Paino VS Robert (Rahasia Merek Sukses)


Tulisan ini sudah diterbitkan di harian
medan bisnis, tgl 23 Juni 2014

mohon sebutkan sumbernya secara khusus
jika anda berkenan mengcopy-nya
BAYANGKAN anda sedang berada di bagian belakang rumah. Lalu, anak anda dari depan rumah berlari menghampiri anda dan mengatakan bahwa ada tamu yang bernama Pak Paino dari Tembung. Beriktunya anda memintanya untuk mengantarkan Pak Paino menunggu di teras sebelah kanan rumah. Sementara anda bersiap diri, anak anda datang lagi sambil menyebut bahwa ada tamu lain yang bernama Pak Robert dari Medan baru. anda memintanya untuk mengantar Pak Robert menunggu di teras sebelah kiri rumah. Kedua tamu anda tidak saling lihat dan tidak saling tahu, mereka ada di 2 tempat yang berbeda.

Sebelum anda menemui mereka, jika anda boleh memilih dengan jujur, siapa dulu yang ingin anda temui? Pak Paino yang dari Tembung atau Pak Robert dari Medan Baru?

Baiklah, jika anda ragu-ragu, coba saya bantu dengan beberapa pertanyaan berikut ini;

Menurut anda, siapa dari kedua tamu tersebut yang datangnya karena berniat meminjam uang dari anda? Siapa dari mereka berdua yang sudah 6 bulan nganggur dan datang mau minta kerjaan?  Siapa yang datang naik sepeda butut? Siapa yang pakai sendal jepit? Siapa yang pakai kaus lecek? Siapa yang sedikit bau dan panuan?

Saya tidak tahu, apa jawaban anda, tetapi saya sangat yakin salah satu dari tamu anda sedikit sial bahkan ketika anda belum menemuinya. Anda sudah bersikap dari hanya mendengar nama dan asalnya. Anda sudah memilih sebelum bertemu.

Jika Paino dan Robert adalah nama seorang salesman, maka salah satunya sudah gagal untuk menjual bahkan sebelum terjadi transaksi. Jika Paino dan Robert adalah sebuah merek, maka salah satunya sudah gagal sebelum dipasarkan.

5 kunci Membuat Merek.

               Pertama, pastikan kata merek yang anda pilih memiliki arti/makna yang positive, bersemangat dan memotivasi. Apakah anda akan membeli obat di apotik yang bermerek “Tuba Store Apoteek”?

Yang kedua, kata merek mengandung korelasi yang cocok dengan produk anda. Apakah pantas toko bunga dengan nama “Ucok florist”?. Apakah anda merasa haus ketika mendengar iklan sebuah minuman botol dengan merek “Badak”?. Pasti anda setuju nama “Badak” mungkin lebih cocok untuk produk traktor, atau sesuatu yang menonjolkan kekuatan dan sesuatu yang kokoh.

               Yang ketiga, nama merek idealnya bisa disebutkan oleh semua suku bangsa, sehingga bisa dipasarkan secara global. Jika nama Cahyo dijadikan merek, sepertinya akan gagal kalau dipasarkan di daerah Toba. Di sana, umumnya alfabet “C” dibaca dengan “S”. Kalau mereka bilang “Kunci”, mereka menyebutnya dengan “KUSI”. Kalau bilang “COCOK”, mereka menyebutnya dengan “SOSOK”.

               Yang keempat, buat kata merek tidak lebih dari 4 suku kata. Merek-merek besar tidak lebih dari 4 suku kata, sebutlah Mercy, Nokia, BMW, Audi, Google, Samsung, dan Medan Bisnis. Orang sumut jarang yang menyebut nama “Jalan Sisingamangaraja” dengan lengkap, kita sering hanya menyebutnya dengan “jalan Singa”, atau Cuma “SM raja”, seperti kita sebut “limpul” untuk “lima puluh rupiah”.

               Yang kelima, nama/merek usaha yang menggunakan nama orang semestinya orang yang memang benar sudah terkenal, seperti “Rudy Hadisuwarno” yang sudah terkenal dengan tata rambut dan salon. Jangan paksa menggunakan nama istri atau anak anda yang pasti belum terkenal dan teruji.

               Yang terakhir, saya mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat. Sungguh ini tidak disengaja dan hanya sebuah ilustrasi untuk tujuan pembelajaran.


Konsultasi; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »