Hari ini Harga Bensin hanya Rp. 4.000,- (Takaran Produk)


Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 24 November 2014, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

           JOKOWI terpaksa menimang buah simalakama. Dengan segala keterpaksaan Ia harus memutuskan menaikkan harga BBM. Di makan Ibu mati jika tidak dimakan Ayah mati. Sebuah keputusan pahit dan pasti direspon dengan negatif.
                Rentetan kenaikan harga itu akan berbuntut biaya produksi yang meningkat, hingga pada ujungnya adalah harga jual yang naik. Artinya, pil pahit itu tidak saja ditelan oleh Jokowi, tetapi dialami semua oleh produsen yang terhubung secara lansung dan tidak langsung dengan kenaikan harga BBM. Sudah daya beli menurun, biaya produksi juga naik. Jika itu menjadi masalah. Cobalah trik berikut ini.

Takaran
             Daya beli konsumen adalah pertimbangan penting ketika membuat takaran kemasan. Apalagi ketika kualitas produk sudah diterima pasar tetapi maslah harga menjadi sensitif bagi konsumen.
Kita sangat memahami bahwa harga jual sebenarnya terkoneksi dengan takaran produknya. Pasar secara umum menyadari bahwa membeli dalam jumlah banyak mestinya akan lebih murah dibanding dengan membeli dengan jumlah yang sedikit.
Jika ada variasi takaran produk, maka konsumen merasa mendapatkan kebebasan untuk memilih ukuran takaran sesuai kebutuhan dan kemampuan kantongnya.
Jika tidak sanggup beli 1 liter, beli saja ½ nya. Jika tidak ada uang Rp.8.000,- bayar saja yang ukuran Rp.4.000,- Mudah kan?
        Jadi, tidak salah untuk membuat banyak variasi ukuran takaran kemasan. Karena daya beli konsumen tidak sama. Lagian, tidak semua orang akan menggunakan atau mengkonsumsi produk kita langsung dalam takaran yang besar.
               
Biaya kemasan
               Berapapun isi kemasan, tetap saja ada biaya kemasan. Konsekuensi logisnya, biaya kemasan akan membesar dibanding isi kemasan itu sendiri. Hukum dasarnya tetap sama, makin banyak yang dibeli, makin murah hitungannya.
           Jika menggunakan shampoo sebagai contoh, membeli  ukuran 1 liter akan menjadi lebih murah dan lebih menguntungkan dalam bentuk takaran dibandin ukuran sachet. Konsumen sering merasa sudah sangat beruntung dengan kemasan sachet itu. Mereka pikir sudah berhemat dengan hanya mengeluarkan Rp.500,- saja.  Padahal mereka harus menanggung beban yang lebih besar. Lagi-lagi konsumen lebih mudah dipengaruhi oleh bentuk kemasan daripada yang sebenarnya.
            Variasi kemasan berhubungan langsung dengan penambahan biaya. Mulai dari biaya kemasan itu sendiri hingga biaya paking box untuk distribusi. Belum lagi pertimbangan ukuran kendaraan distribusi dan ukuran gudang penyimpanan.

Upsale
                Bagi pihak penjual, Upsale adalah istilah untuk menaikkan volume jual. Karena semakin banyak yang terjual, semakin besar potensi keuntungan kita. Nah, ketika kita memiliki beberapa ukuran takaran produk, maka sangat bagus untuk merangsang terjadinya pembelian dalam volume takaran yang lebih besar.
                Jika harga sebuah produk ukuran 1 liter bernilai sebutlah Rp.10.000,- maka jangan serta merta memberikan harga Rp.5.000,- untuk ukuran takaran ½ liter. Terlepas dari faktor modal dan biaya produksi, cobalah pertimbangan faktor psikologis harganya. Juallah dengan harga yang lebih mahal dari nilai ½ tadi. Misalnya menjadi Rp.6.500,- atau Rp.7.000,- karena itu menstimulasi konsumen untuk merasa rugi jika hanya membeli kemasan yang hanya setengah. Mereka akan merasa lebih beruntung dan berhemat jika membeli untuk ukuran yang 1 liter.
                 Yang terakhir, ada intermeso tentang cara orang Medan mengantisipasi buah Simalakama. Kuncinya, tak usah ditelan, tak usah dibiarkan. Pilihannya adalah dijual saja. Ibu selamat, Bapak selamat dan kita dapat uang. Asyik kan?
               
Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »