MEMINDAHKAN HATI (Produk cita-rasa)

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 23 Februari 2015,di halaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.
                
Anthony -- mandor produksi di pabrik obat nyamuk – adalah lelaki yang tidak suka banyak perubahan. Dalam visi hodupnya, berubah itu telalu beresiko.
 Anthony sudah lama berlangganan Koran (sebutlah merek X). Ia sudah membaca Koran itu sejak ia mulai bisa mengeja alphabet. Ia membaca Koran yang juga dibaca Ayahnya dan seluruh keluarga besarnya. Baginya, tak perlu membaca Koran lain, karena ia merasa semua berita sudah ada di Koran langganannya itu.
                Minggu lalu saya melihat ada ada yang berbeda dari kebiasaannya. Saya melihat ia sudah berlangganan Koran merek Y di rumahnya. Sebuah perubahan yang luar biasa bagi saya. Anthony yang bahkan tak pernah merubah merek celana dalamnya seumur hidupnya, kini berubah. Ia memiliki pilihan. Ia punya dua Koran. Jika tidak segan, saya akan berteriak sekeras-kerasnya, menyerukan keheranan saya.
Rupanya, Ada cerita menarik dari Anthony. 4 bulan yang lalu, ia mendapat hadiah lucky draw dalam sebuah acara sosial didekat rumahnya. Hadiahnya adalah sebuah voucher berlangganan gratis sebuah Koran terbitan baru selama 3 bulan.
Tiap pagi ia menerima Koran gratisan itu. Ia mengaku selama seminggu penuh ia tidak membacanya sama sekali. Lalu di minggu kedua, ia mulai buka-buka Koran gratis itu. Awalnya hanya beberapa halaman, tapi lama-lama ia bisa menikmati Koran baru itu.
Memasuki minggu ketiga, Ia mengikuti tema-tema harian yang terus berbeda di Koran tersebut. Minggu keempat, Ia mendapati beberapa berita tidak dimuat di Koran langganannya. Kemudian ia melihat perbedaan sudut berita dan gaya penulisan yang lebih muda dan popular.
Ketertarikan Anthony kepada Koran gratisan itu bertambah menguat ketika 3 hari Koran langganannya tidak datang, karena petugas pengirimnya sakit, karena kecelakaan. Lalu ketika langganan gratis itu berakhir ia mulai merasa kehilangan, dan ia memutuskan untuk berlangganan Koran baru itu.

Sampling
                Bila sebuah produk dikenal karena cita-rasanya, pasti ada proses yang sedikit sulit dalam memperkenalkan diri pada awalnya dan ketika konsumen sudah terpikat dan berlangganan maka mereka akan juga sulit untuk berpindah kelain hati.
                Saya ingin menggambarkan mengapa konsep sampling –memberi contoh/tes/mencicipi—adalah langkah wajib untuk memprekenalkan produk baru yang berbasis cita-rasa. Karena konsumen tidak akan mengenal dan jatuh hati jika mereka tidak merasakan cita-rasa produk itu sendiri.
          Yang perlu diperhatikan adalah bahwa, jika produk itu dapat dikenali dengan sedikit contoh/sampel, maka konsumen hanya perlu sekali mencicipinya. Tetapi jika produk itu seperti Koran baru diatas, maka harus semua versi terbitan dicicipi oleh calon pelanggannya.
                Faktor pengulangan juga menjadi penting. Pengulangan yang berkelanjutan dalam hitungan lebih dari 40 kali, akan menjadikan habbit –kebiasaan—dan kebiasaan inilah yang akan mengantarkan pelakunya kepada ketergantungan.
                Konsep sampling tidak harus semuanya gratis begitu saja. Ada sebuah produk makanan yang menggunakan strategi dengan memberikan bonus 1 buah untuk pembelian 2 buah. Untuk produk tertentu, si pembeli tidak akan mampu menghabiskan ke-3 kemasan makanan itu dalam waktu cepat. Maka tentu saja si pembeli akan membagikannya kepada kerabat keluarganya. Dan pada saat itulah proses sampling sedang berjalan, dengan bantuan pembeli tadi.
Dan Anthoni yang asli Medan dan terbiasa dengan makanan yang pedas pun, kini sudah tiada mengeluh lagi jika makanannya cenderung manis, karena ia sudah beberapa waktu menikahi orang Jogja.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com


Previous
Next Post »