Jenjang Penghargaan

Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 02 november 2009, di halaman ekonomi dan bisnis



MANUSIA diciptakan Tuhan dengan lengkap termasuk nafsu didalamnya. Nah, komponen yang satu itulah konon menjadi motor sifat serakah bagi kebanyakan manusia. Keserakahan itu dimiliki oleh kebanyakan manusia yang diantaranya adalah para Tenaga Penjualan, Tenaga Pemasaran dan orang-orang yang membantu bisnis anda.

Jangan salah sangka, dibalik tundukan kepalanya dan sikap hormatnya saat mereka menghadap anda, mereka juga menghendaki segala-sesuatu yang didapatnya terus bertambah, meningkat, lebih banyak, lebih baik dan ingin mendapatkan semua kebaikan lainnya.

Pada saat pertama sekali mereka melamar pekerjaan kepada anda, kebanyakan dari mereka akan menggunakan ilmu PUN, “Apa pun, Kapan Pun, Dimana Pun, Berapa Pun”. Mereka memohon dan merendahkan dirinya hingga menyentuh lantai dengan mengatakan akan menerima pekerjaan apapun itu, entah seberapa lama pun pekerjaannya, walaupun dibagian pembersih wc di ujung dunia sekalipun. Lalu mereka juga berjanji untuk setia, disiplin dan berprestasi dengan gaji seberapapun itu.

Betapa sebuah lelucon yang menggelikan. Ironisnya, saya dan anda juga pernah mengalaminya menjadi orang yang meminta itu dengan skala memohon yang berbeda-beda.

Begitu diterima proposal pekerjaan itu dan mulailah dijalani pekerjaan itu, biasanya tidak sampai empat bulan, sudah akan ada tanda-tanda bisul pecah. Tanda-tanda keserakahan yang terpendam erat dan tak kuasa ditahan. Mulai dari munculnya kemalasan, pengurangan kecepatan kerja, hingga menuntut tambahan gaji dan berbagai bentuk tuntutan yang jelas berlawanan dengan ilmu “PUN” yang dirapalkan pada awal perekrutan dulu.

Dari menganggur, orang ingin bekerja walau digaji harian, dari status harian ingin menjadi honorer, dari hononer mau jadi pewagai kontrak, dari status kontrak ingin menjadi status permanen.

Demikian juga dengan posisi dan jabatan, mulai dari klerk, ingin naik menjadi kepala regu, lalu naik mejadi kepala seksi, kepala bagian, hingga pemimpun umum. Anda sudah bisa membayangkan, berapa besar peningkatan gaji yang dikehendakinya.

Tak ada kata cukup dan puas dalam eskalasi kebutuhan itu. Persis seperti pelajan kaki yang merindukan sepeda, dan yang naik sepeda merindukan sepeda motor, lalu pengendara sepeda motor merindukan bisa naik mobil dan pemikik mobil menginginkan mobil lebih berkualitas lagi.

Bosan dan Cukup

Rasa senang dan puas atas pencapaian sesuatu itu hanya bertahan beberapa waktu saja. Selebihnya manusia akan merasakan bosan. Rutinitas yang membosankan akan mengumpulkan semua keluh kesah dan gerutu. Rutinitas akan mengobarkan jiwa pemalas dan keinginan besar untuk bersenang-senang lebih banyak daripada harus bekerja dengan serius.

Untuk itulah diperlukan perubahan-perubahan untuk membuat rutinitas menjadi lebih berwarna dan bervariasi sehingga kebosanan bisa diredakan sementara waktu. Perubahan-perubahan tersebut tentu saja diperlukan juga dalam hal penghargaan. Itu penting, karena penghargaan yang itu-itu saja jelas akan membosankan. Dana dalam semua kondisi, bosan adalah akar dari segala kejahatan atas sebuah komitmen.

Mungkin karena segala ciptaan Tuhan itu berubah, jadi segala bentuk rutinitas tidak menjadi hal menarik bagi kebanyakan orang. Rutin dan bosan adalah penyebab kebodohan dan ketololan yang tidak disadari. Saya masih ingat, seorang kawan yang pengusaha kaya itu menggunakan stik golf-nya berharga jutaan rupiah untuk mengganjal pintu selama lebih dari 4 tahun terus menerus. Kawan saya itu jelas secara akademik menggondol ijazah S2 dari luar negri, pengusaha yang piawai, pemimpin yang cerdas, tapi cukup tolol untuk permasalahan sepuluh ribu rupiah yang berupa ganjal pintu. Itu terjadi karena kebiasaan dan rutinitas!



Eskalasi

Jika anda memiliki anggaran untuk gaji pegawai pemula antara 1 juta hingga 5 juta per bulannya. Pastikan anda tidak langsug memberikan 5 juta pada kesempatan pertama. Berikan seminimal mungkin sesuai kewajaran, lalu perlahan-lahan naikkan pada waktu-waktu tertentu setelah evaluasi hingga mencapai angka 5 juta tersebut.

Contoh sederhana adalah ketika anda naksir lawan jenis anda. Kalau anda berkenalan sore hari dan malamnya anda ajak dia tidur, pasti besoknya langsung anda tinggalkan. Berbeda jika anda tertarik dengan melihatnya, lalu anda berusaha mencari tahu nama dan alamatnya, setelah sekian lama anda baru bisa berkenalan dengan bersalaman. Lalu anda bisa berteleponan setelah sekian waktu. Setelah anda berusaha, anda bisa mengajaknya makan malam bersama. Setelah usaha pada kesempatan lain anda bisa mengajaknya menonton bioskop bersama dan seterusnya anda melamar dan menikahinya.

Dalam contoh yang kedua, saya yakin anda akan menikmati semua prosesnya tanpa rasa bosan. Tiap kali anda maju satu langkah, anda akan merayakannya dengan senang hati. Anda ingin terus lebih dalam dan lebih jauh mengenal dan bersama lawan jenis yang anda taksir tersebut.

Jadi demikian juga dalam hal penghargaan. Buatlah jenjang penggajian yang bertahap. Termasuk nilai komisi atau incentif yang diberlakukan. Jenjang ini juga berlaku untuk semua hal lain seperti fasilitas akomodasi dan hal-hal lain yang dirasakan oleh para pegawai tersebut. Kalau anda memberikan fasilitas wisata karyawan yang pertama kali langsung di hotel bintang 4, tentu untuk selanjutnya mereka ingin mendapatkan hotel bintang 5, bukan bintang 3 atau dibawahnya.

Eskalasi ini juga bagus jika diaplikasikan pada eselon atau golongan pekerjaan. Dalam struktur organisasi bisnis, memang semakin sederhana akan semakin efektif. Tetapi secara psikologis, jangan lupa jika bosan dan rutin itu sangat berbahaya. Jadi susunlah urutan jabatan sepanjang mungkin. Misalnya antara klerk dengan manajer bagian jangan langsung, tetapi ada kolom jabatan wakil manajer, lalu dibawahnya ada senior supervisor, lalu dibawahnya lagi ada junior supervisor, lalu ada senior clerk dan clerk di urutan paling bawah.

Eskalasi atau jenjang jabatan itu penting dalam jangka panjang, jenjang itu bermanfaat agar pegawai tahu urutan jabatan yang harus dikejarnya, dan itu potensial untuk menghilangkan kebosanan.

Yang amat penting bagi kita adalah; biarkan rasa bosan itu hanya ada dalam hati mereka, bukan hati kita, kita harus pandai mencukupkan diri, sehingga bisa merasa puas lalu bisa bersyukur. Saat kita bisa bersyukurlah, berkah Allah akan mengalir lebih deras...



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »