Berdagang

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan pada tanggal 26 april 2010, di halaman bisnis dan ekonomi.


KEPALANYA botak, bicaranya serius, matanya tajam, sesekali merokok dengan santai. Dialah seoarang Ubay Nasrun pemilik “Desa-Desa” –sebuah café dengan tatanan alam pedesaan, bagi saya ini salah satu yang terbaik di Kota Medan—.

Sore itu di café-nya, kami ngobrol kesana-kemari hingga tergali rahasia-rahasia bisnis yang selama ini ia lakukan.

Doa semua pengusaha persis seperti doa-doa orang kebanyakan. Yang diharapkan adalah pintu sukses, kemudahan urusan, rejeki yang mengalir berlimpah tanpa henti, pegawai yang sehat sejahtera, kehidupan pribadi yang harmonis, kesehatan yang prima, terjaganya nama baik, terpelihara popularitas dan masih banyak lagi deretan doa-doa lain.

Menjadi pengusaha; selain mendapatkan kebaikan-kebaikan, juga harus melewati duka derita yang kadang tak bisa terhindarkan. Sebutlah proses pencarian modal yang menyakitkan, kemungkinan gagal dan tumpur, sulitnya mencari pegawai yang cocok, hampir tidak ada waktu untuk bersenang-senang, kadangkala harus berhadapan dengan aturan dan aparat yang korup dan pemeras, belum lagi memikirkan bunga dan hutang bank, masih harus memikirkan keadaan dan kesejahteraan karyawan dan sebagainya.

Diantara sekian banyak rahasia sukses yang Ubay yakini, salah satunya adalah keyakinan dan kemampuan berserah diri kepada Sang Khalik. dan rahasia itu sudah ia buktikan melalui beberapa bisnis yang sukses ia jalankan selama ini.

Pada saat yang sama, saya mencoba sambungan internet gratis di café ini, lalu saya membuka situs jejaring sosial dan menemukan sebuah catatan dari sahabat yang sekarang sedang bertugas di SriLangka. Catatan itu dia sebut sebagai salah satu karya terakhir dari WS. Rendra saat terbaring di tempat tidur rumah sakit menunggu ajalnya tiba.

Pembaca yang budiman, ijinkan sejenak kita mengheningkan diri, sejenak saja...

Begini tulisannya;

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya.
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah sebuah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan sebagai kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku.
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"....

Logika

Para pembaca yang budiman, logika sederhana sudah dituliskan oleh Rendra pada tingkat kesadaran yang sangat tinggi. Mungkin saja tulisan ini adalah percakapan jujur pada dirinya sendiri. Mungkin saja ia tidak niatkan untuk siapapun. Tetapi hari ini tulisan ini sampai kepada mata dan telinga kita. Tanpa berfikir dalam dan tanpa harus merasakan sakit mejelang ajal, kita bisa mendapatkan pencerahan dari puisi sederhana ini.

Terkadang logika bisnis yang kita kerjakan setiap hari benar-benar membuat kita memperlakukan semua hal dengan cara yang sama. Termasuk dalam hal mengukur rejeki dan hubungan dengan Tuhan.

Pembaca yang budiman, tak hendak saya berkotbah untuk kebaikan orang lain, tetapi ijinkan saya menuliskan apa yang saya rasakan dan saya yakin juga dirasakan oleh sebagian besar pelaku bisnis.

Kita sering sekali lupa untuk melibatkan Tuhan dalam hal pencarian rejeki kita. Kita suka lupa bahwa ada Tuhan yang menentukan nasib rejeki kita. Kadang kita merasa sepi dan sendirian, kadang kita merasa bahwa hanya kita sendirilah yang bisa menolong nasib kita sendiri. Benar bahwa nasib kita hanya berubah oleh usaha kita, tapi ridho dan ijin Tuhanlan yang menjadikannya.

Khawatir
Tulisan ini saya anggap sudah cukup menjawab pertanyaan Bapak Ibrahim di Tebing, Bapak Imran Yusuf di Perdagangan, bapak Sofyan (yang tidak menyebut lokasinya), adinda Joseph G di USU, adinda Parlindungan di UISU dan ibu Nuridah di Banda Aceh.

Sepertinya jelas sekali gambarannya, ketika rasa khawatir dan ketakutan akan kegagalan benar-benar menghantui kita sehingga kita terjerat sangat dalam, yakinkanlah bahwa pada saat yang bersamaan itulah kita bisa sedang dalam keadaan tidak beriman. Karena pada saat itu juga kita lupa bahwa ada Tuhan yang akan menolong kita.

Jadi, sering-seringlah menghadirkan Tuhan dalam pikiran kita, sehingga tidak akan ada rasa khawatir dalam diri kita.

Ketika kita menyerahkan permasalahan dan ketakutan kita kepada Tuhan, yang harus dilakukan adalah serahkanlah dengan ikhlas. Biarkan Tuhan yang mengurusnya. Hindarkan kita mencampuri pekerjaanNya dengan kekhawatiran yang berlebihan. Bayangkan pada saat anda menyetir dengan istri duduk disamping dan ia selalu cerewet mengatur anda menyetir. Mulai dari teriak ada penyeberang, ada lubang, minta lebih cepat, minta jangan mengerem mendadak dan sebagainya. Ah, mungkin kini anda paham bagaimana rasanya diatur oleh orang yang tidak memegang setir.

------

Cahaya lampu hijau mulai benderang menyelimuti dedaunan pisang dan rumpun bambu di Desa-desa. Matahari sudah beranjak ke peraduan, tetapi langit biru masih tersisa. Terimakasih Tuhan atas kesempatan menikmati keindahan pedesaan di tengah kota ini. Dan terimakasih atas kesempatan langka bertemu si Botak yang penuh inspirasi ini.

Previous
Next Post »