilah bisa terjadi ajang unjuk kekuasaan, unjuk uang dan bahkan mungkin unjuk rasa. Belum lagi, proses dan prosedur yang panjang dan tidak melihat latar belakang permasalahan, sehingga bisa saja si korban diadukan sebagai pelaku.

Untuk kasus yang demikian, mengunakan jasa pengacara atau orang-orang yang tahu hukum sangatlah tepat. Hindari mendengar suara-suara dari orang-orang yang tidak berkompeten. Mereka jelas-jelas hanya bisa berkomentar dan biasanya berpotensi menyesatkan. Tetapi berhati-hatilah memilih penasehat hukum, karena mereka juga manusia biasa yang juga berpotensi bermain gila.



Hukum masyarakat

Rasa malu sudah tidak lagi menjadi jiwa kita dalam bermasyarakat. Saya masih ingat betapa dahulu orang-orang selalu berusaha menghindari tindakan-tindakan yang bisa merugikan orang lain. Dahulu kita segan dan malu jika mengganggu tetangga. Dahulu kita bahkan berusaha untuk menyenangkan tetangga walaupun harus sedikit berkorban.

Rasa malu kita sekarang tidak lagi diukur dari hubungan dalam bermasyarakat, tetapi cenderung kepada pengutamaan kepentingan diri sendiri dan melupakan kepentingan bersama dalam bermasyarakat.

Sebagian dari kita konon tidak lagi merasa malu dikucilkan masyarakat. Sebagian dari kita justru berkeinginan tidak bergaul sama sekali, seolah-olah mereka bisa hidup sendirian.



Hukum Tuhan

Mungkin inilah yang jawaban terakhir bagi mereka-mereka yang tidak lagi mendapatkan jaminan hukum dari negara dan masyarakat. Kekuasaan Tuhan jugalah yang akan melindungi orang-orang yang dipilihNya. Dan kekuasaan Tuhan jugalah yang akan menghukum mereke-mereka yang berbuat salah.

Hukum Tuhan jelas pasti, hanya saja diperlukan kesabaran dan ketabahan serta ketidakputusasaan dalam menjalani prosesnya. Bagi mereka yang sabar dan tak putus asa, Tuhan pasti akan menunjukkan kuasa dan kebesaranNya.

Orang-orang gila yang saya maksudkan diatas adalah orang-orang yang tidak percaya bahwa Hukuman Tuhan itu pasti. Mereka pikir, mereka labih Akbar dari Sang Pencipta dan orang-orang gila itu pasti akan mendapatkan balasannya –yang jauh lebih berat—dalam bentuk-bentuk yang ditentukan Tuhan.

Jikalah ada diantara anda ada yang sedang terzalimi oleh orang-orang gila seperti diatas, bersabarlah, iklaskan Tuhan menangani masalah anda. Biarkan si Gila itu menari-nari diatas airmata kita, karena itu tak kan lama. Azab Tuhan pasti segera akan dirasakannya. Hanya masalah waktu saja hingga si Gila itu jatuh kedasar neraka jahanam bahkan sebelum hari kiamat dan mereka akan terjerembab jatuh senista-nistanya!

Sekarang, mumpung masih di bulan suci, biarkan damai menguasai hati kita. Semua ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan adalah indikasi bahwa kita sedang dilanda krisis iman kepada Tuhan. Harus ditanamkan keyakinan bahwa Tuhan pasti akan mendengar doa-doa hambanya. Apalagi doa mereka-mereka yang tertindas atau terzalimi. Tetaplah berusaha dan jangan pernah menyerah, berusahalah dengan cara yang terbaik, bisnis dengan batin yang jernih dan hidup dengan kedamaian yang utuh.

Maklumi saja kegilaan mereka dan berdoalah agar kegilaan itu segera sembuuh dan dengan tuntunan Tuhan, bisnis kita kelak akan lebih berjaya lagi seteleh lewat masa sulit ini. Semoga.... amin...



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »