Arogansi Market Leader



           AKHIR pekan lalu, saya mengurus perijinan di salah satu dinas di Kota Medan. Disana ada hanya ada satu gerai layanan fotocopy. Dua kali saya harus kembali ke gerai tersebut dan mendapatkan situasi layanan yang sedikit perlu diperbaiki. Tidak ada salam dan pertanyaan bantuan layanan.
Saya sudah berdiri mendekat tetapi tetap saja dihiraukan oleh para petugasnya. Setelah akhirnya saya bertanya dan minta tolong barulah mereka bergerak melayani saya. Soal harga? Saya tak berani berkomentar, karena gerai itulah satu-satunya yang ada disana. Apakah salah jika saya berkata-kata dalam hati, kalaulah ada beberapa gerai lain disana, pasti situasinya berbeda.
Kita masih ingat ketika dahulu kita harus seperti menyembah kepada perusahaan telekomunikasi negara untuk mendapatkan sambungan telepon. Lama antri, dibiarkan bahkan kadang harus menyogok oknumnya. Kini, situasi berbalik, mereka yang merengek menawarkan produk mereka yang dulu kita minta. Itu terjadi karena kini banyak pilihan produk telekomunikasi.
Saya ingat di beberapa negara yang saya kunjungi ada memiliki beberapa perusahaan penyuplay bahan bakar minyak. Karena banyak pilihan, mereka bertanding untuk merebut simpati pelanggannya. Suatu saat pasti terjadi di indonesia.
Jikalah ada pilihan lain untuk mendapatkan energi listrik dan air minum, pasti banyak orang sekarang ini yang akan senang hati melakukannya. Bukankah begitu?

Berkuasa
           Bisnis menjadi besar dan ‘berkuasa’ adalah hak siapapun juga. Jika kegigihan dan nasib bertemu, maka itu akan terjadi. Faktor penyebabnya bisa saja karena faktor monopoli. Tiada saingan dalam bisnis tersebut.
           Kekuasaan bisnis bisa juga terjadi karena kedekatan dengan penguasa. Kedekatan tersebut menciptakan pengkhususan pelayanan publik. Kemudahan akses dan aroma kekuasaan.
           Kekuasaan bisnis juga bisa tercipta karena kekuatan modal. Dengan modal yang besar sangat berpotensi mendapatkan suplay bahan dengan murah dan banyak, sehingga persaingan di pasar mudah dikendalikan dengan harga.
           Ada juga kekuasaan bisnis tercipta karena keunggulan produk yang diciptakannya. Keunggulan tersebut tidak dimiliki oleh pesaing lain dan bisa bertahan lama tanpa persaingan yang seimbang.
           Kekuasaan bisnis tersebut diatas boleh saja dimiliki seseorang. Tetapi kekuasaan tersebut bisa jadi tidak bertahan lama dan berpotensi menuai permusuhan ketika tahta kekuasaan itu tidak dijalankan dengan baik.
           Kekuasaan binsis yang berpotensi menunai permusuhan adalah ketika kekuasaan bisnis itu dijalankan dengan keyakinan diri yang berlebihan tanpa memanusiakan pihak lain, ketika merasa paling besar / paling hebat sehingga mengabaikan yang kecil, mengabaikan yang sepele dan mengabaikan yang kurang penting.

AROGAN
Adalah perilaku yang menandakan bahwa seseorang bermartabat rendah. Arogansi itu biasanya ditunjukkan dengan harapan agar pihak lain tahu bahwa dirinya hebat. Secara sederhana, jika seseorang memang benar-benar hebat, tanpa perlu mengaku bahwa dirinya hebat pun orang lain akan mengetahuinya.
           Dibalik perilaku arogan, ada sebuah rasa tidak percaya diri bahwa dirinya hebat dan bermartabat, sehingga seseorang yang arogan itu berusaha mengabarkan ke pihak lain dengan perilakunya agar ia di akui bahwa dirinya hebat. Kehebatan itu juga akan luntur ketika mereka berperilaku tidak memanusiakan pihak lain. Ketika mereka merasa begitu besar sehingga mengabaikan yang kecil, mengabaikan yang sepele dan mengabaikan yang kurang penting.
Jika betul demikian, bukankah seseorang itu sebenarnya tidak hebat?. Kehebatan yang tidak hebat itu biasanya tidak akan bertahan lama. Ketika waktunya tiba seseorang itu tidak hebat lagi, maka kejatuhannya akan sangat menyakitkan.
           Mengawali bulan Ramadhan yang mulia ini, saya ingin berbagi dengan anda tentang kenyataan manusiawi yang sering terjadi dalam dunia bisnis. sebuah kenyataan bahwa sering kali posisi pemimpin pasar berlaku arogan yang pada akhirnya akan menjadi bumerang yang menjatuhkan bisnis mereka itu sendiri.

PELAYANAN
           Ketika berkuasa dan bisa melakukan apapun, seseorang akan cenderung bekerja “semaunya sendiri”. Toh pada kenyataannya, semua orang akan datang kepadanya, baik senang atau tidak senang. Sehingga banyak penguasa bodoh yang memperlakukan pembeli dengan cara sesuka hatinya saja. Mulai dari cara menyediakan produk dan layanan, penentuan harga, pembayaran, ketersediaan suplay, hingga bentuk layanannya. Berhati-hatilah, Ini adalah awal dari kehancuran dimasa yang akan datang.
           Benar kita mungkin sedang berkuasa. Benar mungkin kita tidak memiliki pesaing. Benar mungkin kita diperlukan orang lain. Tetapi apakah kita tidak menyadari bahwa Tuhan memberi uang kepada kita melalui tangan pelanggan?
Ketika kita tidak memanusiakan pelanggan, ketika itu juga kita sedang menjauhkan mereka dari kita. Ketika kita berlaku arogan, sombong dan tidak memberikan pelayanan yang baik, sebenarnya kita sedang menutup pintu rejeki di kemudian hari.
Nah, ketika berbicara masalah pelayanan, selain sistem dan prosedur, pelaku pelayanan itulah yang harus benar-benar menyadari mengapa ia harus melayani.
Hindarkan aksi-aksi memperlakukan pelanggan dengan sesuka hati. Hindarkan perilaku hanya mengutamakan pelayanan secara mencolok kepada pelanggan besar dan mengabaikan pelanggan kecil. Hindarkan aksi-aksi yang berpotensi menyakiti hati pelanggan.
Tempatkan pelanggan secara manusiawi. Layani mereka dengan senang hati. Layani mereka sebagai perantara rejeki dari Tuhan. Layani mereka dengan baik, karena jika tidak, maka akan ada orang lain yang akan senang hati melakukannya untuk mereka.
Jangan sekali-kali salah langkah dengan kekuasaan di tangan. Kekuasaan itu adalah amanah. Semua kekuasaan pada akhirnya harus dipertanggungjawabkan. Menyalahgunakan kekuasaan untuk kepuasan diri yang sombong dan menginjak/memeras yang sedang tidak berkuasa, adalah perilaku manusia dengan martabat yang paling rendah. Ingatlah bahwa diatas langit ada langit, ada yang lebih berkuasa diatas kekuasaan kita saat ini.
Selamat berpuasa bagi kaum muslim. Puasa penting untuk kemuliaan kedewasaan batin dan mengawal kekuasaan bisnis kita untuk kebaikan yang sebenarnya. Jadikan diri kita orang-orang yang selalu bersyukur.

Konsulatasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

tulisan ini sudah terbit di harian waspada medan, pada tanggal 01 aGUSTUS 2011 pada halaman bisnis dan teknologi.
Previous
Next Post »