Nasi Bungkus

http://i49.photobucket.com/albums/f296/ayinda/IMG_6100.jpg
tulisan ini sudah di terbitkan di harian waspada medan, pada halaman bisnis tanggal 05 April 2010

SEBUNGKUS nasi hangat dengan sejumput sayur, sepotong lauk, sesendok sambal dan setakaran kuah di sajikan dalam bungkusan daun pisang. Ehm..... lezat....

Gulai dan kari secara otomatis tercampur dengan sempurna tanpa harus menghabiskan sepiring gulai atau kari. Memakan nasi bungkus juga tidak memerlukan formalitas dan basa-basi yang tidak perlu. Tidak harus berdandan untuk makan di restoran, tidak perlu mengeluarkan biaya lebih banyak, tidak harus menggunakan banyak piring sajian, tetapi sudah membuat kenyang dan terasa mantap. Habis itu, tak perlu lagi mengeluarkan energi dan biaya untuk mencuci piring, tinggal dibuang. Ringkas! Itulah sebabnya, hingga kini nasi bungkus masih menjadi pilihan banyak orang.

Nasi bungkus di konsumsi hampir semua kalangan dari semua level kasta sosial, latar belakang budaya dan keyakinan. Dari tua hingga yang muda. Sayangnya masih banyak rumah makan yang tidak memperhitungkan potensi ini. Mereka masih saja mengunggulkan tamu-tamu yang datang dan makan didalam restorannya.

Take Away

Bahasa pebisnis kuliner menyebutkan bentuk bisnis nasi bungkus dengan istilah take-away –dibawa pulang--. Selain dine in —dimakan di dalam resotan--, delivery—pengantaran--, kali ini, kita akan bahas lebih dalam tentang model membawa pulang makanan.

Jelas bahwa pembeli memiliki selera yang berbeda-beda. Ada yang ingin makan langsung di restoran yang mereka kunjungi, ada juga yang ingin dilayani dengan pengantaran hingga ke pembeli serta ada juga pembeli yang datang ke restoran dan membeli makanan untuk dibungkus dan dibawa pulang.

Dalam paradigma para pengusaha makanan, nasi bungkus kadang diposisikan dalam pandangan yang salah. Mereka menganggap bahwa nasi bungkus bukanlah sumber pemasukkan yang bagus, tentu saja karena alasan harganya murah.

Tetapi perlu dipertimbangkan hal-hal berikut ini; yang pertama bahwa nasi bungkus yang dibawa pulang, itu tidak memerlukan tempat yang banyak, tidak perlu meja, tidak perlu kursi dan tidak perlu ruangan yang luas. Dalam hal ini, kebutuhan logis dari penyediaan tempat menjadi berkurang, misalnya biaya penerangan biaya pendingin ruangan dan air jelas menjadi minimal. Ruangan yang tidak digunakan oleh pembeli nasi bungkus, jelas bisa dimanfaatkan untuk tamu-tamu lain.

Kedua biaya nasi bungkus juga cenderung lebih sedikit, lihatlah bahwa sayuran dan kuah biasanya ditaruh dengan ala kadarnya saja. Tidak seperti nasi kotak yang didalamnya ada setakaran/porsi sayuran dan kuah serta lauk yang volumenya jauh lebih besar daripada nasi bungkus. Lalu, nasi bungkus juga tidak memerlukan biaya piring dan ongkos pencuciannya.

Yang ketiga, konsep nasi bungkus tidak memerlukan pelayanan yang banyak dan memakan waktu lama. Hanya diperlukan penerima order, pembungkus dan kasir. Tidak lebih.

Yang keempat, konsep nasi bungkus memberikan efek promosi keluar dari lokasi rumah makan. Karena bungkus makanan tersebut dilihat oleh orang-orang lain di tempat-tempat lain juga.

Yang kelima dan yang paling penting adalah bahwa pasar hingga saat ini masih menyenangi konsep nasi bungkus ini. Artinya pasarnya sudah tersedia.
Optimalisasi

Melayani pembelian model nasi bungkus jelas sesuatu yang menguntungkan, asal benar-benar diamati dan diperhatikan. Konon, restoran cepat saji dari Amerika yang berlogo huruf M, justru mendapatkan omzet terbesarnya dari penjualan paket makanan yang paling murahnya. Lalu penjualan dengan sistem drive through (penjualan dengan cara melayani pembeli langsung ke jendela mobil pembeli, artinya penumpang tidak perlu turun) juga semakin hari semakin menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Mengamati kenyataan tersebut, kenapa tidak dicoba dioptimalkan pola penjualan nasi bungkus itu? Yang saya maksud dengan optimalisasi adalah, diusahakan sebuah strategi untuk meningkatkan omzet dan keuntungan dari penjualan dengan tipe ini. Berikut pemikiran saya;

Yang pertama; tempatkan pembeli pola nasi bungkus juga sebagai pembeli yang memerlukan layanan wajar dan baik. setidaknya ada tempat duduk yang nyaman untuk menunggu giliran dilayani. Syukur-syukur bisa diberikan tempat yang sejuk dan sekadar minuman.

Yang kedua Mudahkan sistem pelayanan, dari proses order, nenunggu hingga membayarkan. Sudah saatnya dihindari proses mengantri dengan berebut untuk diyalani. Konsep menggunakan nomor urut juga bisa diaplikasikan untuk memberikan giliran yang adil. Bukan mendahulukan mereka-mereka yang bersuara lantang atau yang berbadan besar saja. Selanjutnya perlu diatur posisi pemesanan, posisi pengambilan pesanan hingga posisi kasir, agar alur perjalanan pembeli tidak berbelit, memutar atau bolak-balik. Ini penting agar pembeli menjadi lebih mudan sekaligus mempercepat proses layanan.

Sistem pembayaran selayaknya dipermudah, misalnya ada semacam nota khusus dari pihak pembungkus yang menyebutkan nilai transaksi, sehingga pembeli segera tahu berapa uang yang harus dibayarkan kepada kasir.

Yang ketiga aturlah posisi pembeli agar mudah melihat produk yang dijual dalam pajangan, sehinga mereka dengan mudah memilih sesuai dengan seleranya. Melihat langsung produk yang mau dibeli biasanya memberikan efek kepuasan tersendiri. Disamping kita bisa menyarankan produk untuk dibeli jika pembeli terlihat belum menentukan pilihannya.

Sangat penting, agar penerima order bisa menawarkan pesanan lain yang mungkin berhubungan dengan pesanan awal, misalnya pembeli hanya meminta nasi bungkus, mungkin bisa ditawarkan hidangan penutup berupa buah atau pudding, agar nilai penjualannya lebih banyak lagi.

Promosi

Tentu saja, promosi adalah hal wajib agar produk yang kita luncurkan mendapat tanggapan baik dari pasar. Memberikan daftar menu dalam ukuran brosur kecil kepada pembeli nasi bungkus juga cukup cerdas, karena diharapkan orang-orang yang menitip beli nasi bungkus juga tahu , produk apa saja yang disediakan.

Menawarkan kepada tamu-tamu yang makan di dalam restoran untuk membawa pulang makanan juga bisa dilakukan, sambil memberikan selebaran pemberitahuan bahwa kini sudah ada jasa nasi bungkus dengan pelayanan yang lebih baik.

Selamat mencoba...!





Konsulatasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

Previous
Next Post »