Rasa Lezat itu di Mata

tulisan ini sudah di terbitkan di harian waspada pada halaman bisnis dan teknologi tanggal 22 maret 2010



Sobekan pisau tajam si Koki mengiris tipis kebab yang menjulang itu. Asap beraroma sedap sedikit mengepul dari tumpukan daging panggang ala timur tengah itu. Dari bentuknya, saya bisa merasakan betapa lembut daging itu. Dengan melihat meleleh minyaknya saya bisa merasakan resapan bumbu-bumbu sedapnya, belum lagi saus pedasnya. Ehm... lidah saya bermain memberi tanda bahwa makanan itu lezat.

foto: mike.brisgeek.com
Pada saat yang sama, hati saya bimbang karena disebelahnya ada stall kambing guling yang hangat segar diatas panggangan, lalu stall makanan pasta yang berisi belasan jenis pasta yang didominasi mie. Baik mie asia maupun mie dari eropa, mau di kukus, di rebus atau digoreng, semua terserah selera si pemilih. Disudut ada stall piza yang dikerjakan secara terbuka didepan tamu-tamu lengkap dengan oven yang diset seperti tungku bakar asli.

Disudut yang lain hidangan penutup menawarkan banyak pilihan dari es krim, berbagai jenis tiramusi, kue-kue tradisional hingga buah-buahan segar. Pada saat itu saya terprofokasi oleh kelezatan makanan dan minuman bahkan sebelum saya mencicipinya.

Tata letak makanan, tata cahaya hinga tata pewarnaan tampilan makanan, benar-benar mengundang selera yang dasyat walaupun saya belum mencicipinya. Ya bahkan sebelum saya mencicipinya.

Sebelum dicicipi

Bayangkan anda sedang memegang sebuah daftar menu sesaat sebelum anda memesan makanan. Pada saat itu anda ingin sekali makan ayam panggang, dan disana hanya ada dua pilihan menu yang berhubungan dengan ayam. Pilihan pertama adalah Ayam Panggang Kalasan dan yang kedua Ayam Panggang Gosong. Saya yakin kita akan memilih menu pertama. Dalam hal ini bukan karena pilihan pertamanya memang lezat, tetapi jelas pilihan yang lain adalah ayam yang gosong. Dalam pikiran kita, gosong berarti terbakar habis dan seperti menjadi arang, arang itu jorok dan pahit. Jadi, pasti ayam panggang gosong bukanlah menu yang pantas utuk dipilih. Itulah salah satu bukti bahwa kelezatan itu bermula dari mata.

Kemudian, jika anda melihat daftar menu yang juga menampilkan foto dari makanan yang disajikan, pasti kita akan lebih mudah memilihnya. Dari tampilan foto itu kita bisa mengira-ira besaran porsi, apa saja yang ditampilkan di permukaan makanannya dan dari warna dan bentuknya, kita bisa ‘merasakan’ lezat dan tidaknya sebuah makanan atau minuman. Hanya dengan gambar itu, bahkan kita bisa membayangkan kelembutan tekstur makanannya, kerenyahan serta tingkat pedasnya. Wow....

Persis seperti pada siang hari di bulan Ramadhan, rasanya semua makanan dan minuman yang tampil di pesawat televisi adalah makanan dan minuman yang amat lezat. Jika itu minuman, bahkan kita bisa seolah-olah bisa merasakan dinginya tetesan embun yang mencair di badan gelas minuman itu. Warna-warna minuman itu terasa memberikan gambaran tingkatan rasa manisnya. Dan jika itu menyangkut rasa buah-buahan, warna-warna yang digunakan dalam iklan tersebut rasanya seperti menghadirkan nuansa buah yang dimaksud. Dan kita langsung memahami kelezatannya.

Artinya, ilustrasi menu makanan menjadi unsur penting dalam membantu terpromosikannya pilihan menu tersebut.

Kini, banyak sekali rumah makan yang menawarkan kesempatan kepada tamu-tamunya untuk melihat langsung proses pembuatan makanannya. Baik berupa front cooking (masak langsung didepan meja tamu) maupun menggunakan dapur transparan yang kadang hanya terbatasi oleh sebilah kaca jernih sehingga orang bisa melihat langsung kedalam dapur. Konsep ini menantang, karena dituntut untuk masak dengan tontonan. Artinya pihak restoran memotifasi dirinya untuk selalu tampil bersih, higenis, teratur dan atraktif, karena semua orang bisa melihat prosesnya secara langsung.

Seperti cara jugling (memainkan gelas, botol pengkocok dan botol minuman dalam bentuk atraksi) oleh bartender, proses mempersiapkan makanan dan minuman menjadi hiburan tambahan. Dan pada saat yang bersamaan tamu-tamu tidak merasa bosan menunggu dan bahkan menstimulasi rasa lezat sebelum memakannya nanti.
Berhati-hati

Berhati-hatilah dengan konsep terbuka ini. Tidak semua orang bisa menerima teknik proses pembuatannya. Ada beberapa proses yang harus dilakukan dengan sentuhan tangan langsung. Misalnya pada saat pengadonan dan saat penyajian. Tangan yang tanpa pembungkus berpotensi mengundang bermacam-macam pikiran. Tentu ada yang bagus dan ada juga yang nyleneh dan menjijikan. Belum lagi badan si pemasak, jika rambutnya terurai berantakan tanpa penutup kepala, jelas itu mencurigakan, anda bisa menafsirkan ketombe atau rambut yang jatuh bukan?

Sekarang banyak sekali tayangan program kuliner di televisi nasional. Bagus sekali ide program ini, tetapi kadang mereka lupa bahwa kebanyakan makanan enak itu diproses dengan cara yang tidak kita terima secara preferensi. Misalnya makanan gorengan. Kita menghendaki proses pengorengannya menggunakan sendok untuk meletakkannya di penggorengan, bukan dengan tangan langsung tanpa pembungkus tangan. Kita juga menghendaki minyak goreng yang higinis bukan yang sudah hitam gelap seperti parit tercemar oli bekas.

Saya pikir, sebenarnya banyak sekali makanan lezat yang diolah dengan cara yang tidak kita terima di perasaan, tetapi begitulah adanya. Ada yang harus diinjak-injak dengan kaki telanjan, ada yang harus diaduk-aduk dalam panas dan pengaduknya berkeringat habis, ada juga proses yang harus diasapkan dalam gantungan penuh lawa-lawa.

Dari mata turun ke lidah

Saya jadi ingat pertama kali saya terpesona oleh makanan hot plate (makanan yang disajikan menggunakan piring tanah panas sehingga pada saat disajikan masih ada kepulan asapnya). Kepulan asapnya seperti kereta api uang, menyembul dari ceronbongnya, berjalan dari dapur hingga meja pemesan. Lalu tak berapa lama uap itu hilang dan meninggalkan aropa makanan yang lezat keseantero ruangan.

Saat itu saya pikir makanan itu yang memang panas sehingga berasap, padahal ternyata piringnyalah yang dipanaskan dan sedikit tetesan kuah atau saus yang membuatnya mendidih dan mengeluarkan asap harum.

Saat itulah saya percaya lezat itu bermula dari mata, bukan dari lidah.



Konsulatasi & Pelatihan tj@cahyopramono.com

Previous
Next Post »