Susah Itu Perlu

Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan pada tgl 18 januari 2010 di halaman ekonomi dan bisnis http://issuu.com/waspada/docs/waspada__senin_18_januari_2010halaman



SEPEDA tua dikayuh kaki kurus seorang bocah kecil berusia 13 tahun menyusuri perkebunan karet di pelosok daerah Galang- Deli Serdang. Tanpa banyak bicara si bocah ini terus menerobos gelap subuh yang dingin berembun. Sesekali ia abaikan saja para pencuri ayam yang berlari ketakutan membawa barang curiannya.

Begitulan awal hari si bocah kecil kurus ini yang harus membantu orang tuanya bekerja menderes pohon karet setiap hari sebelum siangnya bersekolah disalah satu SMP di kampungnya. Beruntung kalau langit tidak mencurahkan hujannya dan ban tidak kempes. Kalau sial sedang menghampirinya, beberapa kali ia harus terpeleset masuk ke parit atau menyeruduk pepohonan bambu demi menghindarkan pepohonan yang tumbang ke jalan karena hujan badai.

Tangan kurus itu lincah menggores pokok karet untuk mendapatkan getah yang segar mengalir ke penampunganya. Dan tangan itu pula harus menerima ejekan dari kawan sekelasnya karena bau getah karet yang menempel di tangan itu tidak mudah hilang meskipun dibasuh dengan tujuh gentong air. Ia tetap berusaha bersekolah, sebisanya. Hingga fisik kurus itu tidak sanggup menerima beban untuk orang dewasa. Ia jatuh sakit.

Pembaca yang budiman, ijinkan kali ini saya menceritakan ulang pengalaman pahit yang menjadi pemacu keberhasilan seorang Haji Juarso, pengusaha bengkel las dan toko besi/perlengkapan bangunan yang cukup dikenal di kecamatan Hamparan Perak. Dialah si kecil kurus yang saya ceritakan itu.

Kali ini saya tidak ingin mengulas apapun dari sebuah keyakian bahwa penderitaan dan susah yang tidak membunuh kita, justru akan memperkuat diri kita.

Ongkos naik kelas

Si Icuk –demikian nama panggilannya-- ini harus tetap membantu orang tuanya yang hanya kuli kecil di perkebunan milik pemerintah dengan pendapatan yang terbatas untuk menghidupi seorang istri dan 5 orang anaknya. Icuk kecil ini berikutnya bekerja membabat rumput di areal sawit pada pagi hari dan sekolah pada sore harinya. Hingga nasib memaksanya untuk berhenti sekolah demi adik-adik yang dicintainya.

Setiap tebasan parang pembabat rumput itu berayun, si kurus ini sesekali memikirkan nasib dirinya yang tidak seberuntung orang-orang lain. Saat itu juga terfikir apakah harus seumur hidup ia akan menjadi pembabat rumput. Menjawab pertanyaan itu Icuk menyisihkan sedikit demi sedikit honor kerjanya untuk sebuah cita-cita; satu setengah tahun menabung, cukuplah ia memiliki ongkos pendaftaran kursus menjahit.

Singkat cerita, ia bagi waktu pagi untuk membabat rumput dan sore hari untuk kursus menjahit di daerah Perbaungan. Dengan semangat tinggi dalam beberapa bulan ia sudah cukup mahir hingga akhirnya si guru menawarkan gaji untuk pekerjaan jahitnya. Ia tinggalkan parang babat rumput dan mesin jahitlah yang memutar roda pendapatannya.

Si penjahit pemula ini tidak tahu kalau gaji pemula berbeda dengan gaji penjahit yang sudah senior. Sempat ia menghitung-hitung dalam sebulan itu ia bisa mengantongi sekitar Rp.40.000,- tetapi pada akhir bulan ia hanya menerima Rp.9.000,- saja. Senyum pahit menjadi penghias bibirnya menyadari bahwa senioritas dan pengalaman kerja adalah salah satu standar pendapatan.

