Kena Denda

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan. pada hal bisnis dan teknologi pada tanggal 12 April 2010

“AWAS pak, jangan sampai terlambat, yang sekarang dendanya Rp.1.000.000,-” begitu kata seorang konsultan pajak mengingatkan laporan SPT saya. Ternyata kawan-kawan saya masih juga ada yang telambat melaporkan SPTnya. Walah....

Cerita denda dan penalti ini menjadi percakapan kami ketika itu. Kini sudah menjadi jamak diberbagai kesepakatan bisnis yang mencantumkan ancaman denda jika ada pihak-pihak yang tidak menepati janji dalam kesepakatannya. Ada seorang kawan yang menjadi pemborong proyek-proyek properti juga benar-benar memikirkan fenomena tersebut. Ia pernah dua kali menanggung denda itu, gara-gara terlambat menyelesaikan proyeknya. Dendanya pun tidak sedikit, salah satunya bahkan sempat tidak menyisakan sedikitpun keuntungan untuk dirinya.

Seorang rekan yang menjadi pemasok barang dagangan di beberapa pasar modern juga mendapati hal yang sama. Ia harus membayarkan denda jika ia tidak sanggup memasok sesuai kebutuhan yang disepakati bersama dengan pihak pasar modern tersebut.

Kasus yang sama juga di alami rekan-rekan eksportir, jasa ekpedisi, bahkan manajer artis. Bisnis pad dasarnya dilakukan untuk mencari laba, tapi apa lacur kalau ternyata laba itu kandas gara-gara denda yang besar.

Dalam perkara kecil tetapi bisa menjadi besar adalah pemutusan aliran listrik dan air PDAM jika kita telat membayarkan tagihannya, sama seperti sambungan telepon. Sepertinya urusan sepela itu justru bisa mengakibatkan keluarnya biaya yang lebih besar, waktu yang lebih banyak dan operasional yang terganggu karena putusnya aliran itu.

Mungkin anda juga pernah mengalami adalah keterlambatan pembayaran kartu kredit yang mengakibatkan denda yang lebih besar. Sesuatu yang harusnya bisa dihindari tapi kadang kita tidak menyadarinya.

Masa berlaku KTP dan SIM biasanya di set sesuai tanggal kelahiran pemiliknya, tapi tidak sedikit orang yang terlewat tidak memperpanjangnya. Hingga akhirnya denda dan biaya proses pembuatan yang baru menjadi lebih repot dan memakan waktu.

Masalah waktu tidaklah berdiri sendiri, karena otomatis akan bersinggungan dengan biaya langsung dan kerugian pemanfaatan waktu untuk hal yang lebih bermanfaat dan menghasilkan uang.



Lalai

Konon asal kata manusia adalah dari bahasa Arab –nasia—yang bermakna lupa. Jadi sangat manusiawi jika kita memiliki potensi lupa dan lalai. Karakter lain dari manusia adalah ketidakmampuannya untuk mendua. Sangat jarang seseorang bisa mengerjakan banyak hal bersamaan dengan kesadaran penuh.

Sekarang cobalah anda julurkan tangan dan acungkan jempol ke atas. Lalu lihatlah jempol itu, jika anda menyadari saat itu juga anda tidak mampu melihat dengan jelas benda-benda lain yang jaraknya lebih jauh dibalik jempol anda. Sebutlah ada lemari pakaian yang terletak 5 meter di depan anda, pada saat anda melihat lemari itu –dalam keadaan tangan masih menjulur—pasti jempol anda tidak akan terlihat dengan jelas. Bagi saya, itu bermakna bahwa kita tiada bisa mendua.

Artinya, sangat mungkin kita terlupa untuk memperhatikan hal-hal kecil seperti jatuh tempo SPT pajak, perpanjangan karti SIM, STNK dan KTP.

