Bahasa Warna (Kemasan)

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 06 Oktober 2014, di Halaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

PEMBEDA yang paling pertama dikenal manusia adalah warna. Ketika bentuk dan suara muncul kemudian, warna akan berbicara dengan bahasanya. Dan kita memahaminya tanpa harus menggunakan kata-kata. Warna adalah cahaya dan cahaya adalah ‘nyawa’ kehidupan. Siang hari yang bercahaya akan lebih hidup dibanding malam yang gelap.
                
                Bahasa warna sedemikian kuat dalam berkomunikasi dengan konsumen. Karenya ketika sebuah produk disanding berjajar bersama banyak produk sejenis dari para pesaing, maka warna akan berbicara. Pada saat itulah warna yang tepat akan “terdengar” lantang dan “terlihat” seperti sedang mengacungkan tangan, meminta untuk dipilih.
             Semua warna akan memberikan rasa dan nuansa yang berbeda-beda. Nuansa itu akan memberikan pengaruh rasa yang juga berbeda-beda.

Panas dan Dingin
Secara umum, para ahli desain mengelompokkan 2 warna, yaitu warna panas (merah, jingga, kuning) dan warna dingin (hijau, biru dan ungu). warna panas dihubungkan dengan sikap spontan, meriah, terbuka, dinamis, memacu gerak dan menggelisahkan. Warna dingin dihubungkan dengan sikap tertutup, sejuk, santai, penuh pertimbangan dan damai.
Warna merah adalah warna maskulin, warna jingga terkesan bersih, membangkitkan selera, ramah dan hangat. Kuning penuh gairah, ceria dan terang, merah jambu mengesankan kewanitaan dan warna hijau melambangkan suatu yang tumbuh dan harapan, sedangkan warna biru memberikan rasa tenang dan kesunyian langit yang luas tanpa batas.
Bagaimana dengan produk anda, kira-kira ingin dikenalkan sebagai apa? Kesan panas atau dingin?

Mencicipi warna
Konon ada seorang peneliti di bandung yang melakukan survey kepada para ibu rumah tangga tentang pengaruh warna terhadap pencerapan. Kesimpulannya, para ibu tersebut berpendapat bahwa warna merah identik dengan rasa manis yang tertinggi, warna kuning memberikan rasa asam, warna biru terang dengan putih memberikan rasa asin dan warna merah-gelap dan hitam terasa pahit.
Saya rasa kini anda sudah bisa memilih warna kemasan apa yang cocok dengan produk dan harapan atas reaksi konsumen terhadap produk anda.

Kelas sosial dan daerah
          Warna elegan dan anggun hanya untuk kelas sosial yang relatif lebih tinggi. Untuk mereka yang kelas sosialnya cenderung lebih rendah, sentuhlah dengan warna-warna yang mencolok, cerah dan ‘ngejreng’.
  Di Sumatera Utara sepertinya warna yang mencolok adalah kuning pinang masak (chrome) atau warna merah dan di daerah Jawa adalah merah, kuning lemon dan biru tua.  
  Konon Bagi orang Itali, Singapura dan Amerika warna merah adalah warna yang bersih, sedang bagi bangsa Inggris, Belanda dan Swedia termasuk warna yang kurang disukai.
  Warna “biru” disukai di Inggris, dianggap warna maskulin di Swedia, tapi feminin di Belanda. Warna “kuning” dan “emas”, disukai sekali oleh negara-negara di Asia seperti Jepang, Malaysia, Filipina, Singapura dan Hongkong.

Jaman
            Setiap era akan diwakili oleh warna yang berbeda. Jaman perang dunia kedua warnanya cenderung redup dan abu-abu, semakin hari berubah menjadi lebih cerah hingga kini warna minimalis yang lebih berani, kontras dan segar.
            Kini, jika anda merasa belum sukses dengan penjualan anda, cobalah evaluasi kemasan produk yang sudah anda miliki. Mulailah dengan meminta pendapat orang-orang. Biarkan mereka memberikan masukan. Jika sudah ada kesimpulan, coba buat warna kemasan anda dalam beberapa pilihan. Uji lagi dengan meminta pendapat banyak orang. Ketika itulah, anda akan mendapatkan bahasa warna yang paling cocok untuk kemasan produk anda.


Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »