Mengapa Pelayanan di Rumah Makan Minang lebih cepat?

tulisan ini sudah di terbitkan di harian waspada medan pada tanggal 08 februari 2010 di halaman ekonomi bisnis


gambar www.groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/82019


BAGI mereka yang terbiasa dilayani dengan cepat oleh pelayan rumah makan minang tentu saja mereka akan mendapat kesan yang berbeda danjauh lembih lambat jika berkunjung ke rumah makan jenis lainnya.

Pelayannya ramah, gesit dan seperti senang membantu siapapun. Mereka terlihat seperti haus untuk memberikan bantuan kepada semua tamu-nya. Tidak seperti kebanyakan pegawai di tempat lain, umumnya mereka tampil dengan kualitas kerja yang diatas rata-rata.
Setelah saya pelajari, ternyata itu terjadi karena cara berfikir mereka umumnya tidak bekerja tetapi sedang mengelola bisnis miliknya. Ya benar-benar milik mereka sendiri. Sehingga batin dan pikiran pun hadir dalam melayani semua pembelinya.

Dalam suatu rumah makan minang, pihak-pihak yang terkait dengan usaha ini secara umum adalah pemilik, tukang masak, tukang sanduak, kasir, pelayan, dan tukang cuci piring. Peranan pemilik adalah sebagai pemodal dan penetap kebijaksanaan operasional. Kekuatan rumah makan jelas ditentukan oleh kualitas makanan hasil keterampilan dan keahlian tukang masak. Kepuasan tamu dan pelanggan akan ditentukan juga oleh kualitas pelayanan dalam bentuk kecepatan dan kerapihan dalam menghidangkan. Kebersihan alat makan akan ditentukan oleh tukang cuci piring, sedangkan tertib keuangan akan ditentukan oleh keterampilan dan kejujuran kasir.

Bagi hasil

Dalam sistim manajemen rumah makan Minang, hubungan antara pemilik dengan para pekerja seperti tukang masak, dan lain-lain itu bukan didasarkan pada sistim imbalan yang berupa gaji. Di sini digunakan sistim bagi hasil berdasarkan ”mato” atau persentase pembagian hasil.

Bisnis tersebut dianggap sebagai usaha bersama antara pihak-pihak yang terlibat tersebut (termasuk pemilik), dan masing-masing memperoleh bagian keuntungan usaha berdasarkan persentase yang disepakati bersama. Persentase ini didasarkan pada peranan masing-masing, yang akan menentukan kesuksesan jalannya usaha; “gadang kayu gadang bahannyo, ketek kayu ketek bahannyo”= besaran hasil sesuai dengan kontribusi.

Dengan dasar pemikiran demikian, pembagian “mato” bisa sebagai berikut : pemilik 50 mato, tukang masak 15 mato, tukang sanduak 10 mato, kasir 10 mato, pelayan 5 mato, tukang cuci piring 5 mato, dan zakat 5 mato. Ini tentunya bisa bervariasi antara satu rumah makan dengan lainnya.

Tunjangan
Pembagian hasil usaha dilakukan setiap 100 hari. Kebijaksanaan lainnya adalah bahwa karyawan berhak untuk memperoleh pinjaman sebelum waktu 100 hari tersebut, disamping bahwa karyawan memperoleh makan, minum, dan uang rokok.

Dapatlah dibayangkan kalau seseorang anak muda pergi merantau, pepatah Minang mengatakan untuk mereka yang pergi ke negeri orang yang masih asing bagi mereka : “…..sanak cari saudara cari…induk semang cari dahulu…”.

Kalau dia dapat induk semang seorang pemilik rumah makan Minang, atau dengan kata lain dia bekerja di rumah makan Minang sebagai tukang cuci piring sebagai jabatan yang paling bawah, maka minimal makan, minum dan uang rokok sudah ditangan. Ditambah pula 5 % dari keuntungan usaha setiap 100 hari. Kalau nanti sudah berpengalaman, karierpun dapat naik ke jenjang yang lebih tinggi; pelayan, juru masak, atau bahkan kasir.

Rasa memiliki
Sistim manajemen tersebut diatas sangat menjamin adanya “sense of belonging” yang tinggi dari seluruh unsur usaha ini. Rasa memiliki itulah yang menjadi kunci masakan enak, pelayanan cepat dan ramah, dan semua roda operasional berjalan baik.

Sekarang sebagian rumah makan Minang sudah meninggalkan sistim ini dan menggantinya dengan sistim yang lebih kapitalistik : pemilik modal membuat suatu usaha dan menggaji karyawan yang dibutuhkannya. Porsi karyawan dalam usaha tersebut adalah gaji ditambah sejumlah imbalan lain, tapi tidak berhak atas pembagian keuntungan. Kalaupun ada bonus karena perusahaan meraih keuntungan yang memadai, besarnya terserah kepada pemilik usaha. Dalam sistim seperti ini, rasa memiliki kalaupun ada akan sangat minim.

Keterlibatan
Pada ide yang sederhana tapi mendasar; Jika seorang pegawai belajar bagaimana sebuah perusahaan mendapatkan keuntungannya, maka ia akan mulai berpikir seperti seorang pemilik bisnis juga.

Pada tahun 1982, SRC adalah sebuah divisi kecil dari Harvester International yang sedang bangkrut. Orang-orang kehilangan pekerjaan.

Jack Stack berpikir bahwa jika Ia dapat membeli divisi itu, maka 119 pekerjaan dapat diselamatkan, termasuk pekerjaannya sendiri. Harga yang diminta adalah 9 juta dolar.

Bermodal resume bisnis yang yang sederhana dan naif, Jack mencoba mendapatkan pinjaman. Ia ditolak berulang kali karena kurangnya pemahaman tentang ekonomi. Selama ini ia dan setiap orang pada umumnya belajar bagaimana melakukan pekerjaan dengan benar, bukan diajari bagaimana melakukan bisnis.

Bank hanya peduli kalau uang yang mereka pinjamkan akan kembali. Bank ingin melihat keuangan perusahaan yang sehat. Lalu ide ini muncul di dalam benak Jack. Jika ini yang dibutuhkan bank, mengapa tidak semua orang dapat membaca neraca perusahaan?

karena itu, Jack terinspirasi untuk mengajarkan kepada setiap pegawai untuk mengevaluasi kondisi keuangan pribadi dalam perusahaan sebelum memutuskan apakah mereka dapat memiliki kartu kredit, kredit kepemilikan rumah, atau bahkan memiliki anak.

Jack mempraktekkan konsep ini diperusahannya; contoh pegawai dibagian engineering tahu keuntungan kotor dari setiap produk yang mereka buat. Di bagian engine assembler juga tahu berapa nilai impas dari peralatan yang mereka pakai. Banyak orang yang menjalankan divisinya seperti sebuah bisnis kecil miliknya sendiri. Jack menyebutnya Great Game on Business, semua pegawai adalah pemilik dari perusahaan.

Dalam 10 tahun, SRC telah menghasilkan 20 bisnis baru yang sebagiannya dibangun oleh buruh yang pernah bekerja di pabrik tersebut. Sejak 1983, SRC Holdings Corportation telah tumbuh menjadi sebuah perusahaan yang memiliki 17 bisnis dalam berbagai industri. Penjualan meningkat dari $16 juta pada 1983 ke $270 juta. Nilai saham telah naik dari 10 sen per share ke $134 pada 2005.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com


Share
Previous
Next Post »