Jual Nama

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 16 november 2009, pada halaman bisnis dan teknologi



Pria tengah baya ini bernama Rianto. Dan nama inilah yang menjadi semacam jaminan bagi orang-orang disekitarnya. Jaminan atas terselesaikannya berbagai macam urusan yang tidak bisa dikerjakan orang lain di kelompoknya.

Nama Rianto benar-benar seperti kunci bagi semua permasalahan. Mulai dari permasalahan sambungan listrik, percetakan, kredit bank, catering, pengurusan STNK, pengurusan paspor, memasang iklan, mencari pembantu, hingga pembersihan savety-tank (penampungan tinja).

Pria hebat ini menjadi andalan. Namanya menjadi jaminan berbagai keputusan. Bahkan anggota dalam kelompok itu akan menolak apapun yang ditolak oleh Rianto. Rianto bukanlah raja, bukan manajer, bukan ketua dan bukan atasan dari kelompoknya. Justru Rianto menjadi orang yang selalu disuruh-suruh oleh anggota kelompok lainnya.

Singka cerita, rianto adalah password penting dikelompoknya. Ia orang serba bisa, serba bisa menyelesaikan permasalahan dan urusan yang repot. Saya habiskan hampir 1 jam untuk mewawancarainya dan membutuhkan waktu lebih dari 4 hari untuk membuktikan kalimatnya.

Pembaca yang budiman, Rianto ternyata bukanlah seorang superman, tapi ternyata Rianto memiliki superteam. Dibalik sukses Rianto, ada sederet nama-nama lain yang tidak dikenal oleh orang-orang disekitar Rianto, atau memang orang-orang itu tidak mau perduli kecuali sebuah nama yaitu Rianto. Yang menarik lagi, sederetan nama itu jelas-jelas bukan anak buah atau bawahan Rianto.

Secangkir kopi luwak menjadi penghantar pembicaraan dengan Rianto yang selalu senyum klecam-klecem Rianto mengaku bahwa dirinya hanya bermodal pergaulan. Dia punya sahabat agen pengurusan STNK dan Pasport yang selalu siap kapan saja membantu Rianto. Dia punya kawan sekolah yang menjadi pengusaha periklanan, ada kawan main bola yang kerjanya menggalas kambing ke kampung-kampung, ada kawan yang tukang listrik karena sering ketemu di mesjid dan ada kawan bagian pemasaran di sebuah bank karena pernah dibantunya mencari pembantu rumah tangga.

Rianto tiap waktu –disadarinya atau tidak—telah manambah terus jumlah jaringan dan memperkuatnya. Dalam percakapan itu, bahkan Rianto sanggup mengurus surat tanah, urusan notaris, urusan tender disalah satu perusahaan perkebunan milik pemerintah dan urusan rumah sakit.

Rianto sangat ramah dan ringan tangan, senang membantu siapa saja dan sikap itulah yang ‘menjerat’ hati dan simpati orang-orang dilingkungannya. Kepada kawan-kawan dalam jaringannya, Rianto juga cukup cerdas berbagi. Tiap ada keuntungan project, Rianto selalu membaginya dengan transparan. Rianto tidak keberatan menerima bagian yang lebih kecil dari yang diterima rekanannya itu. Dalam pikiran Rianto, kerjanya toh hanya memesan saja, sedang yang mengerjakan kan orang lain, jadi jika mendapat bagian yang sedikitpun tetap saja untung dan menyenangkan, dia bilang, “Yang pusing dan berkeringat kan mereka, bukan saya”. Rianto mengaku, tak apa kalau dapat kecil tapi kan projectnya banyak, jadi walau kecil-kecil toh akhirnya dapat besar juga.

Agensi

Namanya wak Chaniago, sering kami panggil Wak Chan. Dia penjahit terkenal disudut luar kampung kami. Wak Chan ini juga salah satu contoh superman yang muncul dengan kecerdasan khas urang Minang.

Ditoko-nya, Wak Chan hanya memajang 2 mesin jahit, satu untuk dirinya dan satu lagi untuk seorang pegawai. Yang aneh adalah, Wak Chan berkumis ini menerima saja semua pesanan dan ia sanggup mengerjakannya. Wak Chan dan anggotanya seperti raja siluman yang sanggup membuat sesuatu dalam satu detik. Jika rata-rata seorang penjahit bisa menyelesaikan satu baju dalam satu hari, wak chan dan anggotanya bisa menyelesaikan 20 hingga 80 pasang baju dalam 1 minggu. Benar-benar mengherankan!

Lagi-lagi secangkir kopi menemukan saya dengan raja siluman ini yang mengaku berasal dari desa kecil di Kabupaten Agam Sumbar. Pria yang selalu berpakaian rapih ini membongkar rahasianya. Ia punya 20 pasang tangan yang tidak terlihat. Ia memiliki 20 pasang kaki yang tidak ia tunjukkan di tokonya. Ia memiliki 20 penjahit yang bekerja di rumah masing-masing. Mereka akan menerima order dari Wak Chan dalam bentuk kain yang sudah terpotong berpola lengkap dengan kelengkapannya (benang, kancing dan asesoris lainnya).

Inilah yang saya sebut dengan cerdas. Wak Chan mempekerjakan orang lain atas nama dirinya. Semua pelanggan Wak Chan hampir tidak ada yang tahu kalau Wak Chan praktis hanya menjadi juru terima pesanan, mengukur dan mempola saja, selebihnya ada pekerja lain yang bekerja untuk dirinya. Mereka bekerja tanpa ikatan tertulis, mereka bekerja borongan. Dan Wak Chan selalu menambah 2 hari batas waktu yang dijanjikan kepada pelanggan lebih lama dari kesanggupan pekerjanya menyelesaikan jahitan itu.

Saya menyebut pekerjaan Rianto dan Wak Chan sebagai pekerjaan agensi. Walaupun sebenarnya mereka sudah memiliki merek yang bagus. Nama mereka menjadi jaminan kualitas produknya. Orang-orang percaya dan jadilah bisnis itu.

Jual Nama

Banyak sekali pengusaha yang tidak pernah bisa berproduksi lebih dan tidak bisa maju pesat, karena mereka hanya mengandalkan kedua tangannya. Mereka tidak pernah terfikir dan terlatih untuk menggunakan tangan-tangan lain untuk dirinya.

Itulah yang disebut dengan pengusaha pelit. Semuanya mau dimakan sendirian. Dan batas akhir kepelitan itu adalah produktifitas yang terbatas. Saya sebut pelit karena tidak mau berbagi pekerjaan dan berbagi rejeki. Semuanya mau dikerjakan sendiri. Jelas sesuatu yang pasti ada batasnya.

Mungkin ada yang berkilah bahwa ketidakmauan untuk berbagi adalah karena takut mengecewakan pelanggan. Bahkan mungkin sudah ada yang melakukannya tapi selalu gagal. Boleh saja beralasan demikian, tetapi ingatlah bahwa gagal itu sesuatu yang wajib ada, untuk memicu sukses.

Ada kecerdasan hebat jika bisa menggunakan pikiran, tenaga dan uang orang lain untuk bisnis kita sendiri. Rianto dan Wak Chan, contoh dari kecerdasan itu. Dan kecerdasan yang paling hebat dalam hal ini adalah kemampuan diri mengelola dan mengendalikan orang lain. Itulah rahasinya. Semua delegasi adalah seni pengendalian diri dan orang lain. Selamat mencoba



Konsultasi & Pelatihan; Tj@cahyopramono.com



Previous
Next Post »