“Gorengan Angin” (diferensiasi dan penempatan melalui kemasan)


Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 22 September 2014, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.


SEKIRA tahun 1993, LUN IDRIS, seorang praktisi kuliner, memproduksi keripik kentang dengan merek Berastato. Karena keahliannya, keripik ini masuk katogori lezat, ranyah, garing dan tidak berminyak. Beratato diproduksi dengan berbagai rasa, dari rasa original, rasa rendang padang hingga rasa soto ayam.
Bermula dari kawan dan kerabat dekat, pemasaran keripik ini terus berkembang hingga masuk ke toko-toko swalayan. Sambutan positif pasar tidak serta merta mebuatnya sukses dan menuai keuntungan besar. Setelah masa tertentu, jumlah produk yang retur (kembali) semakin hari semakin besar. Kasus pengembalian barang yang selalu terjadi adalah karena keripik yang remuk dan keripik yang melempem -masuk angin-.
Ternyata masalah utamanya adalah kemasan. Brastato dibungkus dengan plastik transparan yang teknik penutupannya menggunakan alat sederhana dan mudah bocor. Inilah yang membuat Brastato gampang masuk angin.

Gorengan Angin
Istilah ini adalah ungkapan untuk menggambarkan upaya superlatif meningkatkan level kualitas dengan tindakan-tindakan sederhana namun berkesan.
Kemasan brastato berisi lebih banyak dengan harga lebih murah dibanding produk sejenis keluaran pabrik dari jawa. Produk pabrikan itu dibungkus dengan kemasan yang tidak transparan. Akibatnya, calon pembeli tidak bisa melihat realita bahwa di dalam kemasan gembung tersebut berisi keripik yang lebih sedikit.
Kemasan keripik pabrikan itu dikemas dalam bungkus yang gembung ditiup angin dengan penutup yang rapat. Sehingga, produk ini tidak mudah masuk angin dan yang paling penting adalah terhindar dari perilaku latah dan iseng para calon pembeli yang suka mengetes kerenyahan keripik dengan memencetnya. Berastato yang tidak gembung dan transparan menjadi korban iseng dan latah calon pembeli yang suka memencet dulu keripiknya dan ketika mereka mendengar dan merasakan kerenyahannya, mereka baru akan memutuskan untuk membeli. Sayangnya, si pembeli akan mengambil kemasan lain bukan yang sudah dipencetnya tadi. Coba banyangkan kalau dalam 1 hari ada 30 orang yang iseng memencet-mencet keripik itu.

Fungsi Kemasan
            Pengalaman Lun Idris diatas adalah realita bisnis dalam hal kemasan. Fakta itu membuktikan bahwa kemasan sangat penting untuk diperhatikan.  Kemasan secara fisik adalah pelindung produk dari benturan, gesekan, guncangan, hentakan dan bahan berbahaya lainnya.
Kemasan juga sebagai “the silent sales-man/girl” karena mewakili ketidak hadiran pelayan dalam menunjukkan kualitas produk. Karenanya kemasan harus informatif dalam hal jenis produk dan kegunaannya, sampaikan apa adanya dengan jujur mengingat faktor keselamatan pembeli.
 Kemasan adalah wajah yang mewakili pesona produk, sebab kemasanlah yang dilihat pertama kali sebelum pembeli menggunakan produknya. Kemasan harus menampilkan citra produk pada segmentasi pasar pemakainya. Perhatikan imajinasi, selera, dan fantasi si pemakai.  Kemasan menerjemahkan siapa pemakainya, status sosial, dimana dan jenis perilaku seperti apa produk tersebut dipakai.
Kemasan mestinya didesign sesuai tujuan pemakaiannya, Misalnya kemasan untuk individu berbeda dengan kemasan untuk keluarga.kemasan keluarga juga mempertimbangkan jumlah rata-rata keluarga yang umum pada saat diluncurkan dan pertimbangkan kebiasaan orang modern yang lebih menyukai kemasan yang praktis, mudah dibuka, disimpan atau gampang dihangatkan dengan microwave.
Pertimbangkan kenyamanan pemakai. Beri rasa nyaman jika disentuh, permukaannya tidak melukai, lentur saat digenggam, mudah dibersihkan, mudah disimpan, stabil bila diletakkan dan sesuai dengan tempat penyimpanan secara umum. 
         Benar bahwa investasi pada kemasan memakan anggaran yang tidak sedikit, tetapi yakinlah bahwa kemasan adalah bagian dari produk itu sendiri.


Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopraamono.com
Previous
Next Post »