MENU BINGUNG

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 19 oktober 2009, pada halaman bisnis dan teknologi






NASI GORENG, kopi dan Jus Jeruk... Sarapan pagi nasi gorang, minumnya kopi. Makan siang nasi goreng, minumnya jus jeruk. Makan malam akhirnya juga nasi goreng dan minumnya lagi-lagi Jus Jeruk. Begitulah pilihan rekan perjalanan bisnis saya selama beberapa hari. Betapa garing pilihan menu itu. Saya yang tidak ikut memilih menu itu menjadi merasa bosan dengan alternatif yang hanya satu itu.

Awalnya saya diam dan membiarkan kawan seperjalanan itu terus saja asyik dengan nasi gorengnya. Tetapi ketiak perjalanan sudah memasuki hari ke empat dan menu pilihan kawan saya masih tetap sama, timbul juga rasa penasaran dan saya memberanikan diri untuk bertanya.

“Saya bingung, mau pilih makanan apa!” aku kawan saya itu,”Semua menu dalam bahasa asing yang saya tidak kenal, takut salah pula”. Pegakuan itu mengakhiri penasaran saya.

Pada kesempatan lain, saya mendapati kawan-kawan lain yang juga senang memesan Nasi Goreng dan Jus Jeruk, setelah saya ajak bicara, secara umum mereka merasa bingung mau memilih menu apa, hingga secara cepat mereka menyebut nasi goreng dan jus jeruk.

Puluhan tahun saya berkecimpung di dunia yang berhubungan dengan jasa restoran, setelah kejadian diatas, saya baru menyadari bahwa jika sebuah restoran mampu menjual nasi goreng dan jus jeruk dalam hitungan yang banyak, itu bukan berarti hebat. Itu bukan berarti bahwa juru masaknya hebat. Itu bukan berarti nasi gorengnya lezat. Tetapi ada kemungkinan bahwa para tamu yang datang kebingungan memilih menu yang lain.

Sekarang saya sering tersenyum mendapati harga nasi goreang di sebuah restoran hotel berbintang yang nilainya Rp. 135.000,- per porsi. Lebih tertawa lagi ketika mendapati jawaban manajernya yang dengan bangga mengaku bahwa nasi gorengnya sangat lezat dan paling banyak di pilih oleh tamu-tamunya. Dan saya semakin tak sanggup menahan geli ketika menemukan daftar menunya tertulis dalam bahasa perancis tanpa penjelasan dalam bahasa indonesia sama sekali.



Fenomena Gudang

Saya menyebut fenomena nasi goreng dan jus jeruk diatas sebagai fenomena tumpukan gudang. Situasinya seperti barang yang banyak bertumpuk digudang sehingga orang yang melihatnya menjadi bingung dan malas, lalu asal ambil barang yang terlihat atau dia tahu saja.

Fenomena tumpukan gudang itu tidak hanya terjadi pada nasi goreng itu saja. Tetapi juga terjadi pada bisnis-bisnis lain. Fenomena itu terjadi manakala produk yang ditawarkan semakin banyak alternatifnya.

Selain faktor banyak pilihannya juga faktor nama produk serta pemajangannya yang tidak cukup bijaksana. Faktor nama produk yang tidak cukup mudah dipahami pembeli, biasanya tidak akan mendapat perhatian yang baik. Terlalu banyak pilihan juga akan memusingkan pembeli. Belum lagi pemajangan yang tidak indah dan rapih, jelas membuat pembeli malas melihatnya. Kalau melihat saja sudah malas, pasti membelipun lebih malas lagi.

Contoh sederhana dari pilihan nama produk yang terlalu banyak adalah produk telekomunikasi. Lihatlah betapa masing-masing perusahaan jasa telekomunikasi memiliki lebih dari 6 produk layanannya. Jelas sampai kini, penjualan pulsa untuk bertelepon dan ber SMS masih lebih banyak dibanding produk-produk lainnya. Mengapa? Karena bertelepon dan ber-sms sama mudahnya dengan menyebut nasi goreng serta jus jeruk.

Contoh sederhana dari opsi pemajangan yang mempengaruhi perilaku pembeli adalah pemajangan di kedai sampah (toko kelontong) dengan pemajangan di swalayan. Hanya dari konsep pemajangan ini saja sudah membedakan jumlah penjualan antara kedai dengan swalayan. Pembeli di kedai kelontong hanya membeli apa-apa yang sudah dia rencanakannya sedang pembeli di swalayan akan membeli apa-apa yang sudah direncanakan untuk dibeli plus barang-barang yang menggoda perhatiannya selama proses mencari barang yang diinginkannya.



Kenal dan sayang

Belajar dari daftar menu yang akhirnya berujung ke pilihan nasi goreng dan jus jeruk, sepertinya kita harus waspada dan sesekali mencoba berkaca diri, dengan beberapa pertanyaan. Yang pertama, apakah nama dan produk mudah dilihat, dijangkau atau dipahami oleh calon pembeli.

Yang kedua, apakah nama-nama danm produk yang kita jual cukup dikenal oleh calon pembeli? Sebera banyak dan sering kita men-sosialisasikannya kepada publik? Menggunakan media apa saja? Apa indikator bahwa publik mengenal produk yang kita promosikan?

Yang ketiga, apakah pilihan produk atau daftar produk yang kita jual cukup banyak? Jika iya, bagaimana calon pembeli menjadi mudah untuk melihat dan memahaminya? Upaya mengelompokkan produk-produk yang banyak tersebut kedalam kelompok-kelompok sederhana pasti akan memudahkan calon pembeli dalam menentukan pilihannya. Pengelompokkan ini dilakukan di dalam daftar secara tertulis semacam daftar menu, daftar harga atau daftar lain. Lalu pengelompokkan yang sama juga dilakukan dalam pemajangannya.



Festival

Inilah salah satu cara memperkenalkan produk-produk yang kurang mendapat perhatian selama ini. Konsep festival dalam dunia makanan adalah suatu kegiatan promosi dimana dalam jangka waktu tertentu gerai makanan tersebut hanya menyajikan makanan-makanan yang di festivalkan. Maaf ini bukan perlombaan, tetapi semacam usaha untuk mengunggulkan menu yang dipromosikan tersebut. Misalnya selama bulan november, satu restoran akan menyelenggarakan festival pasta. Maka, selama bulan november tersebut, sajian yang ada adalah serbaneka pasta dengan kelengkapanya.

Dengan festival makanan seperti diatas, maka ada alasan untuk berpromosi. Ingat, promosi selalu memerlukan alasan. Jadi memberikan harga lebih murah atau menampilkan menu baru akan menjadi lumrah dan diterima masyarakat.

Konsep festival ini bisa diadopsi oleh bisnis-bisnis lain. Misalnya toko suku cadang dan aksesoris kendaraan bermotor, bisa saja sesekali mempromosikan produk-produk yang berhubungan dengan kendaraan off-road. Bisa saja selama masa festival tersebut ditampilkan produk-produk yang berhubungan dengan mobil off-road atau sepeda motor trail. Mulai dari mesin, suku cadang hingga aksesorisnya. Mungkin ditambah dengan pameran mobil atau sepeda motor tersebut. Dan sangat mungkin disajikan kegiatan-kegiatan kreatif yang berhubungan dengan tema tersebut.

Pada kesempatan lain, silahkah ganti tema-nya. Mungkin saja festival sound-siystem mobil, mungkin festival knalpot, festival cat dan sebagainya. Selamat mencoba.



Konsultasi & Pelatihanl tj@cahyopramono.com

Previous
Next Post »