11-12 (Kemasan dan Harga Jual)

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 8 Desember 2014,di halaman 7. Di perbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

            ISTRI sahabat saya bermimpi bisa tidur di tempat tidur buatan Amerika yang namanya seperti nama Raja. Katanya enak dan produknya tahan lama. Konon bisa bertahan sampai 20 tahun. Wow… Saya jadi penasaran, karena saya pakai kasur buatan lokal yang ternyata sudah bertahan selama 17 tahun dan belum rusak.
          Lalu saya hubungi teman saya yang memproduksi kasur berpegas ini. Saya Tanya, apakah benar perbedaan kualitas itu? Jawab teman saya, “Bisa ya, bisa tidak”. Karena produk lokal memiliki banyak pilihan berdasar level kualitasnya. Artinya untuk produk lokal dengan kualitas per terbaik, bisa jadi kualitasnya lebih baik dari pada produk Amerika tersebut.
          Lalu saya Tanya mengapa harganya bisa beda jauh? Jawabnya adalah mereka ‘jual merek’. Merek yang dari Luar itu sudah lama dikenal baik oleh pasar walau sebenarnya kasur impor itu diproduksi di Indonesia. Hanya namanya saja dari Luar. Artinya semua bahan baku sudah ada tersedia di Indonesia dengan beberapa komponen yang merupakan produk import.
             Lalu saya Tanya lagi, apa benda merek lokal “A” dengan merek lokal “B” (maaf saya enggan menyebutkan merek tersebut). Kawan saya bilang, “Sebelas - Duabelas Pak”. Saya belum paham artinya, ternyata itu ungkapan untuk menyebutkan pernyataan bahwa bedanya sangat tipis.

Beda Tipis
       Berangkat dari produk kasur lokal, ternyata banyak yang beredar dengan kualitas yang ralatif sama. Bahkan ada beberapa produk yang di produksi oleh pabrik yang sama. Kesamaan mereka adalah penggunaan nama-nama berbau asing dan kalimat-kalimat berbahasa inggris, sehingga terkesan itu buatan asing.
         Ditambah lagi dengan gambar-gambar dan propaganda dari ahli-ahli tulang plus piagam-piagam penghargaan yang dianugerahkan kepada mereka tersebut, membuat kita bisa pusing untuk memilih mana yang lebih baik.
        Bagi kita yang anti produk lokal dan gandrung dengan kualitas produk asing, semua tampilan itu mengganggu dan berakibat kepada pemilihan produk yang terlihat seperti buatan asing.

Beda Tebal
      Kita, sebagai konsumen, tentu mendapat kesan tertentu atas semua tampilan dan bungkusan produk kasur tersebut. Tak mungkin kita bedah kasur yang sudah rapih itu sekadar ingin tahu jenis per yang dipasang dan jenis busa serta benang yang dipakai.
      Secara fisik, kelihatannya beda tipis saja, tapi harga-harganya beda tebal. Perbedaannya bisa jutaan rupiah. Kita sebagai konsumen pada umumnya akan lebih percaya kepada produk yang dijual dengan harga lebih mahal, apalagi dipajang di Mall besar. Karena ada filosofi harga tidak menipu. Lalu kita membeli produk lokal dengan harga asing.

Melawan 11-12
         Pengalaman sebagai konsumen atas produk kasur tersebut diatas semestinya menjadi pelajaran bagus bagi kita yang memproduksi dan memasarkan produk apapun. Pengalaman itu mengajari cara untuk mencipkatan kesan.
         Ternyata mahal itu sangat relatif. Mahal bukan tidak laku. Semuanya hanya masalah kecocokan dan kecocokan adalah perkara persepsi. Hanya masalah kesan. Artinya, membuat kemasan dan tampilan yang memberikan kesan berkualitas ditambah keberanian memberikan garansi adalah cara paling effektif untuk mempengaruhi kesan konsumen.
       Bisa saja orang bilang beda tipis 11-12, tapi dengan kemasan dan cara menyampaikan kepada public yang bijaksana, kita bisa menjual produk lokal dengan harga dan keuntungan seperti produk import. Tidak percaya? Lihat saja kini banyak diskon penjualan kasur hingga 70%. Apa mungkin mereka mau rugi? Untuk menghalalkan diskon itu, muncullah alasan,”Cuci Gudang”.


Konsultasi & Pelatihan tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »