Kami Tidak Serakah (Memposisikan Citra Bisnis)


Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 1 September 2014 dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya 

SAMPAI minggu lalu, saya pikir bus yang berkeliaran di jalanan kita itu impor asli secara utuh dari luar negeri, baik dari Jerman, Jepang atau Korea. Ternyata lebih dari 90%-nya adalah karoseri dalam negeri. Dalam obrolan singkat saya dengan Bang Chandra --direktur yang mengelola angkutan bus Antar lintas Sumatera--, saya baru tahu ternyata badan bus-bus yang bagus itu dibuat di Indonesia.
Impor bus utuh dari luar negeri sangat mahal dan kita bisa lihat dan buktikan bahwa karoseri dalam negeri sangat tidak kalah dibanding dari luar negeri. Rancang bangun yang aerodinamis, mekanial engineringnya yang kompak, panel kendali yang ramah pemakaian dan kokoh materialnya.
Dari puluhan pabrik karoseri di Indonesia, ada 13 pabrik karoseri bus unggulan. Mereka berada di Kota Bogor, Kota Salatiga, kota Magelang, Pasuruhan, Medan, Tangeran, Malang, Madiun Ungaran dan Kota Malang.
Dari ke-13 unit pabrik itu, ada 1 yang saya bilang paling unik. Pabrik ini berada di Magelang. (selanjutnya saya akan menyebutnya pabrik magelang). Keunikan teknik bisnis pabrik magelang ini adalah bahwa mereka hanya menerima order berdasarkan kapasitas maksimal kemampuan mereka saja. Mereka tidak serta merta mau menerima order berapapun jumlahnya. Mereka akan menerima pesanan dengan sistem antrian. Artinya, jika pabrik magelang ini hanya sanggup menyelesaikan 10 unit bus dalam 1 bulan, maka order yang ke 11 akan disetujui pada bulan selanjtunya. Sehingga daftar antrian menjadi panjang dan para pemesan bus harus rela antri. Konon bisa menunggu hingga hingga hitungan tahun.
Konsekuensi logis dari teknik deal bisnis ini, pabrik magelang dikenal sebagai pabrik sombong. Karena mereka seoalah menolak rejeki.  Apalagi dengan sistem pembayaran yang termasuk kaku jika dibanding karosri yang lain. Pembayaran hanya terjadi 2 kali. Saat pemesanan dan pada hari penyerahan bus yang sudah jadi. Sementara karoseri lain bisa kredit hingga bebera waktu setelah bus diserahkan.

Sombong?
            Walau di cap sombong, tapi pemesanan terus saja tiada henti. Mengapa demikian? Rasanya kesan sombong itu hanya sekadar labelisasi yang disematkan oleh para pemesan yang tidak bisa memesan dalam waktu segera dan tidak mendapat harga diskon plus fasilitas kredit.
         Realitanya adalah bahwa pasar karoseri masih gandrung kepada produk-produk pabrik magelang. Pasar mengakui kelebihannya. Orang-orang yang berkecimpung dalam dunia transportasi bus, akan langsung tahu dari sekelebat melihat bus produksi pabrik malang ini.
            Realitanya adalah bahwa dengan pembatasan jumlah pesanan sesuai dengan kemampuan produksi membuat hasil karoseri tidak sembarangan. Rancang bangun yang modern, model yang mengukuti selera pasar, detail yang bagus, finishing  yang halus dan secara umum memuaskan.
           
Berposisi pada Kualitas
          Para pemesan karoseri sebenarnya sangat memahami bahwa pembatasan pemesanan berakibat langsung kepada kualitas. Semua orang tahu, jika terlalu banyak order dengan waktu terbatas, maka pengerjaannya juga cenderung sembarangan. Produk masal pasti berbeda dengan produk tailored made (pesanan khusus).
         Ketika kualitas terjaga, harga jual juga menarik. Dan orang-orang akan tetap membeli karena harga “tetap berbicara”.
           Konon, pemilik pabrik magelang suka “merendah” dengan mengatakan, “Kami tidak serakah”. Memang rejeki itu urusan Tuhan, benar kita harus mengejarnya, tetapi keserakahan tidak menghasilkan kebaikan. Jadi, jangan asal terima banyak order, kadang tidak baik akhirnya, ketika kita tidak mampu berkomitmen.

       
                                                                                       Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com






Previous
Next Post »