Cok, Kau Apakan Apanya Itu (Hukum Sosial dan Produk)


Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 17 Novwmber 2014 dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

   INI kisah nyata di Kota Medan. Seorang boss datang masuk ke kantor sekretasinya, sambil mendekat dia bertanya, “Eh, Siapa itu kemana ya?”. Lalu si sekretaris dengan cepat menjawab, “Ke Jakarta Pak”, dan lalu si Boss menjawab sambil lalu, “Oh.. Ok lah”.
            Aneh tetapi nyata, antara si Boss dan si Sekretaris sepertinya terkoneksi dengan koneksitas non verbal dan mereka paham bahwa yang di maksud “Siapa” tadi adalah orang yang sama dalam pemahaman mereka.
                Si Boss berlalu dan melewati staffnya yang sedang rapat, ia berkata, “Cok, Kau apakan apanya itu” sambil staffnya yang dekat dengan posisi gelas. Kebetulan gelas tersebut berdiri di pinggir meja dan hampir jatuh. Tanpa banyak pikir, si peserta rapat tadi segera memindahkan posisi gelas tersebut sambil berkata, “Baik Pak”. si Boss pun berlalu tanpa komentar apapun.
               Sekali lagi ada komunikasi yang sangat tidak jelas tapi jelas tersampaikan. Si Boss sama sekali tidak menyebut topik atau benda apa pun dalam kalimatnya (dalam hal ini adalah gelas) dan si Boss pun tidak menyebutkan dengan eksplisit perintah yang jelas untuk dikerjakan (dalam hal ini adalah agar gelasnya digeser karena berpotensi jatuh) dan si Boss juga tidak menunjuk objek pelaku yang dia perintahkan.

Hukum tak tertulis dan Produk.
                Kisah nyata diatas adalah satu bentuk realita yang sudah menjadi kesepakatan bersama dalam pertumbuhan kultural di seputaran Kota Medan dan Sumatera Utara khususnya. Dan itu adalah sebuah fakta yang harus disikapi dengan bijak ketika memasuki strategi pemasaran atas produk yang kita miliki. Ini yang sering saya sebut bahwa kita boleh sepintar Proffesor, tetapi untuk sukses sebuah komunikasi berbicaralah dengan bahasa yang dituju. Kita boleh go international tapi tetap memahami kultur lokal.
              Gaya komunikasi sebuah kelompok masyarakat adalah Hukum bersama yang tidak tertulis dalam suatu daerah biasanya sangat kuat dan kadang tidak mematuhi hal-hal yang dikehendaki oleh pemilik merek produk. Sebutlah rokok Gudang Garam Filter, di Sumatera Utara hampir tidak ada orang yang menyebutkannya lengkap persis seperti merek tersebut, mereka penyebutnya dengan nama “GP”.
               Gaya komunikasi terbangun menjadi budaya ketika gaya tersebut menjadi kesepakatan bersama dan digunakan secara berulang. Tidak ada rumusan baku yang eksak, tetapi ada kondisi-kondisi umum yang bisa dijadikan acuan.
   Misalnya dalam tataran pernyataan warna, sebagian orang menidentifikasikan warna merah dengan orang Tiong Hoa, warna hijau dengan kelompok Muslim, warna kuning untuk kelompok Budhis dan seterusnya.
               Dalam tataran atribut, rumah makan yang memajang kaligrafi huruf arab dianggap dan disepakati sebagai rumah makan yang halal. Dalam tataran asal, masyarakat kita cenderung lebih menghargai produk yang berasal dari luar daerah atau luar negeri.
   Dalam tataran kualitas dan harga, masyarakat percaya bahwa barang bermerek terkenal memiliki kualitas yang lebih baik dan mahal. Makanya istilah KW menjadi trend, untuk menyebut barang palsu dari sebuah produk bermutu yang harganya mahal.
                Dalam tataran lokasi, konon masyarakat meyakini harga-harga di Mall besar lebih mahal daripada di pasar tradisional. Harga di toko yang pakai AC lebih mahal dari pada toko yang tidak berAC.
                Yang terakhir, kenalilah gaya daerah pasar anda dan berkomunikasilah dengan bijak untuk kemenangan anda.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »