Medan Punya Bika, Ambon Punya Nama. (kekuatan Merek)

TULISAN ini sudah diterbitkan di harian Bisnis Medan, tgl 14 Juli 2014.

PERHATIAN silahkan mengcopy dan mengedarkan tulisan ini, tetapi harus dengan menyebutkan sunbernya dan bukan hanya mengedit dan menyisipkan kata-kata "menurut cahyo pramono" saja. karena dalam hal ini saya bukan nara sumber tulisan anda, sayalah yang menuliskan artikel ini dan anda mengcopynya apa adanya.
 
                “SAYA mengelola pabrik sepatu mas, ada 6 pabrik di seluruh Jawa Timur” sebut seorang rekan pengurus Apindo Jatim dalam perjalanan bersama dari hotel ke Bandara Soekarno Hatta beberpa waktu lalu. “Tapi 90% merek yang kami produksi miliki orang lain, kami hanya memproduksinya saja” jelas rekan tersebut.          Ternyata rekan saya ini melayani produksi berbagai merek sepatu kelas dunia yang dipasarkan di Amerika, Jepang, Chili, India bahkan Eropa Timur.
                Sangat ironik ketika biaya produksi sepatu di pabrik seperti milik rekan saya itu, sebutlah hanya sekitar 100.000,- dan ketika beredar dipasaran –bahkan di dekat pabrik sepatu itu sendiri—harnganya menjadi 10 hingga 16 kali lebih mahal.
                Dalam kesendirian saya menunggu jadwal terbang, saya teringat satu desa pandai besi di desa kecil di daerah Tapanuli yang sudah menjadi sentra pengrajin sejak jaman penjajahan Belanda dulu. Mereka berpeluh keringat hingga banyak yang telilnganya menjadi pekak dan tuli. Dan seperti pabrik sepatu yang di jawa timur, mereka juga tidak memiliki merek dagang sendiri. Merek cangkul yang legendaris wilayah Sumatra utara sejatinya dimiliki oleh seorang pengusaha di Kota Medan yang tak sekalipun pernah kena panas besi yang membara untuk ditempa menjadi perkakas.
                Ketika harga eceran pisau tempahan ini di pasaran berkisar Rp.25.000,- para pengrajin itu hanya mendapat upah kerja antara Rp. 1.500 hingga Rp. 3.500 saja.
 
Modal Merek Doang
                Kisah nyata diatas adalah bukti salah satu kekuatan dan nilai sebuah merek. Biaya produksi sebuah produk bisa jadi sangat murah, tetapi ketika merek sudah diterima dan dihargai, harga jualnya menjadi sangat tinggi dan memberikan keuntungan yang berlipat ganda.
                Bahkan pada tahap tertentu seperti kisah diatas, pemilik merek tidak lagi harus dipusingkan dengan proses produksinya. Mereka bisa menyerahkan proses tersebut kepada pihak lain, dengan biaya yang relatif terjangkau dan janji margin keuntungan yang besar. Mereka hanya fokus membesarkan merek yang mereka miliki.
                Perjuangan membesarkan merek menjanjikan imbalan yang tidak sedikit. Dalam kehidupan keseharian kita, banyak contoh yang menunjukkan bahwa merek lebih bernilai dari sekadar produknya. Sebutlah penerbangan nasional, Garuda Indonesia -- dengan pesawat yang sama persis dengan operator lainnya-- mematok harga tiket yang jauh lebih mahal. Sebutlah beberapa hotel yang melabel merek internasional menyewakan kamarnya jauh lebih mahal dari hotel dengan label merek lokal.
                Kini banyak pemilik merek juga melebarkan sayapnya dengan cara menyewakan merek mereka. Mereka menyebutnya dengan pola franchise. Jika anda pemilik kedai kopi, apakah anda mengetahui bahwa kopi yang anda jual dengan yang dijual di Starbuck sebenarnya relatif sama. Tapi kenapa mereka bisa menjualnya dengan harga 10 kali lipat lebih mahal dari harga anda? Jawabannya terletak pada mereknya.
 
Bangun Merek Sendiri
                Ketika anda saat ini sudah melakukan proses produksi tanpa merek. Cobalah berfikir untuk menciptakan merek anda sendiri. Demikian juga bagi anda yang saat ini bergerak dalam bidang perdagangan dan distribusi, alih-alih hanya menjual dan mendistribusikan produk orang lain, mengapa tidak ada coba memulai merintis dan mengembangkan merek milik anda sendiri?
                Membangun merek memerlukan strategi, dan strategi yang paling ampuh adalah waktu. Merek anda tidak harus sukses pada jaman anda, seperti Honda yang semakin sukses pada generasi ke-3 dan seterusnya.
 
Konsultasi; tj@cahyopramono.com
 
 
 
Previous
Next Post »