Kecuali, kita memposisikan diri menjadi lebih awas, waspada dan penuh perhatian. Atau kita membekali diri kita dengan alat-alat pengingat. Seperti kita menyetel jam weker untuk membangunkan tidur kita.



Alat bantu

Menyadari kerugian yang lebih besar dan kerusakan yang lebih parah, sepertinya kita harus memiliki kemampuan manajemen diri dalam hal kewaspadaan dalam mengingat sesuatu baik itu berupa janji atau kesepakatan-kesepakatan lainnya.

Mengingat kemampuan kita yang terbatas, maka perlu di buat alat-alat bantu pengingat. Karakter pengingat tersebut haruslah sesuatu yang bisa dilihat setiap waktu, dapat diperbaharui setiap waktu dan memberikan informasi lebih awal dari sebelum jatuh tempo pekerjaan atau hal yang dimaksudkan untuk diingat.

Jaman dahulu dan mungkin sekarang pun masih digunakan banyak orang, yaitu menuliskan pengingat itu di kalender yang tergantung di dinding atau di meja kerja. Sayangnya media ini tidak bisa memuat banyak tulisan dan tidak mudah dibawa-bawa. Artinya jika ada janji dan tidak sedang di meja atau dekat dinding tempat kalender itu, jelas kita sulit menuliskannya.

Lalu ada alat lain berupa agenda. Agenda ini berupa buku, tapi bukan buku kosong seperti notes. Buku Agenda ini sudah tercetak didalamnya hari, tanggal dan kolom-kolom pembagian jam sepanjang tahun. Buku agenda ini masih jauh lebih baik daripada menuliskan sesuatu dai kalender. Buku agenda bisa dibawa kemana-mana. Hanya saja setiap tahun kita harus mengupdate secara manual. Kita harus menuliskan lagi hal-hal rutin tahunan, seperti ganti KTP, ulang tahun keluarga atau kerabat dan lain sebagainya.

Bagi anda yang sudah memiliki alat digital berupa komputer, telepon genggam pintar atau perangkat sejenisnya yang memiliki fasilitas agenda, anda bisa mengkondisikan sekali memasukkan data yang bisa digunakan selama bertahun-tahun kemudian. Dan kelebihan lain dari alat digital ini adalah kemampuannya memberikan alarm atau tanda-tanda yang bisa mengundang perhatian seperti bunyi-bunyian sembari memunculkan tanda pengingat sesuai yang anda kehendaki pada waktunya.

Bahkan kini alarm pengingat in bahkan bisa disimpan secara maya didunia internet.



Aturan kesepakatan

Kembali kepada bahaya dan kerugian jika harus berurusan dengan denda. Selain membangun kewaspadaan diri, sebenarnya ada hal lain yang perlu diperhatikan dengan serius. Yaitu pada saat membangun kesepakatan dengan pihak lain yang berakibat penalti dan denda.

Hal penting itu adalah pada saat menetukan tenggat waktu. Berhati-hatilah! Cermatlah menghitung kemampuan dan kondisi-kondisi lain yang mempengaruhi terpenuhinya janji.

Ini menjadi penting karena jika kita mematok waktu lebih panjang, tentu partner bisnis tidak suka dan berpotensi lari ke pesaing kita. Kalau waktu yang di pator terlalu cepat dari kemampuan wajar kita, tentu kita terancam penalti itu.

Yang pasti, usahakan berjanji sedikit lebih lama dari kemampuan kita, agar kita memiliki cadangan waktu jika ada hal-hal yang terjadi diluar kendali kita.



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com





Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
Taufik
AUTHOR
April 4, 2011 at 4:48 PM delete

Asmlkum... Mas cahyo brapa no kontak mas , saya rencana mau ngadakan dialog interaktif dan mas salah satu pematerinya... tentang pengembangan dan tantang wira usaha serta pemanfaatab Perbankan. dari Taufik (LISMA : Lembaga Insan Madani Indonesia) Lubuk Pakam kontak 08126490486

Reply
avatar