Merantau

Sekali waktu icuk muda pernah mencari pekerjaan ke pengangkutan sawit yang beroperasi di areal perkebunan sekitar selatan Tebing Tinggi dan ia tidak membawa pakaian ganti barang sehelai pun. Jadilah ia pekerja dengan satu set baju yang hanya menempel dibadannya. Selama itu ia tidak pernah ganti baju. Setiap ada kesempatan mandi, ia manfaatkan untuk sekaligus mengucek bajunya dan ia biarkan baju basah itu kering sendiri selama menempel di badannya.

Pada kesempatan lain icuk harus mengantarkan neneknya kembali ke jawa. Mengisi kesosongan kegiatan selama di rumah neneknya ia bekerja sebagai tukang catat lalu lintas penggalian tanah hingga ia bekerja di pabrik konfeksi. Hingga ia mampu menjadi juru ukur dan juru potong.

Beberapa tahun berikutnya kembali ke kampung dan jasa jahitan di rumahnya di kampung. Sembilan bulan jahitannya ramai order, tapi berikutnya sepi senyap karena satu batalion tentara pelanggannya ditugaskan ke Timor-timur.

Kembali ia nganggur. Hingga salah satu pelatih dari batalion itu yang menawarkan pelatihan teknis di Balai Latihan Kerja di Medan. Pelatihan beberapa bulan itu mengantarkan dirinya mengenal dunia teknik mengelas. Perjalanannya tidak semudah yang dibayangkan. Ia tidak punya uang dan tidak ada saudara untuk tempat tinggal, hingga ia memberanikan diri menumpang di salah satu bengkel las dengan menawarkan jasa kerja tanpa bayar asal ia bisa menumpang tidur.

Pagi hari belajar di BLK dan siangnya bekerja di bengkel. Walaupun tidak di gaji, ia mendapat uang saku sebesar Rp.2.000,- per minggu dari induk semangnya. Pembaca yang budiman, uang dua ribu rupiah itulah yang menghidupinya setiap hari selama seminggu. Artinya ia hanya boleh mengeluarkan dana sebesar Rp.300,- saja tiap harinya. Untuk sarapan ia menggunakan Rp.100,- untuk membeli 4 potong pisang goreng dan Rp.200,- untuk makan siang yang hanya nasi kuah dan sepotong tempe.

Berdikari

Keputusannya bulat setelah mahir mengelas untuk membuka bisnis sendiri Icuk membuka bengkel las di Kecamatan Hamparan Perak. Perjalanannya tidak mudah, sekali waktu tabung lasnya meledak dan ia harus terkapar berhari-hari di rumah sakit.

Sesudahnya muncul keraguan untuk melanjutkan bisnis atau kembali ke kampung. Hingga akhirnya icuk memengangkan pikirannya dengan meyakini tidak mungkin tabung las akan meledak setiap saat. Bermodal satu-satu sapi milik sang ayah, ia membuka kembali bisnis las nya.

Kebutuhan besi, cat dan berbagai keperluan las mengilhaminya untuk membuka toko besi. dan begitulah seterusnya, satu persatu bisnisnya berkembang hingga saat ini. Tentu saja, banyak sekali proses gagal dan rugi yang pernah ia alami, tetapi kesemuanya itu justru memberikan pelajaran yang sangat penting bagi dirinya.

Icuk belajar teknik pemasaran dengan bergabung pada jaringan multi level marketing dan asuransi. Icuk belajar memimpin dengan bergabung pada organisasi kemasyarakatan. Icuk belajar pemberdayaan diri dengan bergaul dengan orang-orang lain.

Icuk yang lulus SMA melalui ujian persamaan kini menjadi mahasiswa tertua di salah satu perguruan tinggi swasta di Medan. Ia tidak malu dan gengsi. Terlalu banyak susah dan derita yang dia lewati, hingga semuanya justru menjadi pil untuk kesehatan jiwanya yang ingin terus berkembang dan maju.

Yang tak pernah saya lupakan dari seorang Haji Juarso adalah pernyatannya, “Susah itu perlu”.



Konsultasi dan pelatihan; tj@cahyopramono.com




Bookmark and Share

Previous
Next Post »