SPESIALIS ≠ PENGUSAHA


mana yang pengusaha?


           ADA lelucon, bahwa jadi pengusaha itu tak perlu sangat pintar.  Dalam praktik bisnis yang sering kita temukan adalah banyak pengusaha sukses yang kadang hanya lulusan sekolah menengah tapi ia memimpin sekelompok orang-orang pintar lulusan perguruan tinggi terkenal dari dalam dan luar negeri. Tak cuma sarjana, bahkan master ataupun kelas doktor.
           Lelucon nyata itu banyak terjadi di sekitar kita. Ada seorang pengusaha rumah makan sukses yang hanya bisa memasak air. Ada pengusaha konstruksi hebat yang tak pernah bisa memegang sendok semen. Ada pengusaha rumah sakit besar yang tak pernah sekalipun jadi perawat apalagi dokter. Ada pemilik koran yang tak pernah sekalipun belajar menulis berita.
           Walapun tidak sekolah dibidang itu, tidak berpengalaman dibidang itu, tetapi mereka sukses mengarahkan orang-orang pintar untuk bekerja baginya.

Gagal
           Di sisi lain, banyak orang pintar yang gagal ketika beralih menjadi pengusaha. Terlebih dahulu saya memohon maaf bagi mereka yang mengalami pengalaman pahit ini. Lelucon diatas jelas bukan canda bagi mereka yang gagal padahal mereka jelas pintar dibidangnya.
           Terimakasih untuk kepercayaan para pembaca dengan berbagi pengalaman gagal melalui email saya. Mereka adalah seorang dokter spesialis yang bergelar proffesor, gagal total ketika membuat rumah sakit. Seorang mekanik dengan pengalaman 20 tahun diperbengkelan mobil tetapi kandas dalam 8 bulan ketika ia membangun bengkel sendiri.
           Ada seorang chef – kepala juru masak—yang sudah malang melintang di lebih dari 10 hotel bintang 5 di berbagai belahan dunia yang gagal ketika membuka restoran impiannya. Ada seorang fotographer senior yang selalu mendapat acungan jempol untuk karya-karya fotonya, tetapi tidak sampai 2 tahun ia sanggup mempertahankan studio fotonya sendiri.
           Ada seorang kepala pelayanan kebersihan yang berpengalaman di lebih dari 14 hotel dan memimpin 3 jasa kebersihan publik, tetapi terjungkal bebas ketika ia membangun bisnisnya sendiri. Sangat ironik, ia hanya bertahan 20 bulan. Akhirnya menyerah dan kembali mejadi pegawai.
           Ada seorang ahli akuntasi dengan pengalaman lebih dari 15 tahun menangani perusahaan-perusahaan besar, tetapi bangkrut di bulan ke 15 sejak ia membuka praktek jasa akuntan publiknya sendiri.

Spesialis
           Obsesi banyak pemuda adalah menjadi ahi yang spesialis. Itu impian yang bagus. Karena biasanya spesialis mendapatkan gaji yang lebih besar daripada yang umum. Sebutlah pekerja hotel, yang bergaji besar adalah spesialis seperti pimpinan juru masak dan pimpinan teknisi. Dokter spesialis biasanya juga bergaji lebih besar dari pada dokter umum atau bagian umum.
           Dalam bisnis studio foto atau production house, gaji kamerawan biasanya paling tinggi dibanding bidang lain. Di perbengkelan, mekanik berpengalaman biasanya juga mendapat gaji yang lebih tinggi daripada bagian-bagian lain.
           Sayangnya, para spesialis itu jarang menjadi pimpinan umum, karena keahlian mereka sangat khas dan khusus. Dalam kondisi itu akhirnya kemampuan dan pengalaman mereka lebih banyak terfokus kepada bagianya saja. Semakin sempit dan kecil.
           Dengan gaji yang lebih besar, seringkali para spesialis ini terjerembab di zona nyaman. Tetapi ingat, ketika pendapatan mereka berjudul gaji, artinya mereka adalah pegawai. Lalu, ketika kesadaran kebebasan finansial dan keinginan untuk berkembang datang, terfikirlah untuk menjadi pengusaha, kemudian pindahlah mereka dengan mendadak ke zona yang selama ini awam bagi mereka.
           Sebagian dari mereka merasa bahwa mereka pasti bisa menjadi pengusaha yang sukses. Karena mereka adalah produk dan kunci bisnis yang selama ini mereka geluti.

Bukan pengusaha
           Peran dan cakupan pekerjaan pengusaha jelas berbeda dengan peran dan cakupan peran pekerja spesialis.
           Pengusaha mengelola banyak hal sekaligus, termasuk sebagian kecilnya adalah yang di tangani para pekerja spesialis dibawahnya. Pengusaha mengelola permodalan, tata kelola operasional, tata laksana keuangan, memimpin pekerja-pekerja, mejalin jaringan pendukung baik dari suplier, pelanggan hingga pihak-pihak penguasa resmi dan tidak resmi.
           Pengusaha juga harus berkonstrasi kepada pemasaran, termasuk didalamnya adalah antisipasi perang dengan pesaingnya. Pengusaha tidak bisa mengabaikan proses perijinan dan segala bentuk legalitas atas peraturan yang berlaku.
           Benar bahwa uang penting, tetapi begitu menjalani bisnis dengan banyak orang yang terlibat, menangani manusia jauh lebih sulit dibanding mengelola uang itu sendiri.

Berlatih sebelum perang
           Pertempuran bisa ditulis dalam sebuah teori, apalagi sekadar sukses berbisnis. Banyak sekali buku-buku cara sukses berbisnis. Ada banyak referensi menjadi pemimpin yang ideal. Ada yang menyimpulkan dalam 7 langkah saja, bahkan ada yang menjamin sukses memimpin dalam hitungan menit.
           Tak terhitung banyaknya motivator yang mengadakan pelatihan-pelatihan bisnis dan kepemimpinan dalam hitungan jam. Ketika kita berada di ruang seminarnya, kita terhipnotis, seolah-olah memimpin dan berbisnis itu mudah. Tetapi begitu kembali kepada bisnis sendiri, kita bisa mati kutu tak tahu harus bagaimana.
           Bisnis adalah seni hidup. Seni ini tidak cukup dikuasai hanya dengan membaca atau ikut seminar sekali dua kali. Seni ini harus dialami sendiri, karena seni itu akan mengalir dalam darah kita dan membentuk pola yang berbeda-beda antara satu orang dengan orang yang lain. Seperti sidik jadi dan garis tangan, ada yang mirip tapi tak ada yang sama persis.
           Seperti kemampuan para spesialis. Seni bisnis ini pun baiknya dimulai sejak dini. Usia yang baik untuk memulai bisnis adalah ketika seseorang berusia 15 tahun hingga 20 tahun. Bagusnya segala bentuk gagal dan pembelajaran terjadi di usia itu, usia yang tak banyak berfikir dan mencari selamat. Usia yang nekat karena darah muda-nya.
           Selanjutnya usia pemantapan pada umur 20 hingga 30 tahun hingga masa keemasannya pada usia 30 hingga 35 tahun. Usia sesudah 35 tahun adalah titik balik. Semakin menurun atau semakin meningkat.
           Jika anda memulai bisnis pada usia diatas 35 tahun, pastikan jiwa dan pikiran anda persis seperti anda berusia 15 hingga 20 tahun. Tetap nekad dan tak takut bertaruh.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

tulisan ini sudah di terbitkan di harian waspada medan, pada tangga; 18 juli 2011, di halaman bisnis dan teknologi
Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
LoXeT Gen
AUTHOR
September 19, 2012 at 10:49 PM delete

inilah bukti kalau Keyakinan lah yang membedakan seseorang :)
Terima kasih tulisannya,, sudah membuat ku semakin bersemangat hehe. .
Saya meminta ijin Copy tulisan bagus ini di Catatan saya. Di http://loxet.blogspot.com/2012/09/spesialis-pengusaha.html

Reply
avatar