Kalau sudah kaya raya, anda mau apa? (niat dan alasan memulai bisnis)


tulisan ini sudah diterbitkan di
harian medan bisnis,
tgl 16 juni 2014
               Sebab seseorang berbisnis biasanya hanya seputar kemerdekaan finansial, tidak lebih.  Artinya, hanya ingin kaya raya saja. Sayangnya, alasan itu hanya akan memberikan rasa lelah yang luar biasa. Dan jika pun gagal, akan terasa sangat menyakitkan.

               Beberapa pengusaha yang sukses ternyata tidak hanya mengejar materi, tetapi dalam batinnya terselip niat kuat untuk ibadah. Mereka memberikan manfaat yang lebih besar kepada orang lain. Baik bagi pegawai, keluarga pegawai, pembeli dan supplier. Sebutlah bisnis dengan 50 orang pegawai, dengan rata-rata tiap pegawai beranak 1 orang plus istri/suaminya, maka bisnis itu sebenarnya sudah menghidupi 150 orang secara langsung. Bayangkan jika jumlah pegawai supplier/pemasok juga dihitung.

               Pada sisi lain, Ketika produk bisnis bermanfaat bagi pembeli, maka nilai ibadah yang terkontribusi akan semakin luas. Disinilah salah satu alasan mengapa, para pebisnis sukses menjalankan bisnisnya sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhannya.


ALASAN

               Seseorang tidak akan tergerak mengerjakan sesuatu jika tidak ada alasannya. Jikapun dilaksanakan, biasanya hanyalah sesuatu yang tiada bernilai dan cenderung berakibat kesia-siaan.

               Alasan menjadi kompas menuju tujuan akhir. Alasan adalah motivator yang efektif untuk memastikan seseorang memiliki energy yang cukup demi tercapai tujuan yang diharapkannya.

               Karena kekuatan alasan sangat berpengaruh terhadap kinerja dan prestasinya. Carilah alasan yang mendasar, hakiki, menyeluruh dan mulia.

 
ALASAN MULIA

               Ada 2 tipe pengusaha; yang tenang dan Bahagia serta pengusaha yang selalu terlihat susah. Secara ralita teksnis, cara kerja, sistem operasional manajemennya ternyata sama-sama dikerjakan oleh kedua pengusaha. Yang membedakan keduanya adalah hanya pada alasannya saja. Alasan mengapa mereka menjadi pengusaha.

Pengusaha yang terlihat susah hanya mencari kekayaan pribadi saja. Hari-harinya dipenuhi dengan target keuntungan, rasa khawatir rugi dan rasa khawatir ditipu serta semua hal yang bernuansa materialis.

               Pengusaha yang terlihat lebih Bahagia, memiliki alasan yang tidak dimiliki pengusaha yang terlihat susah. Mereka bukan minta kaya raya dalam doa-nya. Mereka mencari Ridho Tuhan YME. Mereka mengharapkan kekayaan yang lebih hakiki dari Tuhannya.

Ketika mereka menjalankan bisnisnya, mereka berharap bisa memberikan manfaat yang lebih besar kepada mahluk Tuhan lainnya. Mereka percaya, ketika mereka mendapat Ridho dari Tuhan YME, secara otomatis mereka akan mendapat bonus berupa kekayaan material. Disamping itu, mereka cenderung tidak sangat stress dan takut menghadapi tantangan bisnisnya, karena mereka percaya bahwa berjuang untuk Tuhan, akan mendapatkan bantuan yang tidak terbatas dari Tuhannya.
 
MAU APA?

               Suatu ketika dengan menghiba, seorang calon murid menghadap ke seorang biksu tua di sebuah padepokan agar dia diberi pelajaran bermeditasi. “Anda ingin apa?” Tanya Biksu, “Apakah anda ingin menjadi sakti?”. Si biksu mejelaskan bahwa dengan belajar meditasi, seseorang akan bisa terlihat sakti, bisa mengendalikan hujan, bisa berkomunikasi dengan binatang dan banyak sekali kesaktian lain yang berpotensi dimiliki seseorang yang belanjar meditasi.

               Si Murid menjawab, “ya, Mengapa tidak Biksu?, kan asyik bisa sakti begitu”. Lalu Biksu bertanya lagi, “Memang kenapa kalau sudah sakti?, Anda mau ngapain kalau sudah hebat? “

               Sejenak suasana sunyi, si calon murid masih terlihat bingung. Karena sejatinya, itu kesaktian bukanlah capaian akhir dari sebuah praktek meditasi. Ujung meditasi adalah tercapainya hubungan yang lekat dengan semesta, menyatu dan mendapatkan kesejatian hidup.

               Apalah arti menjadi sakti jika itu hanya setengah dari perjalanan menuju kesejatian hidup?
 

Konsultasi tj@cahyopramon
 

 

 

 
Previous
Next Post »