OMZET MENTOK

            KETIKA bisnis baru dimulai, suasana menjadi dinamis dan menarik. Tetapi ketika bisnis sudah berjalan sekian waktu, dan grafik produktifitasnya sudah mulai mendatar saja, para pebisnis akan diserang penyakit rutinitas.
            Itu adalah penyakit yang berbahaya yang menyerang syaraf kreatifitas. Rutinitas akan membuat si pasien memasuki zona nyaman dan mulai meninggalkan potensi perjuangannya. Penderita penyakit ini akan mengalami kejenuhan dan tumpulnya kreatifitas serta berkembangnya rasa takut. Takut untuk berubah, takut gagal dan takut mengambil resiko.
            Yang lebih memprihatinkan adalah ketika si penderita adalah tipe pebisnis yang suka terlibat langsung dalam operasional bisnisnya. Biasanya penderita akan terjebak dalam rutinitas yang berkelanjutan tanpa akhir. Hari-hari yang dilewati adalah rutinitas tanpa tantangan. Dari pagi hingga malam. Si penderita akan terjebak terhadap permasalahan teknis yang sebenarnya tak harus ia tangani (jika ia tahu rahasianya). Lebih berbahaya lagi jika omzet bisnisnya sudah mentok dan cenderung tidak mungkin untuk didongkrak naik.
Si penderita penyakit ini –yang pada dasarnya memiliki potensi besar—mengalokasikan energinya untuk hal-hal sederhana yang tidak penting. Pada gilirannya ia hanya menciptakan konflik internal yang tidak perlu. Penderita penyakit ini biasanya membunuh potensi-potensi kepemimpinan di bawahnya. Ia merasa tidak memiliki kader dan calon pemimpin yang bisa dipercaya. Akhirnya ia terus terlibat dan melibatkan diri. Sementara peluang emas potensinya semakin berkurang dan akan tersisihkan jaman.

Takaran
            Semua hal ada takarannya. Termasuk nilai omzet yang bisa di dapat oleh sebuah bisnis. setelah berjalan beberapa waktu, saya pikir semua pengusaha harusnya menyadari tingkat rata-rata omzet yang dia dapatkan dari satu bentuk usaha.
            Jika sudah dalam kesimpulan bahwa omzet mentok. Ada beberapa cara yang bisa di tempuh untuk mengembangkan lebih lanjut bisnis tersebut. Diantaranya adalah dengan menambah kapasitas penjualan, membuka cabang baru, membangun waralaba, go public, membuka lincensing dan joint ventures/penyertaan modal.
            Dalam pengamatan saya, seorang salesman/penjual mobil di Indonesia rata-rata dalam satu bulan bisa menjual 6 unit mobil dan petugas yang menjual mobil di counter bisa sampai 8 unit mobil per bulannya. Itu jumlah yang sulit ditingkatkan oleh rata-rata penjual yang ada. Artinya untuk meningkatkan penjualan, perlu ditambah tenaga penjualannya.
            Sebuah toko karena alasan lokasi, persaingan dan pertimbangan lain, biasanya akan memiliki kapasitas omzet yang terbatas, tetapi berpotensi bertambah jumlah omzetnya ketika dibuka cabang baru di dearah lain. Kenyataan yang perlu disadari oleh pebisnis adalah bahwa sebenarnya manusia kebanyakan berperilaku seperti binatang pada umumnya. Mereka hanya akan berkeliaran di zona-nya. Manusia akan bergerak dalam kesehariannya pada daerah-daerah yang biasa dia lewati dan kunjungi. Ada yang bergerak hanya dalam hitungan radius 10 km, ada juga sedikit yang bisa bergerak jauh diatas kilometer tersebut. Karena alasan inilah membuka cabang baru menjadi mendesak untuk meningkatkan omzet bisnis.

Ekspansi
            Menambah jumlah tanaga penjualan seperti dibahas diatas bisa jadi solusi yang perlu dilakukan ketika omzet sudah mentok. Dalam bentuk lain, penambahan tersebut bisa juga berupa menambah daya tampung, menambah kapasitas produksi dan menambah jam buka pelayanan penjualan.
            Sementara itu, membuat cabang baru adalah solusi penting ketika pilihan diatas sudah dilakukan dan omzet masih juga mentok. Untuk membuka cabang baru, syarat wajib yang pertama harus disadari pengusaha adalah perubahan jiwa dan karakter bisnis yang bersangkutan. Harus dirubah pola pikir sebagai pemilik dan pengelola bisnis menjadi investor.
            Jika pola pikir tersebut sudah berubah, selanjutnya membuka cabang baru bukanlah hal yang sulit dan mustahil. Pada dasarnya membuka cabang baru adalah upaya menyalin keseluruhan mekanisme bisnis, yaitu menyalin mekanisme keuangan, pemasaran, sistem, hukum dan produk dari bisnis kita yang lama ke bisnis kita yang baru. Jika perlu, koreksi dan perbaikan atas kekurangan dilokasi bisnis pertama bisa dilakukan di cabang yang baru tersebut.         
Selanjutnya, jika memang keputusan untuk membuka cabang sudah bulat, kita harus menghadapi isu pendelegasian tugas pengelolaan cabang sehari-hari.  Inti dari pembukaan cabang baru adalah seni mengendalikan orang lain. Tidak lebih.
Beberapa poin yang bisa kita pertimbangkan saat mendelegasikan tugas tersebut ialah: Putuskan kepada siapa kita harus mendelegasikan tanggung jawab. Apakah orang tersebut memiliki ketrampilan yang diperlukan dan latar belakang pengetahuan yang relevan? Seberapa cepat orang itu bisa belajar?
Ajari orang tersebut tentang tugas-tugas yang harus dilaksanakannya. Tentukan dengan spesifik apa saja lingkup yang menjadi tanggung jawabnya. Jelaskan bagaimana tugas tersebut berkaitan dengan usaha dalam tingkatan yang lebih besar. Nyatakan dengan tegas tujuan dan putuskan tenggat waktu dari tugas-tugas yang dibebankan.
Doronglah orang kepercayaan kita tersebut untuk bertindak secara Mandiri dan membuat keputusan sendiri dengan menekankan pada hasil. Berikan ijin kepada orang kepercayaan untuk melakukan tugas tanpa pengawasan melekat setiap saat. Berikan tawaran bantuan jika perlu tetapi jangan terlalu turut campur, terutama jika orang kepercayaan memiliki caranya sendiri untuk mewujudkan hasil yang kita harapkan. Bersikaplah terbuka dan fleksibel.
Periksalah secara berkala kualitas pekerjaan yang dihasilkan. Berikan umpan balik yang membangun dengan sopan. Berikanlah semacam penghargaan bagi orang kepercayaan yang melakukan tanggung jawab yang kita berikan, dan sebutlah namanya saat kita memuji kesuksesan cabang baru.
Bersedialah untuk menjawab pertanyaan dan mendiskusikan kemajuan yang telah dicapai. Jangan segan untuk memberikan pujian untuk pekerjaan yang berhasil diselesaikan dengan memuaskan.
Hindarilah pemikiran bahwa pendelegasian adalah suatu hal yang merepotkan karena pendelegasian tugas akan banyak memudahkan kita. Pendelegasian sebuah tugas bukan berarti kita sebagai pemilik bisnis tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi di cabang usaha. Tetap lakukan pemeriksaan secara teratur. Bahkan perlu juga dilakukan suatu inspeksi mendadak untuk lebih memastikannya.
Ingat, tidak semua pegawai bermental maling dan penghianat.

Konsultasi & Pelatihan tj@cahyopramono.com


tulisan ini sudah di terbitkan di harian waspada medan, pada halaman bisnis dan teknologi tgl 04 Juli 2011

Previous
Next Post »