Gengsi Itu Mahal

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 20 Oktober 2014, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

             JIKA terpaksa, anda pasti bisa saja tidur di mobil atau di Masjid, tetapi banyak orang memilih tinggal di hotel yang bahkan memilih harga kamar yang tidak kurang dari lima juta rupiah dalam satu malamnya.
                Memang kalangan kelas sosial tertentu justru memilih untuk tinggal di hotel yang dikenal mahal. Mereka mencari gengsi, mereka mencari pengakuan bahwa mereka cukup kredibel dalam keuangan. Mereka meyakini bahwa bisa “jatuh merek” jika dikenal oleh public bahwa mereka tinggal di hotel murah.
                  Sekedar pengetahuan, biaya operasional kamar yang harga jutaan itu dalam satu malam itu sebenarnya kurang dari Rp.200.000,- saja.
             Kendaraan mewah dan mahal dalam bentuk mobil dan sepeda motor besar sudah banyak telihat di Pulau Sumatera, padahal semua orang tahu, hampir  tidak ada jalan mulus dan panjang untuk memacu kendaraan tersebut. Tetapi orang masih tetap membelinya, hanya sekadar untuk nampang jalan pelan di kemacetan kota. Itu juga karena faktor gengsi.
                 Dalam satu pesawat terbang, ada beberapa kursi yang dijual dengan harga jauh lebih mahal dibanding yang lainnya. Katanya itu kelas bisnis atau kelas eksekutif. Pembeda kelas itu hanya pada ukuran kursi yang lebih nyaman dan beberapa tambahan pelayanan sederhana. Pada intinya, tetap saja semua penumpang di kelas apapun akan sampai pada waktu yang sama.
              Ketika kita bandingkan harga tiket penerbangan Garuda dan penerbangan murah lainnya, secara teknis sebenarnya tidak banyak perbedaaan. Pesawatnya relatif sama, tetapi disamping faktor keunggulan pelayanan, Garuda menjual gengsi.

Jual Gengsi
                Secara mendasar, manusia adalah mahluk yang ingin dirinya selalu unggul dan hebat. Inilah rahasianya. Merek-merek yang tekenal, bukan saja menjual kualitas, tetapi sebenarnya menjual gengsi. Dan orang-orang membutuhkan gensi tersebut.
                    Nah, kita sebagai pengusaha, semestinya melihat realita ini sebagai peluang besar untuk bisa menggaruk keuntungan yang sebesar-besarnya.
                     Teknik menjual gengsi sangat sederhana. Yang penting adalah bahwa semua produk dan pelayanan yang diberikan seolah-olah hanya untuk kelas tertentu saja. Jual dengan harga mahal. Dan yang paling penting adalah bahwa fasilitas mahal itu dipamerkan kepada banyak orang. Sehingga membuat perasaan berbeda, membanggakan dan istimewa.
               Sebutlah pembedaan lokasi pelayanan, seperti para penumpang pesawat terbang kelas premium diberikan tempat tersendiri, mereka antri pada loket yang khusus, diberi tanda khusus dan semuanya terlihat khusus.
               Ketika harga jual tinggi, tentu biaya untuk memperbaiki kualitas selalu tidak menjadi masalah. Artinya, seiring dengan gengsi yang terbentuk, tingkat penjagaan kualitas produk pasti akan lebih mudah dan angka keuntungan pasti semakin baik.
               
“KW”
              Sekali waktu seorang supervisor penjualan barang perhiasan iseng-iseng memainkan perasaan gensi pelanggannya. Untuk 2 buah gelang yang sama persis mutu dan mereknya, ia sandingkan berdampingan dan ia tandai dengan 2 label harga yang berbeda, satu yang harga sebenarnya dan satu lagi diberi harga 70% lebih mahal. Dan anda sudah bisa membayangkan, ketika ibu-ibu yang datang dengan segera memutuskan memilih gelang yang pertama. Tanpa meminta diskon.
         Demi gengsi yang penting itu, akhirnya banyak muncul produk KW, produk tiruan yang dikenal mirip dengan aslinya. Ada KW1, KW 2 dan seterusnya. Mereka yang mengejar gengsi, sangat senang dengan produk KW itu, karena harganya jauh miring daripada aslinya, toh pada sekilas pandang, produk KW itu terlihat persis seperti merek aslinya.


Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »