Tak perlu menipu dalam promosi


foto http://blog.pulsa.web.id/2008/03/18/perang-tarif-ala-gsm.html


Berikut adalah keluhan dari seorang konsumen yang dia tulis di situs Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia http://www.ylki.or.id/consults/view/34. Saya berharap ini menjadi pelajaran yang baik untuk kita.

Promosi First Media Menipu Konsumen

Hindarta Kamis, 18 Juni 2009

Pada tanggal 13 Juni 2009, saya mengunjungi pameran FKI 2009 (Fetival Komputer Indonesia) di Jakarta Convention Center dan saya mampir ke stand First Media. Di sana, sedang ada promosi untuk pemasangan baru, yaitu untuk berlangganan layanan Home Cable 66, maka seluruh channel akan dibuka selama 3 bulan. Dan untuk pendaftaran Fast Net, maka akan diberikan free biaya berlangganan untuk 1 bulan pertama dan pembelian cable modem dengan harga 50%. Kemudian saya mendaftar untuk berlangganan Home Cable 66 dan Fast Net 384kbps.

Pada tanggal 16 Juni 2009, dilakukan pemasangan untuk kedua layanan tersebut di rumah saya. Keesokan harinya saya menghubungi customer service First Media untuk mengaktifkan all channel selama 3 bulan, sesuai dengan promosi mereka di FKI. Tetapi ternyata hal itu tidak dapat dilakukan, karena menurut mereka, saya adalah pelanggan lama, sedangkan promosi ini hanya khusus untuk pelanggan baru, yang belum pernah sama sekali menggunakan layanan mereka. (2 tahun lalu memang saya pernah berlangganan layanan mereka, kemudian berhenti berlangganan karena saya menggunakan provider lain).

Seandainya pada saat pendaftaran, disebutkan tentang hal ini, maka saya tidak masalah. Tetapi karena pada saat pendaftaran, tidak ada pemberitahuan sama sekali tentang hal ini, baik secara lisan maupun tulisan, maka saya merasa tertipu oleh promosi Firt Media.

Saya hanya menginginkan agar apa yang telah dijanjikan pada saat pameran, yaitu all channel dibuka selama 3 bulan, dapat direalisasikan. Terima kasih.

Name : Indarta

Account : 461534

Telp.021-70224038



Keluhan diatas sebenarnya banyak sekali dialami oleh para konsumen. Keluhan-keluhan serupa sering terjadi karena salah persepsi yang biasanya tetap dimenangkan oleh pihak promotor dan konsumen dalam posisi pasrah tetapi tak rela.

Memang tetap saja semuanya bisa diselesaikan, tetapi dalam proses itu kekecewaan mencokol dan menyebabkan ketidakpuasan yang dalam.

Kondisi dan ketentuan berlaku

Inilah bahasa hukum yang sering dijadikan alat untuk menutupi kekurangan atau kelemahan promosi. Contoh sederhana adalah pada beberapa waktu yang lalu, salah satu operator telekomunikasi selular yang mempromosikan besar-besar bahwa penggunaan telepon-nya gratis. Tetapi dengan kondisi-kondisi yang sangat rumit dan sulit serta penulisan bergaya trik syarat tersembunyi yang tidak diketahui konsumen. Kondisi tersebut diperparah perilaku konsumen yang enggan mencari informasi yang lebih jelas mengenai promo atau tarif murah tersebut. Konsumen sering tergiur pada harga murah sementara yang ditawarkan. Bentuk trik yang umum dilakukan adalah ketika para operator menawarkan tarif murah hanya berupa promosi pada saat tertentu saja, bukan tarif reguler yang berlaku selamanya.

Atau pedagang retail di pasar modern yang menyebutkan diskon besar-besaran tetapi ternyata untuk item tertentu pada jam tertentu saja tanpa kejelasan yang detail sehingga membuat pembeli salah sangka dan merasa terjebak oleh bahasa promosinya.

Sama dengan bank yang menawarkan gratis iuran tahunan kartu kredit atau nilai bunga rendah yang ternyata hanya berlaku untuk tahun pertamanya saja dan kemudian naik setinggi-tingginya pada tahun kedua dan seterusnya.

Secara hukum, mungkin langkah ini dibenarkan, tetapi niat buruk yang berpotensi menjebak pelanggan sangatlah tidak bijaksana. Artinya, pada saat yang sama, seseorang berpromosi untuk mendapat perhatian dan simpati masyarakat tetapi pada saat yang sama ia sedang mempertinggi tempat untuk jatuh. Pada saat yang sama ia sedang menggali kuburannya sendiri, karena kekecewaan masyarakat atas jebakan bahasa promosi berujung kepada ketidak percayaan masyarakat.
Mencuri perhatian

Benar, promosi yang baik adalah promosi yang mencuri perhatian, tetapi jika dilakukan hanya sekadar untuk mencuri perhatian tanpa tindak lanjut yang benar. Jelas itu sesuatu yang tidak bijaksana. Sama juga untuk nama-nama produk. Saya beberapa kali tersenyum ketika memesan Ayam Penyet, tetapi ayam yang disajikan adalah ayam utuh yang tidak di-penyet sama sekali.

Demikian juga dengan properti yang sering menyebut istilah garden, hijau, taman dll. Pada kenyataannya malah sama sekali tidak ada kebun, taman atau pepohonan dalam komplek perumahan itu. Sangat berbeda dengan brosur dan nama dari perumahan yang dipromosikan.

Anehnya, sebagian masyarakat akhirnya merasa bahwa itu sudah jamak dan terpaksa dimaklumi. Seperti orang yang terpaksa makan di restoran di bandar udara yang merasa harganya sangat mahal tetapi terpaksa menerimanya saja.

Murah dan mahal memang perkara relatif tergantung daya beli konsumen, tetapi memberikan gambaran yang menyesatkan saya pikir adalah doa yang tidak termaafkan. Aha... saya jadi ingat ketika salah seorang kawan membuat brosur tentang hotel dengan kolam renang yang sangat jernih dan bersih. Sekilas tidak ada yang tahu kalau sebenarnya kolam renang itu belum terisi air sama sekali. Lalu pada kesempatan lain saya melihat seorang bule yang mengeluh kepadanya tentang kualitas air kolam itu yang tidak seperti terlihat di brosur.
Etika

Etika mungkin menjadi topik yang mendasar dalam pembicaraan ini. Lagi-lagi kembali kepada nurani bisnis masing-masing. Saya pikir tidak salah jika mempromosikan sesuatu dengan sebenarnya. Jika dipromosikan murah, selayaknya memang harus murah adanya. Jika dipromosikan bagus ya selayaknya juga bagus .

Semua itu sering terjadi karena cacat produk yang tidak sesuai dengan kehendak masyarakat pada umumnya. Misalnya upaya menurunkan harga hanya sebatas tertentu yang asal ada. Atau membuat produk yang kurang bagus dan terpaksa dipoles dengan olah gambar atau foto.

Saya merasa yakin bahwa hidup selalu berputar dan pada gilirannya seseorang akan menuai apa yang dia tanam.



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »