Janji Penjahit

Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 07 Juni 2010. Pada halaman bisnis dan teknologi




PERMOHONAN maaf saya haturkan kepada semua penjahit di negeri ini untuk menggunakan istilah diatas sebagai judul dan topik tulisan saya kali ini. Saya bukan sedang menjatuhkan martabat penjahit yang mulia adanya. Saya sekadar menggunakan istilah ini sebagai perumpamaan saja untuk dijadikan renungan bagi kita semuanya.

Istilah tersebut saya dapat saat terlibat dalam diskusi terbuka pada sebuah forum di intenet yang sedang membahas tentang praktek-praktek ingkat janji dan tidak amanah yang dilakukan sebagian penjual jasa. Disitulah muncul kalimat ini. Janji Penjahit.

Salah satu peserta forum menyebutkan kata-kata “janji penjahit” untuk memberikan gambaran atas sebuah situasi, yang kadang-kadang terpaksa dialami oleh pelanggan gara-gara penjual cedera janji. Kebetulan saja, baru-baru ini dia mendapatkan pengingkaran janji itu dari seorang Tukang jahit yang sebelumnya juga pernah dia alami dari penjahit langganananya yang lain.

Menurut pengakuannya, sudah lebih dari 10 kali ia merasa terjebak oleh jani-janji tukang jahit dengan modus yang sama. Pengingkaran itu seringkali berputar pada topik-topik yang sama. Misalnya tentang tanggal jadi untuk serah terima pemesanan, komitment bahan, model dan motif. Dan itu bukan hanya dilakukan oleh satu orang penjahit dan pengalaman itu terjadi di 5 kota yang berbeda di Indonesia.

Lalu serentak beberapa peserta diskusi tertawa dan mengaku masing-masing juga pernah mengalami hal yang sama. Tetapi keluhan yang terbesar adalah ingkarnya penjahit dari waktu yang sudah dijanjikan.

Saya jadi tertarik untuk mendalami kisah ini dan mencoba ngobrol dengan sekitar 12 orang penjahit di Kota Medan, 3 orang penjahit di Jakarta dan 1 orang penjahit di Batam. saya menemukan beberapa hal lucu yang penting kita bahas. Yang pertama, benar bahwa penjahit memerlukan waktu untuk menyelesaikan pekerjaanya, tetapi yang aneh adalah bahwa penjahit rata-rata memerlukan waktu hanya 1 hari untuk menyelesaikan satu pekerjaan jika semua bahan dan alatnya tersedia. Yang lebih aneh tetapi nyata adalah bahwa rata-rata penjahit menjanjikan pekerjaannya akan selesai dalam waktu rata-rata 6 hari.

Mengapa harus menjanjikan 6 hari untuk sesuatu yang bisa selesai hanya dalam 1 hari? Jikalah ada masalah bahan baku seperti benang, kancing dan resleting, mereka mengaku bisa di dapat dalam waktu cepat, apalagi ada yang membantu membelikannya ke toko perlengapan jahit.

Yang kedua, benar kadang-kadang seorang penjahit sedang dalam keadaan banjir order dengan pekerjaan yang menumpuk, tetapi masih saja ia mau menerima order dan tidak memberikan gambaran situasi pekerjaannya kepada pelanggan/pemesan. Hal ini adalah awal dari munculnya keluhan pemesan dikemudian hari.

Yang ketiga, benar bahwa pekerjaan seorang penjahit kadangkala banyak dan sulit menangani semua hal, tetapi jarang sekali penjahit yang mencoba mendelegasikan pekerjaannya kepada orang lain untuk memudahkan dan mempercepat penyelesaian pekerjaan.

Yang keempat, rata-rata para penjahit yang demikian memiliki kemampuan untuk bertahan dari wajah malu dan dengan cerdas mengkreasikan beberapa alasan agar dimaklumi setiap terjadi pengingkaran janji.

Yang kelima, rata-rata para penjahit yang terpaksa melakukan praktek ingkar janji menyadari bahwa pengingkarannya akan berakibat kepada pencitraan yang buruk dan kontra produktif untuk dirinya. Tetapi rata-rata mereka pernah mengulanginya lebih dari 2 kali.

Melukai Perasaan

Benar bahwa rejeki itu urusan Tuhan, tetapi jika peluang rejeki itu disia-siakan, maka Tuhan pun akan marah. Dengan mengingkari janji, jelas kita sedang melukai perasaan pemesan. Memang ada pemesan yang terluka hatinya yang masih terus menjadi pelanggan, tetapi biasanya itu terjadi karena terpaksa, seperti masyarakat luas yang sakit hati dengan perusahaan listrik negara tetapi tak bisa berpaling.

Jika ada pesaing yang lebih baik dan tidak ingkar janji, pasti para pemesan akan berpindah dan melupakan kita. Kalau Cuma dilupakan masih lumayan, tetapi kalau pelanggan berpaling sambil membawa luka di hati, biasanya mereka akan menceritakannya kepada orang-orang lain dan tersebarlah pesan berantai tentang kejelekan kita.

Mungkin ada bagusnya menyadari bahwa bisnis itu bukanlah sekadar jual beli, tetapi ada unsur moral didalamnya. Ada Tuhan dalam semua ceruk bisnis. Pelaku ingkar janji kadang tidak menyadari bahwa harusnya unsur Tuhan jangan pernah lepas dari sendi-sendi bisnis kita. Sekadar mengingatkan, Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan ciri-ciri Tentang Orang-Orang Munafik yaitu;

"Tanda orang-orang munafik itu ada tiga keadaan. Pertama, apabila berkata-kata ia berdusta. Kedua, apabila berjanji ia mengingkari. Ketiga, apabila diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya". (Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim).

Saya pikir anda sepakat dengan saya, bahwa para munafiklah yang biasanya merusak tatanan sosial dan tatanan kehidupan. Jadi mereka layak untuk ditempatkan di kasta yang paling rendah jika kita mengakui ada sistem kasta dalam hidup ini.

Bukan Cuma Penjahit

Fenomena janji penjahit ini rupanya tidak saja dilakukan oleh penjahit, tetapi juga pernah dilakukan oleh pebisnis lain yang bersifat pesanan. Baik dari bisnis makanan, bisnis perabot, konstruksi, sepatu, tas, dan lain-lainnya.

Selalu saja ada masa sial dimana mereka ‘terpaksa’ ingkar janji dari yang seharusnya dipenuhi pada saat kesepakatan dilakukan.

Jika benar-benar diamati, terlepas dari faktor luar (seperti bencana alam, bahan baku yang tidak ada di pasaran dll), penyebab utama ingkar janji adalah faktor internal pelaku. Mulai dari sikap angap enteng, sikap menunda, sikan tidak terbuka dan sikap teledor. Lalu juga tata kerja yang tidak teratur dan terencana apalagi bekerja tanpa catatan dan sistem pengingat yang efektif.

Tidak Semua Penjahit

Penyakit ingkar janji ini saya tegaskan tidak terjadi pada semua penjahit. Banyak juga penjahit yang tampil dengan profesional, tepat janji dan bahkan memberikan lebih dari yang sekadar mereka janjikan.

Mereka-mereka ini umumnya sanggup menjaga pelanggannya hingga lama dan bahkan sampai merekomendasikan kepada generasi-generasi dibawahnya.

Anda masuk golongan yang mana?

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »