Anak Cucu Kopi Tubruk (Inovasi Produk)

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 30 Maret 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

Bagi penggemar kopi kata Espresso adalah asal muasal kopi racikan. Dari Espresso inilah muncul racikan lain berupa Cappuccino, Macchiato, Americano dan latte. Secara sederhana kita mengenal kopi hitam, kopi susu dan berikutnya muncul sebutan Kopi Sanger dan Kopi Pancung.
Perubahan bentuk kopi dari kopi dasar itu terjadi karena kreatifitas para barista (peracik kopi). Dengan menambahkan susu seberapa persen terjadilah Kopi Latte. Dengan menambahkan susu dan krimmer jadilah Cappuccino.
Kisah anak beranak dari produk induk terjadi juga pada Nasi goreng. Kini, jika anda memesan nasi goreng di sebuah gerai makanan, biasanya akan ditanya, “Nasi goreng apa?”. Lalu petugas pramusaji akan menerangkan bahwa mereka memiliki nasi goreng ikan asin, nasi goreng kampung, nasi goreng cabai hijau dan entah apa lagi varisasi nasi goreng tersebut.
Kini, dodol yang beredar dipasaran sudah memiliki berbagai rasa, mulai dari dodol rasa durian, dodol rasa pandan, dodol keju, hingga dodol rasa bawang. Sama dengan bika ambon yang memiliki rasa baru berupa keju, pandan, dll.

Selera berbeda
           Berinovasi menciptakan produk turunan yang baru adalah teknik dasar untuk bisa melayani selera pasar yang terus bergerak dan berbeda-beda. Semua orang memiliki preferensi masing-masing. Tak bisa semua disamakan.
         Tuntutan perbedaan selera tersebut harus dilayani agar pasar tidak berpaling ke pesaing yang setiap waktu mengintip kekurangan kita dan segera merebut pasar kita.
      Kadang, perubahan-perubahan itu hanya perlu sentuhan sederhana saja. Tidak perlu perubahan besar. Seperti kopi yang hanya ditambahkan dengan susu dan krimmer. Seperti nasi goreng yang ditambah dengan rasa dan unsur lain. Seperti dodol yang hanya dicampurkan bahan perasa tertentu saja.
        Sekarang, coba pelajari produk yang anda jual, apakah sudah cukup menjawab tuntutan selera pasar? Apakah diperlukan penambahan variasi kecil? Apakah ada permintaan-permintaan dengan sedikit perbedaan dari produk yang anda jual?

Nilai jual
         Dengan menambahkan sedikit dan merubah sedikit, anda memiliki alasan untuk memberikan harga yang lebih mahal, karena anda sudah menciptakan perbedaan dari produk awal. Tentu saja, nilai jual produk anda semakin tinggi.
           Pasar akan merespon perubahan-perubahan produk itu sebagai nilai tambah. Nilai tambah adalah alasan yang baik untuk menjual lebih dan menjual lebih mahal.
       Perubahan dan variasi yang dilakukan juga sebagai cara untuk mendapatkan kentunan optimal. Bisa jadi, produk dasar yang perlu dirubah ini memiliki usia yang pendek. Sebutlah roti tawar, usianya hanya beberapa hari, tetapi ketika roti tawar ini dirubah menjadi roti kering, bukan saja terjadi perubahan produk, tetapi juga terjadi perubahan usia produk. Roti kering ini bisa bertahan hingga sebulan lamanya.

Penahan Persaingan
          Inovasi baru dari produk dasar bisa sekali menjadi alat untuk menahan persaingan. Persaingan pasar yang sedemikian kuat, perlu dihambat dengan penciptaan produk-produk turunan dan yang berfariasi.
          Lihatlah, banyak produsen rokok yang tidak bergantung kepada satu produk. Mereka menciptakan produk-produk lain dengan kelas kemasan dan bentuk yang berbeda-beda. Sebutlah pabrik Sampeorna. Mereka memiliki produk unggulan berupa rokok Dji Sam Soe, lalu memunculkan A-mild, lalu magnum, lalu Avolution dan sebagainya.
           Dengan memunculkan produk-produk turunan ke pasaran, pesaing akan berfikir ulang jika mereka akan mengeluarkan produk sejenis. Pesaing harus benar-benar nekat dan berani untuk memasuki pasar yang sudah dipagari dengan produk-produk yang berfariasi tersebut.

                                                                   Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com, @tj_cahyo


Previous
Next Post »