“Cuma Gitu Saja-nya!”


  3 tahun 3 bulan saya istirahat tidak menulis setelah 11 tahun secara berturut saya menulis di harian waspada medan setiap hari senin, yang saya mulai dari tahun 2000.
Kini sejak tanggal 26 Mei 2014 saya menulis lagi dan kali ini dimuat di harian Medan Binis, sebuah harian yang fokus pemberitaannya lebih banyak ke sisi bisnis.
Semoga tulisan-tulisan saya bisa memberikan inspirasi dan sekaligus mengunjungi para pelaku UMKM dimanapun berada.
Bismillah...


Tulisan ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis, Pada tanggal 26 May 2014.  siapa saja boleh mengcopy dan mengedarkannya, tentu saja dengan menyebut sumbernya.


















“Cuma Gitu Saja-nya!”
 (Bisnis sukses itu, ide awalnya sederhana)
ODONG-odong yang membawa wisatawan lokal dengan model mobil berkereta gandeng ternyata ada di hampir semua pelosok kota di Indonesia. Anak-anak hingga orang dewasa senang menaikinya, berputar keliling sambil menikmati keindahan kota. Kini bahkan odong-odong mulai menjelma dalam bentuk kereta gandeng bertenaga mesin sepeda motor dan variasi bentuk lain yang merupakan perkembangan dari konsep dasar odong-odong.
Keuntungan operasional 1 odong-odong per hari bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Jauh lebih menguntungkan daripada bisnis angkot. Bisa anda bayangkan berapa yang didapat si pemilik dengan mengkalikan jumlah hari operasional dan jumlah unit yang dimilikinya.
Ketika kesuksesan odong-odong mulai mengganggu pikiran banyak orang yang selama ini hanya menjadi penonton, mereka mengakui dalam batinnya bahwa konsep bisnisnya sangat sederhana. Orang Medan bilang, “Cuma gitu saja-nya!”.
Kisah lain adalah sukses seorang Kak Netty, pedagang sayuran di pasar pagi pinggir jalan di simpang Jl. Kapten Muslim Medan. Netty menyekolahkan 4 anaknya yang diantaranya sudah sarjana. Netty Sudah naik haji dan Netty sudah punya rumah permanen.
Kak Netty hanya perlu bangun lebih pagi dari kebanyakan orang, berebut sayuran yang dibawa pedagang dari Berastagi lalu menjualnya di tikar plastik yang ia gelar di aspal jalan. Jam 6 pagi dagangannya habis dan tinggal membayarkan modalnya ke si pedagang dari Berastagi tadi. Begitu setiap harinya.
Ketika para penonton melihat sukses Kak Netty, mereka terheran betapa sederhana sekali konsep bisnisnya. Orang Medan bilang, “Cuma gitu saja-nya!”.
Yang besar datang dari yang kecil, yang kaya datang dari yang miskin. Semuanya berproses, mulailah segera. Orang Medan bilang, “Cuma gitu saja-nya!”.
 
“Emang Cuma gitu saja-nya!”
Semua bentuk bisnis sebenarnya sangat sederhana. Prosesnya hanya berkisar memproduksi barang dan menjadi jasa perantara. Yang diperlukan hanya segera kerjakan apapun rencana bisnis anda dan nikmati proses jatuh bangunnya.
Para penonton, yang ingin kaya raya tapi tak juga segera menjadi pemain, memiliki pikiran yang berlawanan dengan para pemikir hebat kelas dunia. Para penonton sibuk memikirkan kompleksitas tingkat kesulitan, persyaratan, potensi kerugian dan potensi dukungan. Di sisi lain mereka ingin sesederhana mungkin bekerja. Kerja sedikit untung banyak! Jelas rumus itu tidak akan terjadi untuk pemula dimanapun! Pikiran komplek itu membuat pantatnya berakar di kursi penonton! Keahliannya hanya berkomentar! Tidak lebih. Dan mereka tetap miskin.
Para pemikir hebat kelas dunia seperti Plato, Copernicus dan Albert Einstein justru selalu membuat hal-hal rumit dan sulit menjadi sederhana dan mudah!
 
Lebih cepat satu detik, lebih maju satu langkah
               Juara renang biasanya hanya 1 jengkal lebih di depan daripada yang kalah. Juaran lari cepat hanya satu detik mendahului yang kalah. Begitu juga kompetisi bisnis dan teknik memenangkannya.
               Segeralah mulai bisnis yang anda pilih. Bagi pemula, tidak ada pilihan yang salah. Tidak ada pilihan yang tidak bagus. Karena sebenarnya bisnis adalah karakter. Bukan sekadar modal, barang dan pasar. Bisnis adalah jiwa yang harus dimiliki untuk memenangkan “dunia uang”.
               Anda harus menguasai teknik dasar pengelolaan diri dalam komunikasi, negosiasi, mengendalikan pemasok, pemodal dan pembeli. Anda harus menguasai pengelolaan diri dalam keuangan, mencari dan membelanjakannya. Semuanya berawal dari pengelolaan diri.
               Anda harus mengalaminya sendiri secara langsung, karena di Negeri kita ini tidak ada sekolah dengan kurikulum cara menjadi orang kaya.
 
Konsultasi; tj@cahyopramono.com
 


 



Previous
Next Post »