Belanja di kedai sendiri


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 15 februari 2010 di halaman bisnis dan teknologi




Selamat Pagi pembaca yang budiman. Tulisan ini dibuat dalam suasana indahnya tahun baru Imlek dan suana hari Valintine. Kepada yang merayakannya, saya ucapkan selamat, semoga perayaan itu membawa kebaikan hari ini dan yang akan datang.

Pembaca yang budiman, adalah seorang broker saham yang selalu berusaha mencari pelanggan baru, menjaga pelanggan lama dan intinya selalu bergaul ke sana–sini. Pertemuan yang sering mereka lakukan biasanya di restoran, cafe atau lounge hotel-hotel berbintang.

Kawan broker tadi amat banyak mulai dari agen asuransi, agen property, wiraniagara otomotif dan masih banyak lagi. Mereka semua selalu duduk-duduk di tempat yang sama. Karena tuntutan pekerjaannya, mereka sangat tahu semua tempat duduk-duduk di kota mereka.

Sampai suatu ketika salah seorang dari mereka mengusulkan sebuah ide untuk membuat bisnis yang sama. Mereka berniat membuat sebuah restoran dan cafe yang nyaman untuk duduk dan berbicara. Cafe itu tertata dengan baik dan mencitrakan kelas yang mapan. Dengan pertimbangan, toh mereka sendiri juga selalu mengeluarkan uang hampir tiap hari untuk membayar minuman dan makanan mereka sendiri dalam rangka berhubungan dengan para relasinya. Jadi kalau uang itu dibayarkan ke restorannya sendiri, pada akhirnya mereka juga akan mendapatkan keuntungannya.

Lalu dikumpulkanlah 40 orang kawan-kawan mereka yang memeliki ketertarikan yang sama dan jadilah ke 40 orang itu sebagai pemegang saham. Kekuatan keloktif itu menarik perhatian saya. Karena dengan jumlah pemilik saham yang banyak, maka nilai investasi tidaklah amat besar bagi masing-masing pemegang sahamnya. Masing-masing investor memandang bisnis ini menjadi semacam tabungan yang tidak mengganggu arus keuangannya.

Ke 40 orang itu sendiri adalah orang-orang yang memiliki jaringan perkawanan masing-masing. Mereka memiliki kawan yang tidak sedikit dan mereka sendiri adalah pelanggan dari bisnis mereka sendiri; belanja di kedai sendiri.

Tentu saja karena restoran mereka tertata dengan baik, maka pelanggan lain yang bukan pemegang saham juga lumayan besar jumlahnya. Dan jadilah bisnis itu menguntungkan dan berkembang cepat dan pesat.

Tulisan ini saya sengaja untuk memberikan inspirasi bahwa konsep ini sangat mungkin dilakukan dimanapun anda berada. Karena duduk di warung kopi dan bersosialisasi adalah kebutuhan kultur kita, dari desa hingga ke kota, budaya dasarnya itu tidaklah ada perbedaannya.

Investasi bersama

Ide dasarnya mirip dengan koperasi; dimana kekuatan kolektif adalah kuncinya. Lalu semakin banyak investornya, semakin bagus permodalan dan pemasarannya, karena pemodal pada akhirnya adalah pelanggan pertamanya. Ketika saya menyebut banyak, bukan berarti sangat banyak, karena akan menyelitkan koordinasi lanjutannya.

Tentu saja, ada persyaratan yang idealnya dipenuhi untuk memilih para pemegang saham. Yang pertama, idealnya pemegang saham adalah pelanggan jasa/produk sejenis yang aktif. Artinya jika ingin membuat sebuah cafe, pastinkan pemegang sahamnya adalah orang-orang yang memang sering ke cafe, bukan orang rumahan yang tidak pernah keluar bersosialisasi.

Yang kedua; pastikan pemegang saham itu bedomisili di kota lokasi bisnis, bukan jauh diluar kota yang tidak akan pernah menjadi pelanggannya. Ini menjadi penting karena bisnis ini harus berjalan dan pelanggan utamanya adalah pemegang saham itu sendiri.

Yang keempat; pastikan bahwa para pemegang saham itu tidak memiliki bisnis yang sejenis dengan usaha bersama ini. Karena akan terjadi cambrukan peran dan preferensi. Akan ada persaingan dalam pelaksanaannya.

Yang kelima; pastikan para pemegang saham adalah orang-orang yang paham etika berinvestasi bersama. Karena nantinya group ini akan mempekerjakan pekerja profesional. Dan para pemegang saham tidak terlibat langsung dalam praktik bisnis sehari-harinya. Ini penting untuk menghindarkan konflik-konflik kecil dalam operasional kesehariannya.

Yang keenam; bisnis ini umumnya berputar dalam hitungan tahunan sehingga pembagian hasil juga dilakukan setelah beroperasi setahun. Jadi pastikan pemegang sahamnya adalah orang-orang yang tidak tidak memiliki dana pas-pasan sehingga tidak terganggu keuangannya dengan berinvestasi dalam bisnis itu sendiri.

Kedai bersama

Praktek bisnis bersama ini idealnya sudah mulai diformat bentuknya jauh hari sejak awal. Ada semacam gambaran yang jelas mengenai jenis bisnis, lokasi, perkiraan nilai investasi, siapa yang akan mengoperasionalkannya, perkiraan nilai keuntungan dan gambaran-gambaran lainnya. Biasanya rencana ini disusun oleh pihak yang berinisiatif dan diperbaiki dengan menampung pendapat bersama.

Gambaran tersebut digunakan untuk mengarahkan pihak-pihak yang hendak diajak bergabung menanamkan saham dan semacam bayangan kepada pihak pelaksana operasional bisnis.

Dalam pelaksanaan operasional bisnisnya, tentu saja tidak ada perbedaan yang mendasar antara konsep ini dengan konsep bisnis yang regular pada umumnya. Perbedaan hanya terletak pada komposisi dan jumlah pemegang sahamnya saja.

Perlakuan terhadap para pemegang saham juga relatif sama dengan perlakukan serta pelayanan kepada pelanggan-pelanggan biasa lainnya. Sampai pada akhirnya, para pelanggan tidak bisa membedakan siapa tamu biasa dan siapa si pemegang saham. Karena pemegang saham pun akan membayar persis seperti pelanggan lainnya setiap kali ada transaksi.

Mungkin yang sedikit membedakan adalah adanya pemberian diskon dalam nilai tertentu kepada para pemegang saham jika melakukan transaksi. Dalam pemberian diskon harus sangat bijaksana, karena kalau diskon yang diberikan berlebihan dan melewati ambang wajar, justru inilah yang nantinya akan menjadi bumerang dan merugikan usaha bersama.

Untuk mengantisipasi permintaan khusus dari pra pemegang saham, mungkin bisa saja dibuatkan format point reward. Artinya, setiap transaksi dari pemegang saham, akan dicatat dan diberi tanda, hingga pada akhirnya akan diberikan penghargaan berdasar jumlah poin tersebut.

Bentuk penghargaannya bisa berpola seperti pembagian sisa hasil usaha dalam koperasi. Artinya yang lebih banyak bertransaksi harusnya mendapat kelebihan karena mereka itu memberikan tambahan omzet yang jelas bagi usaha bersama ini.

Konsep usaha bersama ini terbukti sukses di terapkan di salah satu restoran ternama di Jalan Patimura Medan dan di Komplek Club tertua di kota Medan.

foto = http://boysandgirlsagency.files.wordpress.com/

Konsultasi dan pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »