7 Penyakit Sarjana Baru Kerja

Tulisan ini sudah di terbitkan di harian waspada medan pada halaman bisnis dan ekonomi pada tanggal 10 mei 2010


“SAYA melamar untuk jabatan Manajer” aku seorang calon pegawai dalam sebuah wawancara penerimaan tenaga kerja. Saat ditanya mengapa memilih jabatan itu, jawabnya, “Saya kan sarjana!”. ”Phueh...!” dalam hati saya menjawabnya dalam diam. Begitupun saya tanya apa hubungannya sarjana dengan jabatan manajer. Jawabnya, ”Kalau lulusan SMP itu untuk level pelaksana, lulusan SMA untuk Supervisor dan kami yang sarjana untuk level Manajer”.

Terpingkal-pingkal rasanya hati ini mendengar pengakuan si sarjana ini. Seperti masuk akal tapi naif sekali terasa di hati. Si sarjana yang masih hangat terselimut baju toga kemaren dulu, masih belum kenal dunia. Dia masih belajar cara naik sepeda tapi tak pernah belajar naik sepeda.

Untuk para sarjana atau yang belum menjadi sarjana yang ingin bekerja, dengarkan nasehat ini, “ijazahmu hanya jadi kunci masuk, selanjutnya lupakan saja!” dunia kerja amat berbeda dengan dunia sekolahan. Dan yang pasti, tak ada posisi manajer yang didapat dari sekolahan. Manajer adalah jabatan karir yang harus dianyam dari bawah, sehebat apapun sekolah yang pernah dilalui.

Terlepas dari posisi itu, ada yang selalu menjadi ganjalan ditolaknya para lulusan sekolahan dalam dunia kerja. Ada semacam budaya yang aneh dan tidak diterima oleh orang-orang di dunia kerja. Saya berharap catatan ini berguna bagi mereka-meraka yang baru memasuki dunia kerja. Saya mencatat sedikitnya ada 7 ’penyakit’ yang perlu disembuhkan agar bisa memasuki budaya dunia kerja dengan baik. Berikut catatan saya;

Tak ada yang mendadak besar

Yang besar itu datang dari yang kecil, yang kaya bergerak dari yang miskin, yang pintar bergerak dari ketidak pintarannya, yang tua datang dari yang muda. Dalam dunia kerja juga demikian. Seperti saat sekolah, tak ada juga mahasiswa yang begitu masuk langsung masuk semester akhir dan langsung ujian meja hijau. Tak ada!

Pikiran ”Karena saya bergelar sarjana, saya tak tidak mengurusi hal-hal yang remeh” adalah pemikiran yang sangat salah. Hampir semua lulusan yang bru bekerja justru memulai dari bawah dan mengerjakan hal-hal yang terlihat remeh. Bukan hal yang aneh, jika dalam perkara menerima telepon saja, si sarjana itu pun harus dilatih terlebih dahulu.

Apapun gelar Anda, cara terbaik untuk mempelajari kerja adalah dengan berjalan perlahan dari bawah dan mengerjakan hal-hal kecil yang dianggap "kurang penting". Ingat, tiada pekerjaan besar akan diberikan kepada seseorang yang tidak bisa mengerjakan hal-hal kecil.

Pikiran sempit

Mahasiswa pada umumnya cenderung idealis dan senang kontra dengan penguasa. Mereka punya opini pro atau kontra terhadap semua hal, dan memegang teguh pandangannya itu dengan berposisi melawan. Sedangkan di tempat kerja, kita dituntut untuk mempertimbangkan semua pilihan, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya.

Dalam hidup yang nyata, baik dan benar itu perkara yang sangat jauh berbeda. Dalam dunia nyata, warna tidak cuma hitam dan putih. Dalam dunia nyata tidak Cuma ada gelap dan terang. Dalam dunia nyata tidak cuma ada perempuan dan laki-laki.

Menunda pekerjaan

Suana kuliah yang serba santai terbawa hingga awal kerja. Contoh aksi menyelesaikan kuliah sesuka hati. Mengumpulan tugas-tugas kuliah bisa cepat bisa lambat, tanpa rasa bersalah. Itu akan berefek kepada pola menunda mengerjakan tugas hingga himpitan deadline.

Di tempat kerja, jika menunda pekerjaan, maka pekerjaan orang lain pun akan ikut terganggu. Lalu seluruh sistem rangkaian kerja juga terganggu. Sudah pasti Imej di mata atasan pun akan rusak.

Manja

Mahasiswa sering masih tetap merasa dirinya muda dan kebanyakan bersifat kekanak-kanakan. Biasa menuntut untuk dimaklumi jika berbuat kesalahan inginnya tiada mendapat hukuman yang keras. Sehingga berujung kepada kualitas kerja sesuka hati.

Sikap itu biasanya diikuti oleh kebiasaan merajuk dan itu sangat menyebalkan rekan kerja, senior dan pimpinannya.

Bermain-main

Keinginan untuk tetap bermain itu terbawa hingga sering menganggap enteng jejaring sosial. Fasilitas kantor disalahgunakan untuk kepentingan pribadi. Dan para pekerja dari lulusan yang baru, biasanya tidak memikirkan dampak dari isi Facebook dan Twitter mereka terhadap pekerjaan.

Mereka begitu saja menumpahkan rasa hati dalam media jejaring sosial itu. Sayangnya kadang status meraka suka merusak imej profesional. Dan jika status itu berisi keluhan-keluhan terhadap perusahaan atau atasan, maka potensi pemecatan akan sangat tinggi.
Kurang Lobby

Memang enak ngumpul dengan rekan-rekan kerja yang seumuran. Tapi jika ingin mendaki tangga karier dengan lebih cepat, Anda juga harus bergaul dengan para senior.

Benar bahwa selera pembicaraan dan gaya akan berbeda dengan selera anak muda, tetapi bergaul dengan senior akan memberikan banyak tambahan wawasan dan informasi-informasi tambahan yang penting untuk bisa berprestasi dan mendapatkan celah untuk maju kedepan.
Tata krama

Penyakit yang sering hinggap dalam perilaku ’anak baru lulus’ adalah tidak ada kemampuan pengendalian diri untuk berikap meredah, memohon saran, mengerjakan perintah atasan dan mengucapkan terimakasih kepada siapapun yang memberikan bantuan walaupun bantuan itu kecil nilainya.

Jika anda terkesan tidak peduli, maka para atasan, senior atau kolega akan berpikir dua kali jika suatu saat anda ingin meminta pertolongan kepadanya.
-----

Jadi, saya sampai saat ini masih senang merekomendasikan para pemula untuk mengikuti program magang kerja sebelum mereka lulus. Saya juga sangat merekomendasikan agar para mahasiswa tidak saja meningkatkan kecerdasan akademik tetapi juga berusaha meningkatkan kemampuan pergaulan di dunia kerja.

Karakter pekerja yang keras dan pantang menyerah serta tabah ditambah kepribadian yang komunikatif adalah obat yang mujarab untuk menjawab penyakit-penyakit tersebut diatas.
Previous
Next Post »