Kalau bukan kita, siapa lagi?

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tgl 31 Mei 2010. pada halaman bisnis dan teknologi

SUYANTO (38 thn) adalah seorang salesman perusahaan otomotif keluaran negeri Jepang yang cukup terkenal, tapi dia malah menggunakan mobil buatan korea. Sama seperti Anita (23) yang jadi SPG produk handphone buatan China tetapi malah menggunakan handphone bermerek buatan Kanada. Aneh tapi nyata!

Sekarang, saya bertanya apakah anda menggunakan produk merek yang anda sendiri dalam keseharian? Apakah karyawan anda juga mengerjakan hal yang sama?

Saya pikir sedikit naif, jika kita meminta agar orang lain mengenal dan menggunakan merek kita bahkan kalau perlu mereka harus bisa jatuh cinta kepada merek kita, tetapi kita sendiri tidak melakukan hal yang kita suruhkan kepada orang lain itu.

Pertanyaan yang sama adalah, apakah benar seorang Komeng menggunakan sepeda motor merek Yamaha seperti yang ia iklankan? Apakah seorang Dedi miswar mengkonsumsi obat Magh yang selalu ia iklankan? Konon sekali waktu ada cerita menarik ketika wartawan memergoki Nirina Zubair, VJ MTV, memakai nomer operator lain padahal tengah menjadi brand ambassador IM3. seperti parahnya seorang karyawan pabrik minuman ringan ternama yang ketahuan di depan umum meminum bermerek kompetitor utama.

Pembaca yang budiman, saya sedang bicara tentang loyalitas. Sebuah aksi keterikatan diri terhadap sesuatu yang diyakini memberikan kebaikan bagi seseorang yang meyakininya. Dalam hal ini, loyalitas atas sebuah merek adalah hal penting yang diupayakan penuh oleh para pemasar terhadap targetnya.

Pada saat yang sama, loyalitas terhadap merek yang dilakukan oleh pihak internal adalah kunci penting untuk terciptanya pancaran pesona merek itu keluar menembus paradigma dan persepsi pasar.

Bangga

Saat saya menuliskan artikel ini, saya sedang mengenakan T-shirt dengan logo salah satu mobil sport unggulan dari Amerika. Pakaian ini saya beli karena merek dan pesan sederhana dibawah merek itu. Saat mengenakan pakaian ini, saya merasa memiliki karakter yang terkesan dari merek mobil ini.

Saya juga ingat bahwa dipintu mobil kawan saya juga tertempel stiker logo sepeda motor besar yang legendaris dari Amerika. Sebegitu mempesonanya merek itu, hingga kawan saya dan banyak orang lain rela menutup cat mobil yang bagus itu dengan stiker ’promosi’ yang dia beli sendiri. Tidak dibayar sama sekali oleh pemilik merek itu.

Tidak sedikit orang yang rela menjadi papan reklame berjalan dari berbagai klub sepak bola eropa. Tidak sedikit orang yang merelakan badannya membawa pesan-pesan promosi dari merek-merek dagang tertentu. Lucu kan?

Betapa anehnya, jika si pemilik merek atau orang-orang dalam perusahaan itu sama sekali tidak bangga dengan merek mereka sendiri.

Martin Lindstrom mempunyai cara unik untuk mengukur loyalitas terhadap merek. Dalam survei yang melibatkan responden dari 13 negara, responden ditanya kesediaannya untuk ditato logo merek favoritnya secara permanen di lengan atau anggota tubuh lainnya. Pendekatan nyleneh ini ternyata didukung oleh 18,9 persen responden yang memfavoritkan Harley-Davidson. Tiga merek paling favorit yang secara berturut-turut mengikutinya adalah Disney, Coca-Cola, dan Google.

Loyalitas internal

Siapa lagi yang akan mempromosikan merek kita kalau bukan di mulai dari pihak internal? Tentu saja harus ada usaha untuk melibatkan pihak internal untuk melakuakn hal itu. Beberapa perusahaan besar membuat system mulai dari rekrutmen, pelatihan, sampai kebijakan SDM agar mencerminkan atribut dan pesan yang terkandung dalam merek mereka. Yang itu juga mencakup layanan, perilaku, sampai pakaian karyawannya. Manajemen juga memastikan bahwa karyawannya mengerti dengan gamblang makna merek mereka, dan bagaimana mereka harus bersikap dan berperilaku untuk mendukungnya.

Jadi loyalitas atas merek oleh karyawan sebagai pihak internal mempunyai makna yang lebih dalam. Bukan sekedar memakai produk dengan setia, tetapi juga harus mampu menjaga agar pelanggan tetap setia. Jadi karyawan mesti dijadikan sebagai pasukan inti dalam menghidupkan merek.

Keyakinan ini harus dimulai sejak awal, sejak tahap perekrutan karyawan baru. Selanjutnya adalah langkah-langkah membangkitkan antusiasme dan gairah karyawan sehingga merek menjadi komitmen mereka. Cara membangkitkan yang paling efektif adalah melibatkan mereka dalam prosesnya. Termasuk komunikasi yang melibatkan edukasi karyawan berikut mekanisme umpan baliknya, sehingga karyawan memiliki kesadaran yang tinggi terhadap esensi dari merek. Pemahaman esensi ini harus dimulai dari nilai-nilai yang terkandung dalam setiap atribut identitas merek sampai filosofi merek sehingga tumbuh dan berkembang semangat tanggung jawab dan rasa memiliki.

Kesemua tahapan itu harus didukung komunikasi internal secara konsisten untuk menjelaskan tata nilai dan perilaku yang sesuai dengan kekuatan inti merek tersebut. Kesuksesan internalisasi ini ditandai dengan merasuknya tata nilai dan perilaku ini dalam keseharian karyawan.
Hambatan

Sedikit ironi ketika merek yang diemban oleh para karyawan adalah merek mahal dan tidak terbeli oleh karyawannya. Tidak semua karyawan sebuah produk mobil mewah sanggup membeli dan menggunakan mobil itu dalam keseharian. Sama dengan pekerja pemasaran komplek perumahan mahal juga tinggal di komplek tersebut.

Tetapi hal tersebut diatas tidak menutup kemungkinan agar pihak internal tersebut diatas menggunakan atribut-atribut yang bisa membangun kekuatan dan kebanggaan produknya.

Kini, banyak media jejaring sosial yang sangat potensial untuk juga mempromosikan sebuah merek. Sayangnya sedikit sekali karyawan yang mau mengkoneksikan dirinya dengan merek perusahaan dimana dia bekerja.
------
Bayangkan jika orang-orang lain sangat bangga mengenakan logo dan merek yang kita miliki tanpa kita harus membayarnya untuk melakukan hal itu. Bayangkan betapa beruntungnya kita ketika mengetahui banyak orang yang rela mentato tubuhnya dengan logo itu.

Tentu hal itu tidaklah mustahil. Semuanya harus segera dimulai, dan siapa lagi kalau bukan kita sendiri yang melakukannya.

Konsultasi dan Pelatihan; tj@cahyopramono.com



Previous
Next Post »