Kata Siapa?

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan pada tanggal 08 maret 2010, di halaman bisnis dan teknologi
foto by andre
Suatu waktu, kami berlima menghadiri undangan makan malam dari seorang kawan. Dia dengan sedikit memaksa meminta kami mencicipi resep temuannya. Subhanallah... jika pantas, kami benar-benar ingin muntah setelah mencicipinya.

Dia sangat bangga dan memakannya dengan sangat lahap. Tapi sungguh lidah kami yang jarang berpetualang ini benar-benar kaget atas kombinasi rasa pedas yang aneh, getir, asin dan sedikit bau daun mentah.

Pada kesempatan lain, kami berkelompok selalu merasa yakin bahwa kami adalah orang-orang dengan talenta menyanyi yang tidak bisa disepelekan. Dari karaoke ke karaoke, dari satu pesta ke pesta lain; kami selalu yakin dengan penampilan vokal kami. Bahkan kami dengan percaya diri merekamkan suara kami dengan bantuan studio mini seorang sahabat. Memang kami tidak sebagus Harvey Malaiholo hingga rekaman hanya dicetak untuk diri sendiri dan tidak kami pasarkan.

Kala itu belum ada acara-acara yang seperti American Idol atau Akademi Fantasi Indosiar, jadi kami pun tidak pernah ikut acara yang demikian. Tetapi kemudian setelah memperhatikan tayangan-tayangan proses audisi dalam acara reality show itu, terutama pada bagian peserta-peserta yang gagal, kami semua mulailah menyadari bahwa kami sebenarnya hanya penyanyi kamar mandi yang hanya layak tampil di karaoke pribadi.

Melihat si Sinis Simon Cowel –juri American Idol-- dalam memberikan komentar kepada peserta yang jelek dan tereliminasi, rasanya seperti kami menjadi orang-orang itu. Tersentak dan tersadar bahwa kami hanya merasa habat, tetapi tidak dalam pandangan orang lain.

Sungguh pegalaman itu menjadi catatan penting dalam pemikiran saya mengenai persepsi yang berhubungan dengan konsep pemasaran. Bayangkan jika kawan saya itu membuka restoran yang menjual masakan ciptaannya.
PeDe yang nyalah

Kredibilitas diri memang layaknya bukan dilihat dari pengakuan diri, tetapi bagusnya adalah merupakan aksi yang ditunjukkan sehingga mendapatkan pengakuan dari orang lain. Artinya, sekadar percaya diri tanpa pendapat dari pihak luar, biasanya berakibat buruk jika dihubungkan dengan banyak orang.

Hal ini yang sering saya termui dalam dunia pemasaran. Contohnya, saya sering sekali mendengar atau membaca pengakuan sebuah media bahwa dirinya khusus untuk kalangan menengah keatas. Mereka mengaku bahwa segmen pasar mereka adalah orang-orang elit. Ketika ditanya, “itu kata siapa?”, biasanya menurut survey internal. Sesuatu yang tidak cukup layak untuk dipercaya.

Karena siapapun boleh-boleh saja mengaku sebagai apapun. Jangan-jangan saya pun boleh mengaku bahwa saya adalah anak dari seorang raja yang hebat. Tetapi toh orang-orang juga tahu apakah saya memang berperilaku dan berlatar belakang seorang anak raja. Mengaku hebat, seringkali adalah refleksi dari ketidak hebatannya saja.

Artinya, jika mencoba meyakinkan seseorang untuk membeli sesuatu bagusnya bukan sekadar pengakuan diri, tetapi merupakan rekomendasi dari orang lain.

Dalam membangun media-media promosi, tidak sedikit pelaku pemasaran yang tidak melakukan upaya ‘mendengar’ dan ‘melihat’ dari sudut pandang orang lain. Mereka merasa bahwa design yang dibuatnya sudah sangat sempurna tanpa memperhatikan apa yang akan dipikirkan dan dirasakan oleh calon konsumen yang membaca pesan-pesan itu.

Rekomendasi

Nah disinilah kuncinya. Kata orang lain. Orang akan lebih percaya jika ada pengakuan yang merupakan rekomendasi dari pihak lain. Jadi jika kawan anda memberitahukan kepada kawan-kawan yang lain bahwa anda adalah orang baik, tentu akan sangat mudah diterima dan dimaklumi. Berbeda jika anda sendiri yang mengaku bahwa anda adalah orang yang baik dan sebagainya.

Semua calon pemimpin daerah yang akan mengikuti pemilihan biasanya mengaku dirinya baik, cerdas, santun, penolong, tegas dan lain sebagainya, tetapi akan lebih dipercaya jika yang menyampaikannya adalah orang lain.

Berbicara tentang calon pemimpin daerah yang kalah. Secara umum sebelum proses pemilihan, mereka merasa dirinya mendapat dukungan dari semua orang. Padahal itu hanya dari perasaan dirinya sendiri atau orang-orang yang terbatas dilingkungannya tanpa studi yang objektif dan luas.

Semestinya harus ada upaya mencari pendapat-pendapat orang yang luas sesuai dengan sasaran penciptann strategi untuk mendapatkan gambaran akhir dari sebuah asumsi.

Meminta rekomendasi dari para ahli juga merupakan pilihan cerdas, tetapi jangalan bergantung kepada satu sumber untuk memastikan rekomendasinya benar dan tepat.

Sisi lain PeDe

Jikalah suatu ide adalah sebuah karya cipta yang didedikasikan untuk menjadi motor perubahan, tidak salah jika rasa percaya diri itu dibangun dengan kuat tanpa harus banyak mempertimbangkan pendapat banyak orang. Banyak sejarah dunia membuktikan bahwa perbedaan jusru menciptakan hal yang istimewa.

Mungkin kita masih ingat bagaimana seorang Gustaf Eifel --penggagas menara eifel di Paris—sangat sulit saat memulai pembangunan menara yang kini menjadi kebanggaan negera Perancis itu. Gustaf Eifel mendapat cemoohan dan penolakan-penolakan yang lumayan hebat dari masyarakat Kota Paris. Mereka menganggap bahwa menara itu sangat jelek, tanpa keindahan apapun karena hanya terdiri dari susunan besi-besi hitam. Tetapi Gustaf Eifel terus saja menutup telinga dan membangun keyakinan dirinya dan kini kita menikmati karyanya itu.

Demikian juga dengan penemu jam digital yang ditertawakan oleh ahli-ahli jam di Swiss yang merasa lucu dengan ide pembuatan jam digital, dan kini jam digital menjadi pilihan yang tidak bisa dilupakan.

....

Kembali ke jamuan makan malam dari kawan kami, malam itu kami sangat kekenyangan air karena harus minum lebih banyak demi mendorong makanan yang terpaksa kami jejalkan ke mulut. Mungkin karena kami tidak ingin mengecewakannya, kami terpaksa berkorban berpura-pura menyukainya.

Dan yang kami lakukan adalah pembodohan. Menipu diri dan menipu kawan dengan membiarkan dia merasa sukses tanpa memberi masukan yang konstruktif. Dan saya rasa hampir semua orang lebih banyak memilih bersikap seperti kami.



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com



Previous
Next Post »