GRATIS



Tulisan ini sudah diterbitan di harian waspada medan, pada halaman ekonomi dan bisnis. tgl 27 Juni 2011.


            HANYA ada dua bagian orang yang mendapatkan sesuatu tanpa harus membayar alias Gratis. Yang pertama adalah orang yang terhormat dan yang satu lagi adalah orang miskin.

            Sebagai pebisnis sesekali anda ‘harus’ mengorbankan keuntungannya dengan memberikan layanan dan produknya tanpa harus meminta bayaran dari si pelanggan.

            Bagi pebisnis, orang yang terhormat dalam sekelompok yang pertama adalah orang-orang tertentu yang dipandang memberikan ‘pengaruh’ untuk bisnis, sehingga layak diberikan penghargaan dengan memberikan ‘hadiah’ berupa layanan/produk gratis.

            Terkadang pebinsis juga menemui orang-orang ‘miskin’ yang memerlukan belas kasihan sehingga ‘harus’ diberi gratis.

Semua pemberian gratis itu bisa bersifat sukarela atau terpaksa, juga karena status si penerima layanan/produknya.



Hormat

            Dalam bentuk sederhana, praktek ini bisa dilihat dipasaran seperti sampling produk. Sengaja dibagikan kepada banyak orang agar mereka mencicipi atau mencoba produk tersebut sehingga masyarakat tahu kelebihan produk tersebut dan berlanjut menjadi pelanggannya.

            Tetapi pemberian gratis karena faktor hormat, biasanya diberikan dengan suka rela oleh pengusaha karena penerimanya adalah orang-orang yang dipandang bisa memberikan keuntungan tertentu bagi si pengusaha.

            Bisa jadi mereka adalah pejabat yang memberikan pengaruh sosial. Bisa jadi mereka adalah tokoh publik atau artis terkenal sehingga pemberian gratis itu memberikan promosi tambahan bagi produk dan si pengusaha.

            Secara praktis, bisa jadi target penerima penghormatan itu adalah pembeli potensial. Mungkin mereka adalah manager pembelian, kepala bagian keuangan, atau pimpinan umum dari perusahaan yang dijadikan sasaran pemasaran si pengusaha.

            Pemberian gratis itu adalah bagian dari biaya promosi. Beban biaya itu diharapkan akan menjadi impas, terbayar oleh transaksi lanjutan atas efek pemberiannya.

            Dalam kelompok penerima karena unsur hormat ini adalah mereka-mereka yang bisa dianggap sebagai kawan dan saudara. Tetapi dalam hal ini sudah tidak lagi bisa dianggap bisnis karena itu bersifat perkawanan dan persaudaraan. Dalam hal ini biaya yang timbul tidak semestinya dibebankan ke bagian promosi. Karena mereka itu jelas bukan sasaran yang dituju oleh perusahaan.



Sumbangan

            Saya membagi kelompok penerima sumbangan ini dalam 2 kategori. Yang pertama adalah mereka yang benar-benar miskin secara material. Mereka masuk dalam daftar kriteria orang-orang yang harus disantuni. Mereka adalah fakir miskin yang tidak bisa diterlantarkan.

            Kepada mereka, pemberian gratis itu cenderung bersifat sumbangan. Oleh karenannya, biaya penggratisan itu tidak bisa dibebankan kepada biaya promosi.

            Memberikan sumbangan kepada fakir miskin seperti diatur oleh agama-agama besar adalah salah satu kunci sukses sebuah proses pencarian rejeki. Dalam kontek manajemen modern, memberi sedikit dan menerima dalam jumlah yang besar adalah kunci kekayaan. Tetapi saya pikir manajemen yang ditawarkan Tuhan tidaklah demikian; “Keluarkan sebanyak-banyaknya dan Tuhan pasti akan memberikan lebih banyak lagi...” Tentu hukum ini hanya berlaku bagi yang percaya.

            Kategori kedua penerima sumbangan adalah mereka yang miskin moral. Mereka adalah orang-orang yang sebenarnya memiliki uang cukup bahkan bisa jadi kaya raya. Tetapi mereka merasa harus dihormati sehingga mereka melakukan pemaksaan-pemaksaan untuk mendapatkan segala sesuatunya secara gratis.

            Mereka cukup lihai dengan melakukan berbagai tekanan untuk mendapatkan apa yang mereka kehendaki. Gaya premanisme bermain dalam pola ini.

            Dalam pikiran saya, mereka adalah perampok dalam bentuk lain. Mereka memiliki kekuatan dan ketegaan untuk memaksa kita memberikan layanan/produk kepada mereka secara gratis sebagai bentuk perwujudan atas sikap gila hormat yang mereka cari.

            Sangat disayangkan bahwa ada sebuah kayakinan yang salah yang berlaku di tatanan sosial kita. Konon, bagi sebagaian orang, ada sebuah keyakinan dan kebanggaan bahwa mereka menjadi hebat jika mereka mendapatkan sesuatu dengan gratis.

            Saya pikir, melawan adalah pilihan yang paling ideal. Tentu perlawanan itu bertingkat sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Dari memberikan perlawanan terbuka, mencari perlindungan dari lembaga hukum negara, atau hingga ketika semua tidak mungkin, melawan dengan doa dalam hati juga bisa dilakukan.



 Penghormatan

            Telepas dari kelompok perampok yang tak bermoral. Ketika memberikan penghormatan dengan memberikan layanan/produk gratis kepada seseorang, selayaknya pemberian itu juga harus dilakukan dengan rasa hormat yang tinggi. Pastikan semua pihak pelayanan memahami bahwa pemberian gratis itu dilakukan dengan penghargaan dan memposisikan si penerima dengan martabat yang juga tinggi.

            Semula petugas pelayanan harus tahu siapa mereka itu dan memberikan keyakinan bahwa mereka adalah orang-orang yang memberikan manfaat bagi perusahaan. Pastikan pegalaman-pengalaman melayani para perampok amoral selama ini tidak mengganggu pelayanan penghormatan kepada mereka yang memang layak menerimanya.



Anggaran

            Menganggarkan pemberian layanan gratis dalam sub bagian promosi adalah pilihan bijaksana. Karena dalam iklim usaha di negeri ini, pilihan itu terkadang tidak bisa dielakkan. Tentu saja memberikan yang terbaik dan sesuai anggaran promosi yang ditetapkan adalah keharusan yang dipilih.

            Yang meringankan beban pengusaha dalam hal ini adalah, bahwa memberikan produk layanan gratis ini biasanya berbiaya lebih rendah daripada memberikan uang untuk membiayai produk layanan orang lain. Pengusaha tetap menghitungnya dari biaya produksi bukan dari harga jualnya. 

            Dan pasti keuntungan langsung yang didapat adalah bertambahnya jumlah orang yang mencoba dan menikmati layanan produk kita. Artinya ada peluang bertambahnya jumlah mulut yang ikut mempromosikan produk kita.

            Media publik juga tidak akan menyiarkan kehabatan produk jasa layanan kita jika tidak ada orang-orang yang memiliki nilai berita yang mencoba membuktikan keunggulan produk kita. 

            Karena bisnis adalah pilihan untuk mendapatkan keuntungan, maka tetaplah berorientasi kepada untung dan rugi atas semua langkah-langkah yang di putuskan. Yang perlu disadari adalah bahwa keuntungan tidak selamanya diukur dari nilai rupiah yang didapat. Dan keuntungan tidaklah selalu harus dipetik hari ini, pada saat biaya dikeluarkan. Mungkin tahun depan atau bulan depan. Bijaksanalah.





Konsultasi & pelatihan; tj@cahyopramono.com


Previous
Next Post »