Sindrom Liburan

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 28 desember 2009, di halaman bisnis dan teknologi



JIKA ada barang anda yang baru dibeli tapi cepat rusak, hampir pasti saya bisa menebak penyebabnya. Salah satu penyebabnya adalah karena produk itu diciptakan pada saat menjelang Liburan.

Jika ada pekerjaan yang menjadi sedikit terabaikan, mundur dari tenggat waktu dan tidak selesai dengan sempurna; salah satu penyebabnya adalah karena pekerjaan itu ada menjelang liburan.

Jika ada acara yang dikerjakan dengan buru-buru dan sedikit bermasalah; salah satu penyebabnya adalah acara yang diselenggarakan pada saat menjelang hari libur.

Suasana liburan adalah momen indah yang diharapkan banyak orang. Beberapa saat sebelum liburan itu tiba, secara mendadak semua orang menjadi seperti terkena wabah demam liburan. Pikiran dan semua topik pembicaraan mengarah ke soal liburan.

Pada saat itu mulailah sindrom ini menjalar ke sel-sel otak kita sehingga melemahkan sistem kerja yang selama ini kencang dan tegang. Mendadak muncul rasa lelah yang dalam seperti kehausan yang amat sangat kering. Mendadak muncul kebutuhan yang seperti tidak bisa dihambat; ingin istirahat dan berlibur.

Keinginan akan istirahat dan libur menjadi kebutuhan yang semakin lama semakin mendesak. Media massa sudah memberitakan hal-hal yang berhubungan dengan liburan. Areal-areal publik, pusat perbelanjaan dan fasilitas umum biasanya sudah mendandani dirinya dengan semua atribut bertema liburan itu sendiri. Dan itu benar-benar sebuah rayuan yang maut kepada semua orang untuk segera saja berlibur.

Godaan semakin menjadi ketika semua orang disekitar kita satu persatu mengabarkan perjalanan atau kegiatan liburannya. Bagi mereka yang tidak libur, itu adalah gangguan dasyat yang menyayat hati. Serasa tidak bisa libur adalah kesialan yang amat tidak diharapkan.

Orang-orang sudah libur sebelum liburannya datang dan lucunya, kita masih dalam suasana libur pada saat liburan telah usai.



Motivasi

Jelas kesalahan-kesalahan diatas pada sisi operasional dan produksi bukanlah karena masalah ketidakmampuan kita sebagai pekerja atau pelaku binis, tetapi lebih karena faktor karakter, faktor motivasi.

Liburan memang ditanggapi dengan sikap yang beragam, ada yang rela lembur demi menyelesaikan pekerjaannya sebelum libur tiba sehingga bisa liburan dengan tenang. Tapi ada juga yang mulai terkena sindrom liburan sehingga bermalas-malasan dan berfikir untuk menunda pekerjaan hingga nanti setelah liburan.

Sangat bagus kalau manajemen menyadari kondisi sindrom ini, sehingga layak melakukan berbagai aksi motivasi untuk menjaga kinerja serta memastikan semua hal berjalan sebagaimana mestinya.

Pastikan semua tim kerja tidak saja hanya hadir secara fisik di pekerjaan tetapi juga hadir dengan batin dan pikiran yang fokus, sehingga waktu tidak terbuang percuma.



Pengawasan

Sindrom liburan memberikan efek ‘lengah’. Sementara itu peraturan dan disiplin harus di tegakkan. Prinsip dasaranya adalah menegakkan kata “serius”, serius pada waktu serius dan serius pada waktu tidak serius.

Dengan serius mengerjakan tugas menjelang liburan, tentu itu bisa menjadi jaminan untuk bisa serius menikmati liburan tanpa terganggu oleh pikiran-pikiran akan pekerjaan yang belum terselesaikan.

Pimpinan harus dengan luwes dan bijaksana membawa pola-pola pengawasan yang lebih melekat. Forum-forum meeting dan briefing harus dimanfaatkan secara maksimal agar fokus perhatian tetap terjaga hingga waktu liburan tiba.

Sayangnya, kadang-kadang semua komponen manajemen memberikan toleransi atar ‘kendornya’ semangat kerja. Mulai dari jajaran pekerja terbawah hingga pimpinan utama di puncak struktur manajemen.



Spirit “holiday sale”

Ada kelompok usaha yang semakin bersemangat pada saat menjelang liburan. Mereka adalah bisnis-bisnis yang melayani pelanggan khusus menjelang liburan. Katakanlah pusat-pusat perbelanjaan; mereka dengan semangat tinggi mengobarkan gempita suasana liburan, dari mulai dekorasi, paket-paket diskon hingga promosi-promosi gila-gilaan.

Semangat tersebut menular hingga ke hati pekerjanya. Suasana ramai menjelang liburan justru memberikan pengaruh positif kepada semua jajaran yang terlibat dalam bisnis tersebut.

Mungkin ide semangat tersebut bisa diadopsi untuk praktisi bisnis yang lain. Sebuah semangat untuk menghabiskan hari kerja menjelang liburan dengan tetap produktif dan efisien. Sebuah semangat yang memberikan kesempatan liburan tanpa tergangu oleh pekerjaan yang tertunda gara-gara pikiran hanya memikirkan suasana menjelang liburan.



Sesudah liburan

Sindrom liburan biasanya tidak saja memberikan demam menjelang liburan, tetapi juga selama beberapa waktu setelah liburan.

Lihatlah betapa orang-orang pada umumnya memilih memperpanjang liburannya. Dan jika mereka kembali juga bekerja, biasanya suasana kerja pada hari-hari pertama setelah liburan juga persis seperti suasana menjelang liburan. Secara fisik orang-orang ini sudah berada di kantor, tetapi pikiran dan perasaan masih tertinggal di liburan yang sudah berlalu.

Suasana liburan seolah-olah sayang untuk begitu saja dilupakan dan dibiarkan lewat. Obrolan-obrolan masih saja berkisar tentang liburan. Secara umum suasana kerja masih pelan dan cenderung berhenti.



Memenangkan persaingan

Bagi siapapun yang ingin memenangkan persaingan. Saat menjelang liburan dan sesudahnya adalah waktu yang paling tepat. Karena pesaing umumnya masih terkena sindrom liburan. Mereka masih asik dengan liburannya. Dan pada saat itulah kesempatan terbuka lebar untuk memulai lebih awal dari pada pesaing yang masih terlena.

Tentu saja diperlukan energi motivasi yang tinggi. Energi yang mampu melawan rasa malas. Energi yang mengharuskan kita mulai lebih pagi daripada orang lain.

Konon untuk menjadi juara, yang diperlukan hanyalah usaha yang sedikit lebih besar, lebih banyak atau lebih sedikit lebih baik dari pesaing yang ada. Lihatlah perlombaan lari cepat, perbedaan antara pemenang dan yang kalah hanyalah 0,0 sekian detik lebih cepat. Lihatlah pemenang lomba renang, perbedaan jarak antara pemang dengan yang kalah, hanyalah sekian jari lebih didepan.

Itu bukti, bahwa untuk menjadi pemenang hanyalah usaha sedikti lebih banyak dari orang kebanyakan. Sedikit saja dan jadilah anda pemenangnya.

Selamat berlibur dan tetap mempertahankan prestasi.



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com




Bookmark and Share


Previous
Next Post »