Ganti Kulit (Rebranding)


Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 30 Juni 2014, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

UNTUK penganut agama Islam, ada satu masa dimana mereka melakukan sebuah ritual keagamaan yang pada akhir prosesinya adalah menjadi “fitrah” seperti dilahirkan kembali. Yang dilakukan ular adalah mengganti kulit, sehingga terlihat tetap muda dan segar. Atau dalam  bentuk lain, seperti ulat, berubah menjadi kepompong lalu berubah menjadi kupu-kupu. Berubah penampilan.
Ketika jaman berganti, model berganti, generasi juga berganti, tentu merek juga akan telihat ketinggalan jaman. Ketinggalan jaman berarti tua, usang, lapuk dan uzur. Semua itu adalah tanda mendekati kematian, dan manusia secara umum tidak menyukai hal tersebut.
Perubahan merek juga bisa dilakukan jika produsen menghendaki perubahan persepsi atas produknya. Mungkin contoh sederhana adalah ketika penyanyi cantik Mulan Kwok, merubah dirinya menjadi Mulan Jameela. Orang yang sama dengan nama berbeda jelas memberikan kesan yang berbeda.
Perubahan merek, semestinya bukan sekadar perubahan nama dan logo, tetapi haruslah dipertimbangkan perubahan kesan dan citra secara holistic dalam cakupan perubahan kemasan, budaya dan perulaku pelayanan, nilau visual produk, gaya penyampaian dan distribusi sejauh tidak merubah nilai legalitasnya.
Pada dasarnya, merek yang terposisikan dan dikembangkan dengan baik akan memberikan nilai pertumbuhan yang berkesinambungan bagi perusahaan dan memposisikan kelas yang lebih premium serta menjadikan sebuah produk lebih mampu menahan serangan persaingan.

Pertimbangan
Mengingat nilai penting sebuah merek – bisa bernilai 70%-90% dari nilai saham—maka perubahan merek harusnya tidak dilakukan dengan sembarangan. Cobalah pertimbangkan hal-hal berikut;
    Pertama, relavansi. Jika tuntutan jaman sudah mendesak, dengan indikator kesan yang muncul adalah ketinggalan jaman, maka lakukanlah. Tetapi jika merek masih muda dan berusia kurang dari 3 tahun, seyogyanya tidak usah dirubah.
    Kedua,  kompetisi. Jika persaingan menuntut agar merek anda harus terus muda dan lebih maju.       Ketiga, globalisasi. Ini dipertimbangkan jika cakupan pasar semakin meluas dan mengglobal. Dimana pelanggan anda sudah mulai melebar dari sasaran domestik/lokal pada waktu awal peluncuran.
     Yang ke empat; jika terjadi akuisisi dan pengembangan inovasi. Akuisisi berakibat kepada tuntutan para pemilik saham untuk mencantumkan namanya dalam produk. Dan ketika terjadi inovasi-inovasi baru, maka sangat perlu upaya rebranding dilakukan.
      Kelima; aspek moral dan reputasi. Jikalah moral pegawai secara menyeluruh sudah turun dan reputasi pasar semakin jatuh, upaya rebranding tidak bisa diabaikan. Jangan berubah jika perubahan itu hanya sekadar karena ingin berubah, tanpa kepentingan yang mendasar. Pertimbangkan juga, apakah perilaku pasar yang sudah ada akan berubah dan menjauh?
Perubahan yang baik adalah yang mendekatkan diri kepada alam pikiran pelanggan. Bukan menjauh.

Aspek perubahan
Perubahan merek atau setidaknya upaya merevitalisasi merek, bisa saja bervolume besar atau hanya evolusi kecil. Baik berupa identitas merek, bentuk kemasan, memutakhirkan data informasi penjualan, seragam pegawai, dekorasi interior, display produk,  hingga tampilan situs internet.
Dan semua perubahan selalu membawa akibat baik positif maupun negatif. Untuk meminalkan resiko perubahan, sebelum terjadi perubahan, baiknya dilakukan semacam audit, penelitian dan perencanaan perubahan yang matang.
Perencanaan perubahan harus menyeluruh dan detail, bahkan sangat disarankan untuk mempertimbangkan faktor waktu perubahan tersebut, mengukur potensi pengaruh external dan potensi keuntungan komersialnya.
Yang terakhir, perubahan adalah bahasa dasar yang harus terjadi pada apapun didunia ini. Semua aksi untuk tetap dan tidak berubah adalah bentuk perlawanan terhadap Sunatullah.       Melawan Sunnatullah sama dengan bunuh diri sia-sia.


                                                                                                        Konsultasi; tj@cahyopramono.com


Previous
Next Post »