Becakap Saja Pun..! (Kewirausahaan)

Artikel ini sudah diterbitkan pada tanggal dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

ADALAH Sunardi, seorang konsultan tanggung yang sudah memasuki usia senja. Ia pernah berkarir dengan cemerlang didunia bisnis, hingga posisi puncak ia dianggap cukup sukses membawa keberhasilan bagi perusahaannya. Sejak masih di posisi kepala bagian (yang berarti 25 tahun yang lalu), ia berniat untuk membuat bisnisnya sendiri. Tapi hingga kini, impiannya itu tak juga terwujud.
Sunardi lumayan piawai mengantarkan para pebisnis yang menjadi kliennya menuju sukses dan besar, tetapi ia tetap saja hanya konsultan tanggung yang bahkan tak pernah mengurus sertifikasi kopentesinya. Dia bahkan tidak pernah meningkatkan kemampuannya dengan konsep-konsep terbaru.
Kini Sunardi hanyalah orang tua dengan produk masa lalu yang sedang keteter terbata-bata menghadapi hari ini dan masa depannya. Yang menjadi pertanyaan adalah, “kenapa ide memiliki bisnis sendiri tak juga segera terjadi?”

Hendak saja
               Sangat ironik ketika banyak orang pintar, berpendidikan tinggi, banyak pengalaman dan memiliki banyak kawan tetapi bekerja kepada seorang Boss yang dianggap kurang pintar, tidak berpendidikan tinggi, kurang pengalaman dan tidak memiliki banyak kawan. Para pekerja pintar itu terlena dengan gaji jutaan dan fasilitas yang nyaman. Gaji mereka jutaan, tapi  si Boss pasti bergaji Milyaran.
                Sejatinya, dalam hati para orang pintar ini ada terdetak peringatan bahwa semua gaji dan fasilitas itu hanya akan tetap mereka dapat ketika mereka dan Boss/pemilik bisnis itu sama-sama senang. Tetapi jika Cuma si Pintar saja yang senang, maka mereka sedang menunggu waktu alas sepatu Si Boss akan menendang pantat mereka.
               Pengingat dalam batin Si Pintar ini sering dijajah, sehingga mereka terus saja larut dalam kesenangannya masing-masing. Hingga usia menjelang magrib dan usia emas mereka terlewat, barulah menyesal. Berbisnis setelah pensiun potensi gagalnya 95%.
              Dibatin Si Pintar ini sering muncul keinginan untuk memiliki bisnis sendiri. Tapi kebanyakan orang Pintar itu kerjanya hanya mikir dan bercakap saja. Semakin tinggi sekolahnya, semakin pandai berfikir dan semakin pandai bercakap. Mereka semakin pandai berteori.
            Otak kita ini, semakin dipakai untuk berfikir, semakin liar. Hingga pada ujungnya kita menjadi penakut dan terlalu banyak pertibangan. lalu kita mencari alasan untuk menunda. Lalu menunda lagi dan terus menunda secara terus-menerus secara permanen.

Jago teori
                 Memulai bisnis memang benar memerlukan pertimbangan matang, tetapi bukan itu saja. Kita membutuhkan kenekatan yang cukup tinggi. Memang nekat dan mikir sedikit berlawanan. Tapi bisnis memerlukan praktek. Memerlukan eksekusi, bukan sekadar berpikir, berteori dan bercakap saja.
        Sungguh memprihatinkan ketika kampus-kampus kini mengajarkan bidang studi kewirausahaan, tetapi dosennya hanya lulus uji membaca literatur dan menghafal. Mereka lupa bahwa bisnis bukan sekadar teori, tetapi memerlukan praktek, memerlukan pengalaman pahit gagal, jatuh dan tumpur lalu bangkit lagi dan memanen sukses yang tertunda.
                Tulisan ini saya dedikasikan kepada beberapa penanya yang sekarang ini sedang menjadi dosen kewirausahaan, pekerja perbankan bidang penyaluran kredit, pimpinan unit bisnis dan pegawai negeri sipil yang bekerja di departemen yang mengurusi bisnis kecil dan menengah. Terutama kepada saudara Fairus di Tebing yang sudah 12 tahun menunda impiannya menjadi pengusaha.
            Pesan saya untuk mereka; “Stop terlalu pintar, stop mikir berlebihan, kerjakan saja sekarang! Anda akan mendapat pelajaran yang paling bagus yaitu kegagalan!” . “Lalu setelahnya terserah anda, mau bangkit atau masuk golongan pecundang yang hanya pandai becakap!”


Konsultasi& Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »