Warna dalam pemasaran

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 29 maret 2010, pada kolom inspirasi di halaman bisnis dan teknologi
foto: na
KEINDAHAN rasanya mucul dari keberagaman. Salah satunya adalah warna. Sepertinya gairah hidup kok nggak akan tercipta kalau yang terlihat hanya satu warna saja. Bayangkan betapa membosankan jika semuanya hanya terlihat putih atau hanya terlihat hitam saja untuk waktu yang lama.

Warna sangat berpengaruh kepada emosi dan perilaku. Sepertinya setiap warna memiliki kekuatan dan daya dorong emosi yang berbeda-beda. Seperti warna-warna bendera kebangsaan, warna-warna itu memainkan perasaan kita sehingga kita ’diarahkan’ untuk berperilaku seperti muatan warna tersebut. Warna bisa menggugah emosi dan suasana hati, mampu menciptakan kesan, menyampaikan pesan, bahkan menggugah ingatan.

Warna merupakan unsur pertama yang terlihat dan mudah diingat. Saya terkadang lebih sering ingat baju seseorang yang baru saya kenal ketimbang namanya. Bukankah begitu?

Lalu, apakah anda menyadari, bahwa mode warna tertentu secara serempak membanjiri pasar, dicari, dan dikenakan orang, lalu selang beberapa waktu kemudian digantikan warna-warna lain.

Kecenderungan warna yang bergonta-ganti tidak hanya terlihat dalam busana atau produk mode saja, melainkan juga di pernak-pernik dan dekorasi rumah, peralatan elektronik, grafis, berbagai produk konsumen, otomotif, dan sebagainya. Itulah tren warna, yang dalam kehidupan modern sekarang ini, semakin berperan dan tak mungkin lagi diabaikan.

Kini warna bukan saja menjadi sekadar ‘penghias’, tetapi sudah menjadi peluru untuk kepentingan pemasaran. Produsen-produsen besar, tidak asal memberi warna produknya, tetapi mereka benar-benar memperhatikan pasar dan tren yang disenangi pasar.

Bagi para produsen, warna adalah unsur penting yang harus ikut berubah mengikuti perkembangan berbagai bidang. Dengan mengubah warna, baik sedikit maupun total, kesan dan suasana yang hadir pun jadi baru. Dan atas nama pasar, kini tren warna menjadi panduan penting bagi produsen yang nantinya dimodifikasi sesuai kebutuhan dan ciri produk.

Bukan mengherankan bila konon, riset menunjukkan bahwa sekitar 65 persen keputusan belanja konsumen ditentukan oleh warna dan kemasannya.

Tren warna

Di Negara maju umumnya memiliki kelompok-kelompok yang mempelajari dan mengembangkan arahan warna. Mereka adalah para designer dan ahli perancang warna. Mereka berlatar belakang mode, dan berbagai industri yang berkaitan dengan warna. Di negara barat sana, mereka membuat pertemuan setahun dua kali untuk menentukan tren warna.

Dalam pertemuan pendahuluan sebelumnya ada studi dan kajian mengenai warna-warna yang berpotensi menojol di pasar atau merencanakan warna-warna yang akan tampil di pasar dalam siklus berikutnya. Mereka melakukan pertemuan berkali-kali dan hasil kajian itu dikemas dalam bentuk Color Forecast atau "Prediksi Warna" yang akan berlaku untuk 18-24 bulan ke depan. Dari sinilah demam warna dunia dimulai.

Dari sanalah media-media yang berhubungan dengan mode memulai kiprahnya. Ada semacam mekanisme yang beruntun hingga akhirnya warna-warna itu mewabah mewarnai berbagai produksi baru di seantero jagad. Tidak heran, jika kini ada rumah mungil di sudut Pulau Samosir yang menggunakan warna-warna minimalis.

Tidak Pasti sama

Tentu saja kesepakatan warna para perancang itu tidak serta merta menjadi warna dunia. Karena media informasi dan komunikasi yang semakin merata serta media transportasi juga semakin mudah, maka trend warna yang diluncurkan itu relatif bisa bergerak cepat menjangkau seluruh penjuru dunia dalam hitungan bulan.

Dan sudah pasti trend warna tersebut tidak otomatis teraplikasikan di seluruh penjuru dunia. Masing-masing daerah akan menyesuaikannya dengan warna-warna kultural yang mereka anut. China dengan warna merahnya dan Arab dengan warna putihnya jelas sulit tergantikan. Walaupun warna-warna itu bermain dibidang lain, seperti kendaraan, elektronik, rumah dan lain sebagainya.

Aplikasi

Nah, sekarang saya ingin mengajak anda memikirkan penerapannya untuk bisnis kita sendiri. Mungkin bagus jika kita mulai mengamati kembali pewarnaan kita. Baik dalam bentuk produk, kemasan, bahasa promosi, kantor ataupun seragam. Sebelum melihat referensi warna-waran terbaru. Amatilah apakah warna itu cukup memberikan pengaruh rasa positif?

Lalu langkah yang berikutnya adalah mengamati bagaimana harapan pasar terhadap warna tersebut. Apakah sudah saatnya untuk diubah dan diperkenalkan ulang? Efek apakah yang anda harapkan dari perubahan warna tersebut.

Bagi anda yang menghedaki pemahaman tentang warna dan efeknya, saya pikir ada lebih dari 10 buku yang beredar di pasaran yang membahas masalah ini secara detail. Belum lagi majalah-majalah mode yang terus bergerak memberikan informasi terbaru.

Referensi tersebut akan membahas secara detail makna-makna warna dan pengaruhanya, seperti; warna kuning mencerminkan sifat ceria, kegembiraan, santai, mempunyai cita-cita yang tinggi seperti sifat matahari yang ada di tempat tinggi, terlihat indah, menghangatkan dan memberikan ilmu pengetahuan. Bisa mengubah perasaan yang sedang murung menjadi lebih ceria dan bersemangat.

Jingga bersifat komunikasi karena membawa keceriaan, kegembiraan, kehangatan, rasa humor dan keakraban di dalam ruangan sehingga baik sekali untuk meningkatkan kreativitas dan semangat di ruang kerja dan bisa meningkatkan konsentrasi di ruang belajar.

Biru memberi kesan menenangkan, damai, memberikan efek yang dapat memperlambat denyut jantung, menurunkan tekanan darah, menghapus stress, dan membuat kita dapat bernafas lebih dalam, tentunya dengan penggunaan warna biru yang tepat dan tidak berlebihan.

Hijau bisa meningkatkan rasa bangga. Warna ini mampu memberikan efek sejuk pada mata seperti halnya warna biru dan putih. Hijau identik dengan warna modern yang mampu menguatkan kesan futuristik dan kecanggihan teknologi.

Kini, tren warna global adalah; terang Irma, palet warna dilatarbelakangi isu lingkungan dan kebutuhan akan stabilitas akibat situasi yang tidak pasti. Warna-warna yang muncul bisa terang (jingga, kuning, hijau daun), lembut (peach, lavender), keras (fuschia, merah), dan gelap (hijau gelap, abu-abu tua) sebagai cerminan kompleksitas warisan budaya etnik Asia, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika.



Konsulatasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com



*diolah dari berbagai sumber


Previous
Next Post »