Belajar dari Pesta Malam Tahun Baru

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 5 Januari 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

KITA --para pelaku bisnis-- sebenarnya sangat bergantung kepada konsumen. Tetapi kita harus tahu cara memutarbalikkan fakta sehingga membuat para konsumen merasa memerlukan dan bergantung kepada Kita. Kita harus tahu bagaimana menguras kantong para konsumen dan sesudahnya mereka mengucapkan terimakasih kepada Kita.
Tanpa kita sadari, sebenarnya kita sudah dan sedang bersekonkol dengan seluruh jaringan bisnis di jagad raya ini. Secara bersama-sama kita berusaha mengepung konsumen dan mempengaruhi pikiran serta perilakukanya agar terus menjadi konsumen kita.
Contohnya; Setiap akhir tahun, sudah menjadi kewajiban yang tidak tertulis agar semua orang merayakannya dengan berbagai cara. Mulai dari ngumpul keluarga, pesta taman, hingga pesta di hotel-hotel besar. Bahkan merayakannya dengan cara gila seperti naik gunung atau menyelam pada malam pergantian tahun.
Sebenarnya itu bukan kewajiban yang diperintahkan oleh agama manapun atau oleh hukum negara manapun. Perayaan itu sudah menjadi budaya yang sebenarnya dibangun dan dikuatkan oleh orang-orang seperti kita.
Kita sangat berkempentingan atas perayaan itu, karena perayaan itu adalah pintu rupiah kita. Mulai dari makanan, sewa lokasi, peralatan pesta, salon, sound sistem, pakaian, sarana transportasi, hotel, hingga kembang api dan artis yang bernilai milyaran rupiah.
Karena nilai bisnis yang sangat besar, kita akan pengaruhi konsumen dengan memulai perayaan Tahun Baru itu sejak akhir November dan akan memperpanjangnya hingga awal Januari. Kita menghias toko kita dengan hal-hal yang mewakili pesona tahun baru. Kita sangat tahu warna dan gambar yang bisa mempesona para konsumen dengan menggunakan media massa, mulai dari koran, radio, TV, majalah, berbagai sarana promosi dari brosur, poster, hingga baligho.
Tak cukup dengan media promosi, kita juga akan mengarahkan banyak tokoh-tokoh publik untuk menjadi contoh dan menegaskan bahwa saran dan pesan kita. Orang-orang Kita –terutama yang bervolume besar—akan menampilkan gambar-gambar mimpi kebanyakan orang. Mereka atur fotografer hebat dan redaktur yang lihai mengatur kata-kata.
Pada akhirnya konsumen akan, berbusana, makan, minum, bersekolah dan hampir semua aspek hidupnya menuruti ‘perintah’ kita. Bahkan ada yang hanya mau melakukan perjalanan ibadah jika bersama kita.
Kita adalah pejuang pencari uang. Kita saling bersaing tetapi kita sejatinya bersekongkol dalam mengarahkan pikiran dan perasaan konsumen. Pesan kita sama; “Ayok Belanja, Belanja dan Belanja”.
Bagi yang tidak mengikuti saran kita, mereka akan merasa ketinggalan jaman, udik, gak gaul dan (maaf) kampungan. Perasaan “bersalah” itu akan mereka bayar dengan menjadi pelanggan kita dikemudian hari.

KEMASAN
                Kita --yang mengais uang dari perayaan malam tahun baru itu--, akan menjual tema-tema yang menarik, tata dekorasi yang menghipnotis, sajian panggung yang gemerlap serta pengisi acara yang membuat mata melotot hampir copot dari tempatnya.   Para konsumen akan bergembira, bangga dengan pakaian yang dibeli dari kita, dengan kendaraan yang dibeli dari kita dan semua hal yang dibeli dari Kita. Mereka akan bertepuk tangan, tertawa hingga mabuk kepayang lalu akhirnya mereka akan berterimakasih kepada Kita. Kita adalah pahlawan bagi mereka.
                Yang terakhir, benar bahwa serangan kita tidak akan mempan untuk semua orang. Ada 20 % penduduk bumi ini yang sangat bijaksana dan mampu mengendalikan dirinya. Tapi kita tidak perlu khawatir, masih ada 80% yang lain yang mudah untuk dikendalikan. Dan Itu bukan jumlah yang sedikit.


Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »