Ganti Nama (Brand)


Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 2 Maret 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

 SALAH satu ciri orang modern adalah simple dan singkat. Mereka males untuk bertele-tele. Sepertinya, jika tidak singkat terasa repot dan mengeluarkan energy yang besar dengan sia-sia.
        Dengan cara berfikir simple itu, kini banyak barang yang sekali pakai. Tak perlu mencuci, tak perlu menyimpan dan tak perlu repot. Lihatlah kini orang lebih suka menggunakan kertas tissue dari pada lap makan. Para orang tua lebih suka memakaikan celana sekali pakai kepada anak bayi-nya. Bahkan ada juga celana dalam yang sekali pakai.
                Dalam menyebutkan sesuatu, rasanya teralu panjang dan tidak efisien ketika kita tidak menyingkatnya. Kata PematangSiantar, terasa sangat panjang, sehingga orang-orang umumnya menyebut Siantar.
                Kita jarang yang menyebut nama “Jalan Sisingamangaraja” dengan lengkap, kita sering hanya menyebutnya dengan “jalan Singa”, atau Cuma “SM raja”. Seperti kita juga sebut “limpul” untuk kata “lima puluh rupiah”.
              Ke-simpelan itu kadang disebut dengan minimalis. Sederhana tapi indah berkelas. Minimalis ini dipakai juga oleh Presinden Amerika John F Kennedy, untuk mempermudah penyebutan nama presidennya, mereka menyingkat nama tersebut menjadi JFK.   
         Nama Susilo Bambang Yudhoyono, tidaklah mudah untuk diingat, tetapi ketika ia memunculkan singkatan yang hanya terdiri dari 3 suku kata “SBY”, nama panggilan tersebut menjadi lebih bagus dan mudah diingat serta mudah disebutkan.

Aplilasi dalam Merek.
Lihatlah, ternyata merek-merek yang terkenal dan besar tidak lebih dari 4 suku kata, sebutlah Mercy, Nokia, BMW, Audi, Google, Samsung, Toyota, Suzuki, Mazda, CNN, BBC, NBC dan masih banyak yang lain.
        Artinya, jika ingin mudah dikenal, mudah dihafal dan mudah disebut, buatlah merek anda dengan kata yang kurang dari 4 suku kata.
         Nama yang menjadi merek diri seperti Susilo Bambang Yudhoyono adalah benar memiliki makna yang indah, baik dan arti kata tersebut merupakan doa-doa yang mulia. Tetapi secara praktek, nama itu terlalu panjang. Ada 9 suku kata. Artinya sulit bagi orang-orang untuk mengucapkannya.
            Demikian juga dengan nama Joko Widodo. Nama ini terdiri dari 5 suku kata, tapi orang masih menganggapnya terlalu panjang. Sehingga dipendekkan dengan kata Jokowi. Yang lebih ekstrim dari penyingkatan itu adalah kata JK untuk nama Jusuf Kalla. Padahal Jusuf Kalla sudah terdiri dari 4 suku kata.
               Apakah anda mengenal penyanyi dan penulis lagi terkenal bernama Krisman Rahardi?, saya yakin anda akan sulit mengingatnya. Bagaimana kalau dengan nama ini; “Chrisye”?. Nah, pasti anda lebih kenal dengan sebutan Chrisye daripada Krisman Rahadi.
              Mungkin sama dengan nama Virgiawan listanto. Apa anda mengenalnya? Saya yakin anda lebih  mengenalnya dengan Iwan Fals.

2 dan 3
             Dalam psikologi penyebutan nama, ternyata 2 atau 3 suku kata jauh lebih  mudah disebut dan dinikmati daripada yang 4 suku kata.
Sebutlah “Mercedes Bens” yang walaupun sudah terdiri dari  4 suku kata, tetapi masih terasa panjang sehingga di singkat dengan Mercy.
Jika melihat contoh merek-merek besar seperti Nokia, BMW, Audi, Google, Samsung, Toyota, Suzuki, Mazda, CNN, BBC, NBC.

Berubah
             Sampai kini, tiada satupun undang-undang diseluruh dunia ini yang melarang seseorang atau satu bentuk usaha untuk mengganti namanya. Artinya. Jika anda merasa bahwa nama anda atau merek anda terasa kurang pas. Silahkan saja anda menggantinya. Tentu dengan juga mempertimbangkan unsur makna, kemudahan penyebutan serta daya tariknya.
                Selamat mencoba.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com


Previous
Next Post »