Jika Tak Bisa Jadi Pengusaha



           KESADARAN untuk bisa terlepas dari status buruh –dalam bahasa yang halus disebut pekerja/pegawai-- dan bisa mandiri lalu terbebas merdeka secara finansial selalau berkembang setiap jaman. Obsesi menjadi pengusaha atau pemilik binsis adalah impian banyak orang.
           Memang ada sebagian kecil pekerja/buruh yang mendapatkan pendapatan yang sangat besar. Tetapi yang jauh lebih banyak adalah mereka yang terlilit hutang bulanan, menikmati gaji dalam hitungan hari dan selebihnya merana dan lalu berhutang lagi.
           Mereka para pekerja menjadi risau dalam musim liburan ini. Pertama karena tak bisa sesuka hati cuti untuk berlibur bersama anak-anaknya atau kedua karena tidak punya cukup anggaran untuk liburan.
           Berbeda dengan para pengusaha yang berpotensi mendapatkan uang dengan jumlah yang lebih besar dan bisa mempekerjakan orang lain, sehingga liburan kadang bukan permasalahan yang perlu di khawatirkan.
           Apapun status kepangkatan pekerjaan anda, sebutlah nama yang paling terpuji dalam jajaran manajemen, status itu tidak bisa serta merta melepaskan diri dari kategori buruh/pekerja. Itu hanya nama kepangkatan pekerja, bukan berubah menjadi pemilik bisnis tersebut. Dan siapapun yang masih berstatus pekerja, dia bisa dipecat kapan saja.
           Sayangnya di negeri tercinta ini tidak ada sekolah formal yang mengajarkan bagaimana caranya menjadi orang kaya. Dan sekian banyak orang kaya, ternyata mereka bersekolah dijalanan. Mereka bersekolah dengan kegagalan dan keterpurukan.
           Tidak sedikit kelas pekerja yang berusaha pindah posisi menjadi pengusaha. Tetapi diantaranya banyak yang gagal dan terjerembab di lembah kesengsaraan dan akhirnya kembali ke posisi yang tidak ia inginkan, kembali menjadi pekerja.
           Tulisan ini saya dedikasikan kepada mereka yang merasa sudah mencoba tetapi tetap gagal. Kepada mereka yang masih ingin mempertahankan status kepegawaiannya tetapi ingin memiliki pendapatan “sampingan”. Kepada mereka yang merasa bahwa mereka ‘diciptakan’ Tuhan sebagai pekerja saja.
          
Investasi
           Adalah cara lain untuk mendapatkan penghasilan besar selain menjadi pengusaha. Konsepnya sederhana saja. Gunakan modal anda untuk sebuah bisnis dan biarkan orang lain yang mengerjakannya. Perbedaan yang basik dari menjadi pengusaha adalah sistem kerjanya saja. Sama-sama menggunakan modal, tetapi sebagai investor, anda tidak perlu terlibat sangat jauh seperti menjadi pengusaha.
           Ada banyak ladang investasi untuk mengembangbiakkan uang Anda. Sebutlah membeli saham, obligasi, reksadana, emas, properti, atau penyertaan modal ke bisnis orang lain. Setiap ladang investasi ini tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi, di mana pun investasinya, idenya tetap sama. Yakni: menempatkan sebagian uang agar bisa memperoleh penghasilan lebih. Secara kasar saya sebut langkah ini sebagai langkah memancing uang dengan uang.
           Ketika anda berinvestasi, anda sudah disebut investor. Tak usah pikirkan nilai investasi yang sangat besar seperti yang sering disebut di koran-koran. Sering kita dengar pemerintah mengundang investor dari luar negeri dengan nilai milyaran rupiah.
           Anda sudah disebut investor sekalipun yang ada tanamkan hanya sedikit. Sebutlah anda memiliki Rp. 5 juta dan anda memberikan uang tersebut kepada seseorang untuk berjualan bakso lalu anda mendapatkan keuntungan dari bisnis tersebut. Dari posisi itu anda sudah bisa disebut investor.
Sebelum memilih bentuk investasi yang akan anda pilih pikirkan terlebih dahulu investasi apa yang cocok untuk anda. Yang membedakan investasi dengan berjudi adalah pertimbangan dan pemikiran logisnya. Jangan pernah asal melemparkan uang sambil terpejam. Analisis, berbagai langkah uji dan bergerak dengan lincah hanya ketika memang ada potensi keuntungan yang masuk akal. Saya menyebut resiko dengan istilah konsekuensi logis dan itu juga ada ketika berinvestasi.

Bagi hasil
           Ada beberapa konsep investasi yang sekarang ini banyak sekali referensinya. Mulai dari menyertakan modal pada perusahaan yang sudah memiliki sistem kuat dan anda tinggal membeli sahamnya di bursa saham. Atau cara mudah lain dengan membeli waralaba/franchise atau yang sudah kaprah disebut orang dengan ikut personal franchise/network marketing.
           Pertanyaanya adalah, bagaimana kalau modal yang kita punya hanya sedikit saja? Kali ini saya ingin menyarankan anda kepada konsep paling sederhana berupa penyertaan modal.
           Pilihlah bisnis dan pebinsis yang anda kenal dengan baik. lalu pelajari dan jajagi potensi keuntungan dan prospek bisnis tersebut. Jika anda perhitungkan layak dan bagus, coba pelajari apakah ada kemungkinan anda ikut menyertakan modal anda.
           Tentu saja anda akan mendapatkan hasil dari bisnis tersebut. Konsep pembagiannya bisa dibicarakan dan dirundingkan dengan si pimilik/pengelola bisnis. ada sebagian orang yang memberikan jaminan keuntungan dalam persentase tertentu tanpa membebankan potensi kerugian bagi anda. Cara ini persis seperti menabung di bank dengan potensi keuntungan yang lebih sedikit diatas bunga bank. Tentu saja presentase keuntungan akan dimiliki oleh si pegelola usaha, karena ia menanggung resiko yang paling besar.
           Untuk mendapatkan persentase keuntungan lebih besar, coba tawarkan penyertaan modal dengan sistem bagi untung-rugi. Artinya, baik keuntungan maupun kerugian akan ditanggung bersama-sama. Dengan posisi tawar ini, anda bisa meminta pembagian yang lebih besar, karena anda juga ikut menanggung potensi kerugian dan anda tidak terlibat dalam pengelolaan bisnisnya. Artinya maju-mundurnya usaha itu tergantung kapasitas kemampuan si pelaksana.
           Tanpa anda sadari, anda bisa merubah posisi kepada pemodal utama, dimana andalah pemilik modal utuh dan pihak lain hanya menjadi pelaksananya saja. Dan ketika itu terjadi anda adalah pengusaha yang bekerja dengan sistem tanpa harus terlibat sangat dalam.

Manusia
           Gaya investasi yang saya sebutkan diatas sangat bergantung kepada kualitas dan karakter manusia yang anda ajak bekerjasama. Benar bahwa investasi memerlukan berbagai kemampuan manajemen, tetapi investasi yang aman selalu bergantung kepada kualitas pelaksananya.
           Artinya, faktor manusia menduduki posisi sangat penting untuk kelangsungan bisnis tersebut. Jadi inti dari manajemen investasi seperti yang saya sebut diatas akan sangat bergatung kepada integritas orang-orang yang melaksanakannya.
           Seni investasi diatas adalah ketika kita mencari dan mendapatkan serta mempertahankan orang-orang yang berkualitas dan cocok karekternya dengan harapan kita. Sesuatu yang kadang sangat sulit mencarinya.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com 

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan pada tanggal 11 juli 2011, di halaman bisnis dan teknologi.
Previous
Next Post »