Iming-iming kesempurnaan

Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 14 Juni 2010. pada halaman bisnis dan teknologi. silahkan meng-copy. Tetapi tolong sebutkan sumbernya.



DECAK kagum dan rasa iri bermain di mata pengunjung sebuah pameran foto. Kebetulan pameran itu memajangkan foto-foto beberapa pasangan tokoh masyarakat yang diakui sukses oleh masyarakat.

Tampilan foto yang mengena dan pas sesuai karakter objeknya membawa khayal yang tinggi bagi pengunjung yang menikmati karya foto tersebut. Secara sederhana, saya bisa menafsirkan apa yang muncul dari pikiran para pengunjung “Betapa indah jika saya dan pasangan bisa seperti pasangan-pasangan dalam foto-foto ini”.

Foto-foto pasangan itu sangat bercerita. Salah satu cerita yang disampaikannya adalah makna sebuah sukses. Sukses dalam karir dan sukses dalam cinta. Foto-foto itu seolah mengkisahkan mereka adalah orang-orang yang sangat beruntung yang memiliki kesempurnaan hidup. Bukan saja sukses dalam hal material dan tetapi juga sukses dalam membina rumah tangga. Sebuah anugerah yang langka.

Sebutlah foto seorang bankir sukses yang baru saja selesai mengerjakan shalat jamaah bersama istri tercintanya dalam pose si istri mencium tangan si suami. Tata cahaya, pakaian shalat dan komposisi warnanya mencerminkan kedamaian lahir dan batin. Siapa yang tak mau seberuntung ini?

Di foto yang lain, ada seorang suami yang pengusaha dan juga politikus sukses yang gemar berburu sedang melihat koleksi binatang langka yang dikeringkan bersama istrinya yang cantik. Bahasa emosi wajahnya menceritakan sebuah kebahagiaan yang menjadi impian semua orang.

Ada lagi pose sepasang suami istri yang sukses sedang berkendara motor gede yang mahal melaju sambil berpelukan mesra. Belum lagi foto-foto lain yang semuanya menggambarkan kata sukses.

Menikmati foto-foto itu selalu beriringan dengan kenyataan hidup yang tidak semuanya seindah itu. Kabanyakan pengunjung pameran adalah mereka-mereka yang masih harus berjuang lebih lama untuk bisa sukses secara material. Ada diantara mereka yang masih bergelut dalam kisruhnya hubungan keluarga. Bahkan Ada diantara mereka yang merasa gagal dikeduanya.

Pada orang tertentu, foto-foto pasangan beruntung itu menjadi inspirasi untuk maju dan sukses. Pada orang tertentu yang lain, foto-foto itu hanyalah sumber kecemburuan dan sumber perasaan sial, “mengapa bukan aku?”. Tetapi rasa apapun itu, diatasnya bercokol sebuah persetujuan atas sebuah kesempurnaan hidup yang semua orang ingin menggapainya.

Menumpang Impian

Bukan lagi sebuah rahasia, jika semua orang memimpikan sukses lahir dan batin. Semua orang ingin kesempurnaan kebahagiaan dunia dan akhirat. Semua orang ingin menjadi sempurna.

Pada akhir setelah menikmati pameran itu, pengunjung juga akhirnya mengakui siapa fotographer yang mendokumentasikan momen-momen itu. Ting....! inilah klik pemasaran yang jitu.

Pertama, semua orang setuju bahwa sukses adalah impian semua orang. Jadi mendokumentasikan pasangan-pasangan sukses adalah langkah cerdas menerobos pikiran publik. Apalagi publik sudah mengenal profil sukses dari objek foto.

Kedua, kesempurnaan sukses adalah jika cinta juga diraih dan bisa bertahan. Lihatlah hampir semua filem bioskop, telenovela atau novel akan laku dan banyak peminatnya jika berkisah tentang cinta. Artinya, ini adalah alasan bagus untuk mendapat persetujuan dari publik.

Ketiga. Gaya dan teknik pengambilan gambar sangat pas dengan latar belakang masing-masing tokohnya. Disini fotographer sedang menunjukkan bahwa dirinya adalah fotographer berkelas yang bukan sekadar bisa memfoto.

Tema Impian

Kini, cobalah lihat produk-produk yang sukses dipasaran. Pada umumnya mereka mencuri perhatian dan perasaan publik dengan mengedepankan tema-tema kesempurnaan impian hidup dalam media-media komunikasi pemasarannya.

Saya ingat salah satu rokok yang memunculkan tokoh muda, sporty, berjas elegan mengendarai mobil sport modern yang terkenal mahal. Tak ada pria yang tidak ingin menjadi apa yang terlihat dalam promosi tersebut.

Mungkin anda masih ingat, sebuah produk sabun yang menggambarkan kelembutan kulit para bintang kesohor karena menggunakan produknya. Atau pembalap sukses yang jadi tokoh dalam iklan sepeda motor.

Tema-tema ilustrasi atau gambar yang digunakan untuk berpromosi yang menggambarkan kesempurnaan hidup adalah kunci bagaimana asosiasi target bisa dikendalikan. Contohnya gambar perempuan cantik yang berbelanja apa saja. Atau lelaki yang terlihat sukses dengan gambaran atribut yang dikenakannya, dari baju jas necis, kendaraan yang dipakainya atau bentuk kegiatan mahal seperti olah raga golf dan sebagainya.

Tema-tema, keluarga kecil yang bahagia dengan wajah-wajah ceria, atau anak muda yang berprestasi atau pasangan dewasa yang mapan dan anggun. Semua bisa saja direkayasa agar target terpengaruh.

Tema-tema sukses sangat mudah dicerna pikiran publik, karena memang dalam pikiran publik menyetujui sukses sebagai impian mereka.

Kadang kala kita bahkan tidak menyadari bahwa produk yang kita beli sebenarnya bukan membeli fungsinya, tetapi membeli gengsi dan impian yang ditawarkan dalam iklan itu. lucu tetapi nyata. Mungkin anda setuju dengan saya, kalau sekadar untuk mengetahui waktu, kini banyak sekali jam kacangan yang harganya setara dengan 3 bungkus rokok murahan. Tetapi kita akan merasa menjadi pribadi yang berbeda dan berkelas jika mengenakan jam tangan yang harganya sepadan dengan 10 bulan upah minimum propinsi yang berlaku sekarang ini. Sama dengan orang-orang yang menggunakan handphone amat mahal tapi hanya untuk bertelepon dan sms plus bergaya, tidak lebih.

Produk non Gengsi

Aplikasi konsep promosi dengan ilustrasi yang membawa pemikiran tentang kesempurnaan cocok untuk produk-produk yang menjanjikan gengsi dan kelas sosial. Lalu bagaimana jika produk kita bukanlah produk yag demikian. Tentu saja konsep ini sedikit kurang pas untuk produk-produk sembako atau yang dijual bukan karena nilai tambah gengsinya.

Tetapi konsep ini masih tetap bisa dilakukan sekadar untuk meyakinkan publik bahwa produk kita juga digunakan atau diminati oleh orang-orang berkelas. Contoh sederhananya sudah banyak dilakukan oleh pengelola restoran yang memfoto pengunjungnya –khusus dari kalangan bergengsi—dan memajangkan foto itu sekaligus pernyataan dari tokoh tersebut.

Bayangkan kalau sepatu yang anda produksi dipakai oleh seorang wakil presiden dan dia mengakuinya dengan senang hati. Asyik bukan?

Konsultasi & Pelatihan Tj@cahyopramono.com

Previous
Next Post »