Memilih

Tulisan ini sudah di terbitkan di harian waspada medan pada halaman bisnis dan ekonomi pada tanggal 03 mei 2010



“DUNIA semakin aneh dan menjadi terbalik”, hardik seorang Manager kepada bawahannya sekali waktu dalam kemarahan yang tak bisa lagi dipendam. Si manajer tadi melanjutkan, “Aku mencari pegawai sebenarnya untuk meringankan beban pekerjaan dan pikiranku, tapi kini semua terbalik, yang terjadi adalah aku membayar kamu agar kamu menyuruhku memperingatkan dirimu setiap hari!”

Sebuah ironi yang terjadi dimana-mana. Si manajer tadi tersadar benar, siapa sebenaranya yang menjadi boss dan siapa yang menjadi bawahan. Dia mengutuk keadaan yang terbalik itu, dia merasa bukan menjadi boss yang seharusnya menyuruh dan memerintah, tetapi dalam kenyataannya dia malah yang bersusah payah setiap hari mengingatkan dan meminta bawahannya untuk kerja dengan baik sesuai janji pada awal masuk kerja.

Ya, janji pada awal masuk kerja. Sepertinya semua calon pegawai berjanji untuk bekerja dengan sungguh-sungguh, cerdas, kreatif, penuh inisiatif dan dedikasi yang tinggi. Tapi entah karena kesurupan atau karena keterbatasannya, janji si pegawai itu pun luntur seiring berjalannya waktu.

Tentu saja tidak semua pegawai bertingkah menyebalkan seperti contoh diatas, tetapi sepertinya jumlah yang nyalah itu lumayan lebih banyak daripada yang baik-baik.

Para pembaca yang budiman, bersamaan dengan kampanye pemilihan kepala daerah di banyak tempat, saya merasa ada semacam kemiripan antara memilih pegawai dengan memilih bupati atau walikota. Mari kita telaah bersama-sama.

Seperti kemarahan manajer diatas, kita sebagai rakyat yang memegang keadulatan tertinggi terkadang mendapat kesialan yang sama. Pada awal kampanye janjinya luar biasa, tetapi pada pelaksanaannya NOL besar menempel di jidat pilihan kita itu. Lalu kita terbodoh melongo melihat hasilnya yang jauh dari harapan.

Belajar dari berkali-kali saya membuat kesalahan dalam merekrut pegawai, kini saya memiliki beberapa persyaratan yang harus terpenuhi pada saat merekrut pegawai dan saya pikir syarat ini juga cocok untuk memilih calon bupati /walikota.
Pengalaman

Pendidikan memang penting, tetapi pengalaman adalah kunci keberhasilan yang tidak tertandingi. Banyak pun titel pendidikan calon pegawai kita, itu tidak menjamin bahwa dia akan bisa bekerja dengan baik jika tidak ada pengalaman dalam bidang itu. Dari pengalaman saya, semakin banyak titelnya malah si calon itu lebih pandai cakap dan berteori, tapi cenderung tidak bisa mengaplikasinya dengan baik.

Pengalaman dalam hal spesifik sesuai kriteria pekerjaan yang akan diemban seringkali tidak tersebut dalam teori-teori manajemen modern. Banyak hal ‘sepele’ yang tidak terpikirkan atau tidak terlacak oleh calon pegawai yang tidak berpengalaman di bidangnya. Tak sedikit insinyur keluaran universitas terkenal dengan IP yang tinggi, tetapi tidak paham dengan cuaca yang bisa merusak proyek.

Saya jadi ingat rencana salah satu kepala bagian saya yang akan mengunci kamar mandi umum agar tetap bersih. Lucu dan menjengkelkan! Bagaimana mungkin kamar mandi di kunci hanya agar tetap bersih! Trus orang-orang akan buang air dimana? Dibawah pohon?

Pengalaman tidak ada hubunganya dengan usia. Calon yang berumur tidak dijamin memiliki pengalaman. Sekadar terkenal juga tidak dijamin bisa menjadi orang pemasaran. Seperti banyak koki handal yang pandai memasak tapi tak semuanya bisa mengajarkannya kepada orang lain.

Bukankah syarat itu juga cocok dengan syarat untuk memilih bupati/walikota?
Karakter

Nah syarat inilah yang paling saya pentingkan berikutnya dan menjadi syarat absolut bagi calon pegawai. Kepribadian seseoarang tidak bisa disulap berubah dalam waktu singkat. Ia dibangun oleh perjalanan hidup, lingkungan, pendidikan, dan kekuatan pribadi.

Kredibilitas seseorang bukan dari pengakuannya, tetapi dari apa yang ia tunjukkan. Artinya, jika si calon mengaku berkepribadian baik, santun, taat beragama, dan sederet pengakuan lain, jangan pernah percaya! lebih baik tanya kepada orang lain yang mengenalnya selama ini. Apakah benar si calon demikian adanya. Tentu saja sumber tersebut harus kredibel dan bisa dipercaya.

Tentu saja, kita menghendaki orang yang santun, bersahaja, bersungguh dalam bekerja dan amanah dengan tanggungjawabnya. Dalam kondisi tertentu, kita bisa menggunakan jasa konsultan psikologi untuk menguji-nya.

Yang penting dipahami adalah bahwa jangan terjebak percaya begitu saja karena kemasan dan tampilannya. Orang yang jidatnya hitam gosong tak semuanya karena rajin sujud, bisa saja karena ia membuatnya menjadi hitam agar dianggap dia seorang agamis.

Sayang, hasil uji psikologi calon bupati/walikota tidak diumumkan ke publik.

Latar belakang

Latar belakang kehidupan calon juga penting. Mungkin dia berangkat dari keluarga yang berantakan? Mungkin ia datang dari budaya yang luhur dan santun? Mungkin ia pernah menjadi pencuri? Bagi saya jika ada 2 pilihan, antara bekas maling dan tak pernah menjadi maling, saya akan memilih yang tidak pernah menjadi maling. Bukan tidak percaya kepada niat seseorang untuk bertobat, tetapi penyakit walaupun sudah lama, akan ada potensi untuk kambuh suatu saat nanti.

Tentang perbuatan maling, bagi saya orang baik itu bukan orang yang tidak bisa berbuat jahat, tetapi orang baik adalah orang yang bisa berbuat jahat dan memilih untuk tidak melakukan perbuatan jahat.

Pada kasus tertentu, misalnya untuk bagian penjualan/pemasaran, tentu latar belakang pengalaman selama bekerja adalah point yang sangat penting. Karena si calon tidak lagi memerlukan waktu yang panjang untuk beradaptasi dan belajar. Mereka dengan mudah tinggal memberitahukan ke jaringannya, bahwa ia sudah bergabung dengan kita. Mudah dan hasilnya lebih cepat.

Jaringan yang dimiliki secara pribadi juga harus benar-benar diwaspadai, apakah lingkup jaringan yang dimiliki calon adalah jaringan yang positif dan menguntungkan. Jika si calon dikelilingi oleh para petualang dan pencari keuntungan sesaat, maka si calon akan menjadi korban dan berikutnya kitalah yang menjadi sasarannya.
Beda

Perbedaan yang mendasar antara memilih calon pegawai dan calon bupati/walikota adalah bahwa jika kontrak sudah jadi dan terpilih, kita cenderung lebih mudah untuk memecat pegawai kita. Tetapi sangat sulit untuk bisa memecat bupati/walikota.

Itu saja!
Previous
Next Post »