Promosi Tanpa Mulut

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 9 november 2009, pada halaman bisnis dan ekonomi.





PEREMPUAN itu merengut saja, mukanya jutek, lelah dan bosan. Tiap ada tamu yang datang, tanpa diminta secara otomatis ia menyodorkan selembar kartu nama dengan ekspresi datar. Terlihat ada beberapa orang yang berusaha bertanya kepadanya tetapi ia langsung menyibukkan diri dengan menundukkan kepala.

Pada pameran promosi yang cukup mahal ini, perempuan penjaga stand tadi tidak lagi memikirkan betapa pentingnya promosi dan penjualan produknya. Ia terjajah oleh rasa bosan dan lelah yang berlebihan. Betapa sebuah promosi yang kontra-produktif.

Penasaran dengan pemandangan itu, saya mendekat dan menawarkan kopi panas dalam kemasan sekali pakai. Sesaat setelah saya ajak bercanda, si perempuan ini mulai menampakkan senyum manisnya. Ternyata perempuan pemilik senyum mempesona ini menjadi korban cara berpromosi yang masih primitif.

Perempuan penjaga stand pameran ini merasa muak setelah menjawab pertanyaan yang sama selama lebih dari 6 jam pameran, “Mba, harganya berapa?” akunya sambil menyeruput kopi panasnya. Singkat cerita, saya iseng-iseng menuliskan besar-besar sebuah harga di kertas HVS dengan spidol tebal, “Hanya Rp. 15.000,-/kotak”, lalu saya tunjukkan ke si penjaga stand tadi dan memberikan isyarat untuk ditempelkan di kaca dekat pemajangan produknya.

Tawa yang renyah meledak dari mulut perempuan penjaga stand itu ketika tidak sampai 5 menit dari pemasangan tulisan itu, ada seorang yang datang menghampiri kami tanpa berkata apapun langsung menyodorkan uang Rp.15.000,- dan memberikan isyarat meminta 1 kotak dengan jari telunjukknya. “Terimakasih” itu saja kata si pembeli tadi begitu ia mendapatkan barangnya.

Tawa itu terjadi setelah menyadari betapa tulisan harga yang sederhana tadi menjadi begitu sakti. Menghemat tenaga, memudahkan informasi dan membedakan pembeli sebenarnya dan orang yang hanya ingin sekadar bertanya.

Saya jadi teringat jalam dulu masih sekolah, sekali waktu sepulang les saya naik angkot. Saya duduk di depan di samping pak sopir. Perjalanan dengan angkot ini menjadi melelahkan dan panjang. Tiap ada orang berdiri di tepi jalan, selalu saja pak sopir menjalankan ritual yang berulang. Ritual itu berupa; Pasang lampu tanda ke kiri, klakson dua kali, minggir dan mendekat ke orang yang berdiri di tepi jalan tadi dan meneriakkan satu nama terminal sebagai tujuan trayeknya.

Tidak pernah angkot ini melaju kencang dengan gigi mesin di angka 4, karena tiap beberapa meter pak sopir ini mengulangi ritual yang sama, Pasang lampu tanda ke kiri, klakson dua kali, minggir dan mendekat ke orang yang berdiri di tepi jalan tadi dan meneriakkan satu nama terminal sebagai tujuan trayeknya.

Merasa sebal dengan teriakan-teriakan pak sopir, saya sobek satu lembar kertas gambar saya dan dengan krayon saya tuliskan nama terminal yang sedari tadi diteriakkan pak sopir lalu saya tempelkan di kaca depan sebelah kiri. Adan tentu bisa menebak kisah ini, selanjutnya pak sopir tidak lagi perlu berteriak dan bahkan tidak harus memberhentikan angkotnya, dia hanya berusaha untuk membuat sedikit pelan sehingga calon penumpang bisa membaca dengan jelas tujuan yang akan dilewati mobil angkot kami.

Tanpa Mulut

Membiarkan team promosi/penjualan mengandalkan mulutnya adalah langkah yang kurang bijaksana. Tentu harus ada media-media bantu yang memudahkan penjualan bahkan ketika seseorang tidak bisa mengucapkannya.

Buatlah media promosi yang membantu meringankan beban mulut. Informatif, singkat, efktif dan mengundang. Apalagi informasi itu adalah informasi yang jamak ditanya. Mudah menjawabnya dan berulang kali ditanyakan.

Dalam pengamatan saya, para penjual yang selalu terjebak dalam menjawab pertanyaan rutin itu bukan tidak pintar, tetapi mereka kadang tidak menyadari betapa berulang kali mereka menjawab pertanyaan yang sama dan mereka tidak menyadari arti penting pesan-pesan tertulis itu.

Jangan heran ketika banyak penjual yang sulit senyum selama melayani pembeli karena kesalahan rutinitas tersebut.

Membahas “tanpa mulut”, juga harus dilakukan di material promosi/penjualan yang tertulis tersebut. Sampai sekarang masih banyak penjual yang harus berbicara menjelaskan brosur atau surat penawaran yang disampaikanya. Betapa sebuah pekerjaan yang sia-sia. Informasi tertulis yang dibuat tidak cukup menginformasikan segala-sesuatunya sehingga harus ada keterangan lain dari mulut si penjual.

Hingga kini masih banyak pembuatan media promosi yang harus didampingi mulut si penjual untuk mejelaskan makna gambar dan kondisi-kondisinya. Lagi-lagi gaya penjualan yang paling primitiflah yang terjadi.

Media promosi yang masih harus ditambah mulut itu, biasanya terjadi karena kekurang mampuan dalam menyampaikan pesan melalui media tertulis, atau juga karena ada potensi menipu yang diniatkan oleh si penjual.

Sangat mungkin penjual merencanakan kebusukan yang dengan sengaja tidak menginformasikan kekurangan dan potensi kejelekkan produk atau sistem penjualannya. Penjual yang seperti ini menunggu silap si pembeli saja. Jelas sebuah langkah yang tidak bisa ditolerir.

Yang terakhir, memang diperlukan ketrampilan untuk bisa menyampaikan sesuatu dengan media tulisan. Tetapi itu bukan sesuatu yang tidak mungkin. Hanya diperlukan kemauan belajar dan mencobanya. Toh itu untuk kebaikan anda sendiri.

Saya jadi ingat sewaktu naik kereta api kelas ekonomi yang sepanjang perjalanan tidak pernah sepi dengan penjual asongan. Sebuah romantisme kereta rakyat yang memberikan kesempatan perputaran uang recehan demi perut yang sejengkal ini. Para pedagang asongan itu memiliki suara yang lantang dan sepertinya Mereka tidak perduli apapun, walaupun seseorang sedang tertidur lelap pun mereka akan tetap membangunkannya demi menawarkan produk dagangannya.

Hingga suatu ketika ada seorang pemuda yang bisa tidur lelap tanpa diganggu oleh para pedagang songan karena ia menutupi kepala dan wajahnya dengan kertas karton berwarna kuning dengan tulisan spidol, “saya tidak mau beli apapun, jangan ganggu saya”



Konsultasi dan pelatihan; tj@cahyopramono.com


Previous
Next Post »